I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 145


...Di bawah umur harap undur diri dulu bestie, ini area dewasa...


...*****...


Delavar segera melepas pakaiannya hingga polos. Dengan langkah pelan, dia mendekati Amartha dan memeluk tubuh yang sangat dirindukan itu dari belakang.


Sergapan tiba-tiba tentu saja membuat Amartha terkejut. “Sayang, kau mau apa ikut ke dalam?” tanya Amartha seraya mematikan shower agar suara bisa terdengar.


“Mau memandikanmu,” balas Delavar. Tangan kiri dia biarkan tetap melingkar, sedangkan sebelah kanan memencet pump tempat sabun. “Biar aku bersihkan tubuhmu.”


Dengan posisi Delavar berada di belakang dan menempel dengan Amartha, dia membaluri badan wanitanya menggunakan busa. Dimulai dari bagian dada.


“Tapi aku bisa sendiri, tidak perlu dimandikan,” tolak Amartha seraya memegang tangan Delavar agar berhenti menggerayangi dirinya.


“Sstt ....” Delavar berdesis agar Amartha tak membantah. “Hanya memandikanmu, tidak lebih.”


Delavar mencoba meyakinkan, padahal saat ini dia sedang menikmati kedua tangan yang memegang bagian menonjol milik calon istrinya.


“Sayang, kalau memandikan tidak perlu meremas itu,” balas Amartha. Dia melepaskan tangan Delavar yang mulai mendesah.


“Nakal sedikit, anggap saja ini uang muka sebelum menikah,” bisik Delavar sedikit menawar.


Dirasa tak bisa berkutik, Amartha pun memilih untuk mengalah saja. “Sabuni yang lain juga, Sayang. Kenapa tanganmu di dadaku terus,” perintahnya yang merasakan jika bagian tubuh lain sudah mulai mengering.


Delavar terkekeh kecil. “Maaf, enak ternyata bermain itu. Kencang, padat, menonjol.” Kepala pun dicondongkan hingga di telinga Amartha. “Disesap sedikit, boleh, ya?” pintanya.


“Tidak, aku janji tak akan lama.” Delavar membalikkan tubuh Amartha hingga keduanya saling berhadapan. Dia tersenyum seraya menaik turunkan alis. “Ya?”


Amartha terdiam, melihat wajah calon suaminya yang nampak sangat menginginkan dan sepertinya penasaran pun membuat kepala mengangguk. “Oke, tapi aku pakai shampo dan menyabuni seluruh tubuhku dulu.”


“Yes ....” Delavar menghidupkan shower lagi agar keduanya bisa basah kuyup, lalu mematikan guyuran air tersebut, dan mengambil shampo. “Aku saja yang membersihkan tubuhmu, kau bersihkan aku. Kita saling memandikan satu sama lain,” pintanya.


Delavar mengusap lembut rambut Amartha hingga berbusa, dan berganti menyabuni calon istrinya. Setelah selesai, dia membilas wanita itu hingga bersih.


“Sekarang giliran kau.” Delavar sudah berdiam dengan wajah yang tersenyum. Menantikan kedua tangan calon istrinya itu membersihkan tubuhnya.


“Ingat, jangan lama-lama,” ucap Amartha setelah mengisi tangan dengan shampo.


“Oke, aku ambil posisi ternyaman.” Delavar memeluk tubuh wanitanya dengan sedikit merendah agar kepala bisa sejajar dengan bagian empuk yang memiliki belahan. “Aku sambil seperti ini,” cicitnya.


Delavar yang sangat penasaran dengan rasa pada dua bagian tubuh yang berbentuk sama dan menonjol itu pun mulai melancarkan aksi. Dia menyesap perlahan layaknya seorang bayi. Sedangkan tangan kanannya dengan nakal memijat bagian yang satu lagi.


Amartha sampai kewalahan sendiri ingin membersihkan tubuh calon suaminya bagaimana, posisi mereka saat ini sulit untuk tangannya menggapai bagian depan. Sehingga saat ini dia hanya memenuhi kepala Delavar dengan busa, dan punggung saja.


“Sayang, sudah. Aku tak bisa menyabuni bagian tubuhmu yang lain,” pinta Amartha agar pria itu berhenti menggerayanginya yang sedari tadi menahan rasa geli di daerah sela-sela pangkal paha.


Delavar sebenarnya tak ingin menyudahi itu, tapi karena Amartha mendorong pundaknya ke belakang dan membuat bibirnya yang sedang menikmati surga dunia itu terlepas dari poros. Akhirnya dia pun berdiri tegak dengan ulasan senyum tengil.