
Melihat bercak darah yang lumayan banyak di lantai, Delavar mengikuti di mana titik terakhir noda berwarna merah pekat itu. Dan matanya terhenti pada kaki Amartha.
“Kau terluka, Amartha,” tutur Delavar. Nada bicaranya mengandung kekhawatiran yang sangat jelas.
“Biarkan saja aku terluka! Sedari dulu memang aku selalu dilukai, dan memang sudah sepantasnya nasibku seperti ini! Luka tiada akhirnya!” Amartha sudah lelah, sungguh lelah. Kenapa harus ada Delavar yang menghentikannya mengakhiri hidup penuh derita ini.
Delavar tak tahan melihat kaki wanitanya seperti itu, dia menggendong paksa Amartha dan di dudukkan pada sofa. Dia kembali memeluk lagi tubuh yang sedang tak berdaya tersebut.
Helaan napas bingung keluar dari bibir seorang Delavar. Dia kuwalahan harus mengatasi Amartha yang sedang histeris seperti saat ini.
“Lama sekali Roxy datang,” gerutu Delavar sudah tak sabar. Rasanya telah sepuluh menit berlalu, tapi batang hidung pria yang menjadi kaki tangan keluarga Dominique itu belum juga menyembul di depan matanya.
“Saya di sini, Tuan,” tutur Roxy dari balik punggung Delavar.
Delavar tak memutar kepalanya untuk melihat Roxy. “Suntikkan pada Amartha, sekarang!” Dia cukup memberikan perintah saja.
Roxy pun memindah posisinya menjadi di samping Amartha. Dia membuka suntikan baru dan memasukkan cairan berwarna bening ke dalamnya. Tangannya siap memasukkan jarum ke lengan wanita tersebut.
Tapi Amartha justru meronta. “Aku tidak mau!” serunya dengan menggoyangkan tubuhnya.
Roxy tak berani menyuntik jika seperti itu. Bisa saja justru membuat Amartha terluka karena terlalu banyak bergerak.
Amartha tetap meronta, memukuli punggung Delavar, mendorong tubuh bidang pria itu. Segala cara dia lakukan agar bisa keluar dari rengkuhan yang sangat menyesakkan baginya.
Mengatasi orang yang sedang seperti Amartha ternyata sangat sulit. “Maafkan aku, Amartha. Aku harus melakukan ini,” gumamnya.
Delavar pun mendorong hingga posisi Amartha berubah menjadi tiduran di atas sofa. Tubuhnya mengungkung sang wanita, mengapit dengan kuat kedua kaki Amartha agar tak bisa bergerak. Tangannya pun demikian, mencengkeram kedua lengan Amartha agar tak meronta.
“Pegang kepalanya, Roxy! Tangan dan kakiku hanya dua!” titah Delavar.
“Baik, Tuan.” Satu tangan Roxy pun memegangi bagian tubuh paling atas milik Amartha. Sedangkan satunya masih memegang suntikan.
Dengan satu tangan, Roxy menggulung lengan baju Amartha. Dan secara cepat namun tetap hati-hati, jarum tersebut akhirnya berhasil juga menembus kulit mulus nan putih.
“Sudah berhasil, Tuan,” ucap Roxy memberi tahu.
Napas penuh kelegaan keluar dari bibir Delavar. Dia segera turun dan tak mengungkung wanitanya lagi.
Amartha masih terbuka lebar matanya. Reaksi obat belum merasuk ke dalam tubuh wanita itu. Tapi dia justru mematung dengan bulir bening mengucur membasahi sofa. Bibirnya bergetar menahan isakan. “Kau juga melecehkan aku, dunia ini ternyata memang kejam untuk orang-orang sepertiku,” lirihnya sebelum akhirnya tiga puluh menit kemudian dia tak sadarkan diri. Entah dia sadar atau tidak dengan apa yang diucapkan oleh bibir manisnya itu.
Delavar mengelus kening Amartha. “Kau salah paham, aku tidak melecehkanmu, tapi menyelamatkanmu,” bisiknya.