I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 22


Delavar kembali memusatkan perhatian pada Papa Max. “Jika kau tak mau menjawab pertanyaanku yang selanjutnya dengan jujur, maka aku akan mengeksekusimu seperti yang disarankan oleh saudaraku,” ancamnya. Menarik sudut bibir sebelah kanan hingga wajahnya yang manis tersamarkan dengan raut sinis khas keluarga Dominique.


Papa Max membalas tatapan Delavar. Dia tak takut sedikit pun. Sudah sering juga menghadapi pebisnis yang bahkan lebih kejam saat memperlakukan dirinya yang selalu menunggak membayar hutang akibat judi.


“Untuk apa kau menjebak Amartha? Apa tujuanmu?” tanya Delavar. Itu adalah inti terpenting yang sangat ingin dia ketahui.


“Kau berani memberiku apa jika ku jawab dengan jujur?” Papa Max balik mengajukan pertanyaan. Harus ada yang menguntungkan bagi dirinya jika memberikan sebuah informasi.


“Kebebasan.”


“Cuih!” Papa Max meludah hingga terjatuh tepat di depan ujung sandal yang dipakai oleh Delavar. “Aku tak butuh kebebasan, yang aku butuhkan hanyalah uang.”


Delavar dan Dariush menggelengkan kepala bersamaan. Ternyata pak tua itu cukup bodoh juga. Lebih memilih uang dibandingkan kebebasan.


“Fine, aku akan memberimu uang. Berapa yang kau inginkan?” Delavar menyetujui permintaan Papa Max.


“Masih sama, sepuluh juta euro.”


“Oke, aku memberimu uang sebanyak itu.” Delavar seolah tak terbebani mengeluarkan dana yang bahkan bisa digunakan untuk membangun satu perusahaan baru.


Dariush menginjak kaki Delavar untuk menegur agar tak langsung menyetujui permintaan pak tua itu. Dia melotot ke arah kembarannya tanpa mengeluarkan suara agar tak dinilai kurang kompak oleh sang tawanan.


Delavar mengerlingkan sebelah matanya, memberikan pertanda agar Dariush tak perlu khawatir. Dia sudah memiliki rencana. Sekarang yang terpenting adalah membuat pak tua itu mengungkap rencana.


“Fine.” Delavar pun menepuk pundak kembarannya. “Aku titip pak tua ini sebentar,” pamitnya.


Setelah dijawab anggukan kepala oleh Dariush, Delavar pun berjalan kaki menuju mansion untuk mengambil uang cash dari brankas rahasia di dalam ruang kerjanya. Memasukkan segepok uang euro ke dalam tas dan kembali ke gudang.


“Jawab pertanyaanku tadi, maka akan aku berikan uang ini padamu,” ujar Delavar. Dia memperlihatkan isi dalam tas yang ada di tangannya.


Papa Max yang melihat ada dana segar pun langsung tersenyum puas. “Aku akan menjual Amartha pada seorang pengusaha karena aku memiliki hutang dengannya. Dan sebagai gantinya, ku gunakan tubuh Amartha sebagai alat pembayaran,” jelasnya tanpa memperlihatkan raut bersalah sedikit pun.


Delavar dan Dariush membulatkan mata. Sungguh keduanya sampai tak bisa berkata-kata. “Kau benar-benar iblis berwujud manusia,” ucap mereka bersamaan.


“Aku tak peduli, yang terpenting aku memiliki uang, bisa berjudi, membeli narkoba, dan membayar para wanita malam bertubuh molek,” sahut Papa Max. Matanya tak lepas dari tas berisi sepuluh juta euro yang dibawa oleh Delavar. “Berikan tas itu padaku!” titahnya.


“Tidak, masih ada pertanyaanku lagi.” tolak Delavar.


“Ck! Cepat katakan!”


“Berapa kali kau menjual tubuh Amartha pada orang lain?”


Papa Max memutar bola matanya untuk menghitung. “Seharusnya enam kali jika jebakanku hari ini berhasil. Tapi karena gagal, jadi baru sebanyak lima kali Amartha ku jual dengan pengusaha itu,” terangnya. “Jadi, jika kau mau bersama wanita itu, silahkan saja. Tapi selamat, kau sudah mendapatkan wanita bekas orang lain.”


Delavar mengepalkan tangannya sangat erat. Sungguh dia ingin meninju pak tua di hadapannya itu tanpa ampun.