
Yacht yang kini membawa Delavar dan Dariush itu mulai bergerak. Delavar menuangkan champagne ke dua gelas, memberikan satu untuk Dariush yang duduk dengan wajah tak terima jika dia meninggalkan Papa Max di kapal keluarganya.
“Tenang, hal yang kau pikirkan itu tak akan mungkin terjadi,” ucap Delavar seraya duduk di area belakang kapal dan menatap yacht yang masih berhenti di tengah laut.
“Bagaimana bisa?”
Delavar meneguk sedikit cairan yang mengandung alkohol itu, lalu melingkarkan tangan di leher Dariush. “Memangnya kau pikir kenapa kapal itu berhenti mendadak?”
“Kenapa?” Dariush balas bertanya.
“Karena bahan bakarnya habis. Aku memang sengaja hanya mengisi agar bisa sampai di tengah laut lepas saja, supaya yacht itu tak bisa bergerak lagi kecuali terombang-ambing oleh ombak,” jelas Delavar seraya menepuk pundak kembarannya.
“Bagaimana kalau dia mencari bantuan dari kapal lain?”
Delavar tak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia meminta salah satu pelayan kapal yacht miliknya untuk mengambilkan senter jarak jauh.
Delavar langsung menghidupkan alat penerang tersebut dan menyorot ke arah kapal yang ada di tengah. “Itu yacht di mana pak tua Max berada.”
Tangan Delavar lalu mengarahkan pada dua kapal lagi yang tak jauh dari tempat pak tua Max. “Itu adalah pengawal Cosa Nostra yang aku tempatkan untuk memastikan jika pak tua itu tak bisa bunuh diri atau meminta bantuan orang lain,” beritahunya.
Delavar mematikan lagi senter tersebut dan memberikan pada pelayan kapalnya.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Dariush masih belum paham maksud tujuan kembarannya.
“Karena aku ingin menyerang psikisnya,” jawab Delavar seraya telunjuknya menyentuh pelipisnya. “Aku yakin dia akan terkena mental. Hidup sendirian di tengah laut, tak ada makanan dan minuman, tak ada hiburan, tak ada orang yang bisa diajak bicara, tak bisa kembali ke daratan, mau bunuh diri pun ada orang yang akan terus menyembuhkannya. Bukankah itu lebih setimpal untuk membalas semua yang sudah dialami oleh wanitaku?”
Dariush mengacungkan dua jempolnya. “Good boy, ku kira kau akan menyudahi penyiksaan ini.”
“Oh tentu tidak.” Delavar menuangkan champagne ke kegelasnya lagi dan juga kembarannya. Mengangkat benda berbahan kaca bening itu ke atas untuk mengajak Dariush bersulang.
Selama tiga jam perjalanan di atas perairan, akhirnya Delavar dan Dariush sampai juga di daratan. Keduanya sudah ada supir yang menjemput untuk kembali ke mansion.
Kendaraan roda empat berwarna abu-abu mengkilap itu telah memasuki area mansion Dominique yang seluas lima hektar. Dariush menyentuh lengan kembarannya saat melihat jendela di kamar Delavar terbuka dan lampu menyala.
“Apa Amartha sungguh kau tinggalkan dalam kondisi tertidur?” tanya Dariush.
“Iya, memangnya kenapa?”
Dariush menarik kepala Delavar untuk mengintip dari jendela kaca di bagian tempatnya duduk. “Lihat kamarmu!” titahnya.
“Pak, cepat sedikit!” titah Delavar tak sabaran. Perasaannya seperti tak enak. Dia meninggalkan Amartha dalam keadaan kamarnya tertutup semua dan juga lampu mati. “Tak mungkin ada penyusup masuk, kan? Daddy membuat mansion ini pastinya dengan keamanan yang tinggi bukan?” gumamnya meyakinkan diri sendiri.