I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 94


Dokter Beverly meminta pasiennya untuk merebahkan diri di brankar. Dia akan melakukan USG untuk melihat kondisi dan perkembangan janin dalam kandungan Nona Amartha Debora.


Amartha tidak takut sedikit pun menjalani segala prosesi sebelum aborsi itu. Dia menuruti perintah dokter dan menaikkan sedikit bajunya untuk membiarkan Dokter Beverly melakukan USG.


Sementara itu, Delavar begitu setia menemani di samping Amartha. Dia sudah seperti calon suami siaga. Menggandeng tangan wanitanya dan memberikan elusan di permukaan kulit halus milik Amartha.


“Saya akan memulai USG kandungan Anda, Nona,” izin Dokter Beverly. Dijawab senyuman dan anggukan kepala oleh Amartha.


Dokter itu mulai memberikan sebuah gel di atas perut pasiennya, mengarahkan transduser dan fokus matanya tertuju pada sebuah monitor yang menunjukkan kondisi kandungan Amartha.


“Usia kandungan Anda menginjak delapan minggu, benar?” tanya Dokter Beverly.


“Seperinya, Dok.”


“Jika dilihat dari perkembangannya, memang janin Anda tidak berkembang dengan baik. Seharusnya lebih baik dikeluarkan agar tidak mengganggu kesehatan Anda kedepannya,” tutur Dokter Beverly yang melihat pada monitor USG four D. Sorot matanya kembali berfokus pada pasien. “Seharusnya pada usia delapan minggu sudah terbentuk mata walaupun masih terlihat seperti titik, lengan dan kaki yang seperti dayung kecil, dan juga tali pusar yang terhubung ke plasenta. Tapi janin Anda masih berbentuk embrio,” imbuhnya menjelaskan secara rinci.


Amartha biasa saja saat melihat anaknya di monitor. Tidak merasakan getaran haru layaknya seorang ibu yang memang menantikan kehadiran momongan.


Tapi lain hal dengan Delavar yang tersenyum melihat sebuah bulatan tak sempurna itu. Tapi dia tak bisa melakukan apa pun untuk merubah keputusan Amartha.


Dokter membersihkan permukaan perut pasiennya, dan meminta Amartha serta Delavar kembali duduk di kursi semula.


“Kita tunggu hasil tes kesehatan Nona Amartha terlebih dahulu sebelum memutuskan langkah selanjutnya,” tutur Dokter Beverly.


“Berapa lama lagi, Dok?” tanya Amartha yang sudah tak sabar ingin segera mengeluarkan janinnya.


“Baik, kalau begitu kami tunggu saja,” ucap Amartha.


“Silahkan untuk menunggu di ruang tunggu, nanti akan dipanggil jika hasil sudah keluar.”


Delavar dan Amartha pun meninggalkan ruangan tersebut. Keduanya duduk menanti di kursi yang kosong.


Setelah satu jam berlalu, akhirnya nama Amartha pun dipanggil lagi.


Dokter Beverly sudah memegang hasil tes urine dan juga darah milik Amartha. “Berdasarkan usia kandungan, perkembangan embrio, dan kesehatan Anda, hari ini juga boleh dilakukan aborsi.”


“Yes....” Amartha mengulas senyum puasnya. Akhirnya dia tak akan mengandung anak sialan itu lagi.


“Jadi, karena usia kandungan masih delapan minggu dan kondisi kesehatan semuanya baik, saya menyarankan untuk dikeluarkan menggunakan obat. Atau jika ingin melakukan kuretase juga boleh. Tergantung keputusan Anda.”


Delavar menatap ke arah Amartha untuk bertanya, manakah yang mau dipilih. “Terserah kau mau memakai proses yang mana, obat atau kuretase. Semua keputusan ada di tanganmu,” tuturnya sangat lembut seraya mengelus permukaan kulit tangan Amartha.


Amartha menatap Dokter Beverly lagi. “Obat saja.” Dia tak mau rahimnya dimasuki alat-alat.


“Konsumsi obat penggugur kandungan ada kemungkinan menimbulkan risiko yang bisa terjadi setelah prosesi aborsi dilakukan.” Dokter Beverly harus memastikan sekali lagi kesiapan pasiennya setelah mengetahui hal-hal yang bisa saja muncul.


“Apa?” Delavar lebih penasaran, mendengar kata risiko rasanya sangat ngeri. Apa lagi yang akan mengalami adalah wanita yang dicintai.