
Daddy Davis mendekati putra ketiganya yang masih terlihat tiduran dengan memeluk sang menantu dengan santai, dan tentu saja tanpa terlihat memiliki beban sedikit pun.
Pria gagah dengan wajah yang ditumbuhi bulu-bulu kasar itu berdiri tegak di dapan anak serta menantunya. Menghalangi silaunya matahari.
“Dad, ada apa kau ke sini?” Delavar mendongakkan kepala agar bisa melihat wajah Tuan Dominique.
Daddy Davis memberikan isyarat pada menantunya. “Amartha, tolong kau menjauh dulu dari Delavar. Bocah satu ini harus diberi pelajaran!” titahnya dengan tegas.
Amartha yang melihat wajah mertuanya sangat serius dan sangar pun merasa sedikit takut. “Baik.” Dia mengurai tangan Delavar dan berpindah duduk pada kursi lain.
Delavar tentu saja berdecak. “Dad, kau itu mengganggu acara bermesraanku saja,” gerutunya seraya berpindah menjadi duduk.
Tangan Daddy Davis langsung menjewer telinga Delavar dengan kencang. “Bisa-bisanya kau sampai lupa daratan! Bulan madu selama tujuh bulan dan tidak bisa dihubungi sama sekali!” Pria itu mengomel tiada henti karena kesal dengan putranya yang satu itu.
“Dad, nanti telingaku putus.” Delavar memprotes lagi seraya memegang tangan Daddy Davis yang menjewernya agar segera dilepaskan.
Namun Daddy Davis tidak mengindahkan permintaan anaknya itu. Dia tetap harus memberikan hukuman. “Kau dengan santai dan enaknya berlibur terus, menghabiskan uang. Akan kau beri makan apa istrimu jika tak bertanggung jawab dengan pekerjaanmu? Mau Daddy pecat dari perusahaan kalau masih seenaknya seperti ini?” Jalan satu-satunya untuk menuntun putranya ke jalan yang benar adalah dengan ancaman.
“Dad, katamu ingin cucu. Aku tak pulang selama tujuh bulan karena menunggu mendapatkan hasil positif,” jelas Delavar. Pria itu mencoba mengurai satu persatu jari Daddynya yang ternyata masih kuat walaupun sudah berumur.
“Jangan banyak alasan, Delavar! Membuat cucu tak harus berlayar selama lebih dari setengah tahun, sampai membuatku harus sibuk bekerja setiap hari. Seharusnya sudah saatnya Daddymu ini menikmati masa tua.” Jika tadi hanya telinga sebelah yang mendapatkan jeweran, kini kedua bagian mendapatkan perlakuan yang sama. Tuan Dominique sangat gemas dengan putranya yang terus memberikan alasan, bukan merenungkan kesalahan.
“Yang penting caraku berhasil, Dad. Kau sebentar lagi akan mendapatkan cucu lagi,” celetuk Delavar dengan wajahnya yang tersenyum seraya alis naik turun.
Kepala Amartha mengangguk. “Benar, Dad.”
Saat wajah Tuan Dominique berpindah menyorot Delavar, pria muda itu menjulurkan lidah, mengejek sang Daddy.
“Jadi, karena aku sudah memberikan cucu sesuai permintaanmu, tolong sekarang lepaskan tanganmu dari telingaku, Dad. Sakit sekali jeweranmu itu,” pinta Delavar.
Delavar bukannya dibebaskan, justru Tuan Dominique berjalan sembari menarik telinga Delavar hingga pria muda itu harus berjalan tertatih-tatih. Dan Daddy Davis menceburkan putra ketiganya ke dalam kolam renang.
“Sudah tahu istrimu hamil, bukannya segera pulang! Kau justru menikmati liburan. Bagaimana kalau ada sesuatu yang buruk dengan cucuku? Orang hamil butuh nutrisi, vitamin untuk perkembangan janin, apa lagi Amartha sudah pernah mengkonsumsi obat peluruh kandungan.” Daddy Davis bukan tidak senang dengan berita bahagia itu, tapi hanya memiliki rasa khawatir yang berlebih pada calon cucunya.
Amartha yang melihat sang suami sudah basah kuyup pun segera mendekati kolam renang dan mencoba untuk menjelaskan pada mertuanya. “Kami baru mengetahui hari ini kalau aku hamil, Dad. Sebelumnya tak ada firasat apa pun. Jangan memarahi suamiku lagi.”
Daddy Davis menghela napas, merangkul Amartha agar tak kaget dengan perlakuannya tadi pada Delavar. “Aku tidak marah, Amartha. Itu adalah cara untuk mendisiplinkan putraku.”
Delavar yang sudah keluar dari kolam renang pun segera mengurai tangan Daddy Davis. “Jangan pegang-pegang istriku, Dad. Kau itu sudah punya pasangan sendiri,” peringatnya seraya mengajak Amartha meninggalkan Tuan Dominique.
“Hei! Kau mau ke mana?” teriak Daddy Davis.
“Melanjutkan bulan madu lagi sampai anakku lahir,” kelakar Delavar yang menjawab secara asal dan tak lupa juluran lidah sebagai ejekan.