I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 67


...Warning: ada adegan kekerasan, yang merasa dibawah umur 21 tahun atau belum bisa membedakan baik buruk, jangan dibaca bab ini. Yang enggak kuat baca adegan penyiksaan, bisa diskip aja. Terima kasih....


...*****...


“Kau!” Delavar menunjuk pelayan yang ada di sebelah kiri tawanannya. “Pegang kepalanya! Jika dia memberontak, jambak rambutnya sekencang mungkin!” titahnya dengan suara lantang dan tegas.


Delavar kemudian menunjuk pelayan yang ada di sebelah kanan pak tua menyebalkan itu. “Kau pegang pipinya dan paksa dia untuk membuka mulut!”


“Baik, Tuan.” Kedua pelayan itu pun menjalankan perintah Delavar. Kepala Papa Max bergeleng memberontak, dan salah satu dari mereka langsung menjambak tanpa ampun.


“Kau harus tahu siapa yang sedang dihadapi. Keluarga Dominique! Kami bukan hanya seorang pengusaha yang sekedar menjaga image agar tetap terlihat baik, tapi dibalik itu ada kesadisan yang tak semua orang tahu,” ucap Delavar menatap penuh ejekan pada tawanannya yang dahulu pernah meremehkan kekuatan keluarganya.


“Untung kau tidak melukai anggota keluarga Dominique. Jadi hanya aku yang akan lebih banyak turun tangan secara langsung, karena kau sudah membuat orang yang aku sayang sengsara!” seru Delavar seraya tangannya meraup makanan sebanyak satu genggam. “Aku masih memiliki belas kasihan dengan memberimu makan dan mengobatimu saat sakit!” Matanya memberikan kode pada salah satu pelayan agar membuka mulut pak tua itu.


Pelayan tersebut membuka rahang Papa Max hingga mulut bau itu terbuka lebar. Namun, sang tawanan menutupi dengan menggunakan lidah agar makanan tak bisa masuk.


“Singkirkan lidahmu itu, Pak Tua!” titah Delavar. Tangannya sudah bersiap memasukkan makanan secara paksa, tapi tawanannya menyusahkan sekali.


“Tidak mau,” balas Papa Max dengan suaranya yang tak terdengar jelas karena lidahnya tak menyingkir.


“Baiklah jika kau ingin mengunyah lidahmu sendiri,” tutur Delavar. Matanya beralih menatap orang yang memegangi rambut sang tawanan. “Kau, pegang dan julurkan lidahnya!”


“Jangan lepaskan lidah itu dan kau.” Delavar menunjuk pelayan satunya menggunakan dagu. “Tutup rahangnya secepat mungkin dalam hitungan ketiga!”


Papa Max menggelengkan kepala, memohon agar jangan menyiksanya seperti itu. Tapi tak ada suara jelas yang bisa keluar dari bibirnya.


Delavar tak peduli, dia sudah menawarkan cara baik-baik tapi tak mau. Ya sudah, jangan salahkan dirinya jika sisi sadis yang diturunkan dari darah daddynya akan keluar. Dia tetap menghitung sampai tiga.


Dan lidah Papa Max tergigit secara paksa. Apa lagi penyatuan rahang dilakulan secepat kilat dan tekanan dari gigi begitu kuat. “Argh ...,” teriaknya meraung kesakitan.


“Lakukan lagi sampai dia kapok membangkang dan melawanku!” titah Delavar seolah tak memiliki belas kasihan. Lagi pula pak tua itu tak cocok mendapatkan perlakuan baik.


Pelayan itu mengulangi hal serupa sebanyak tiga kali. Sesungguhnya mereka merasa mual melakukan hal tersebut. Menyiksa orang, tak pernah sekalipun coba-coba melakukan itu. Tapi karena permintaan majikannya, mau tak mau harus dituruti.


“Kau masih tak mau makan?” tanya Delavar dengan matanya menghunus tajam.


“Tidak mau! Lebih baik aku mati!” raung Papa Max.


Tawa Delavar pun meledak. “Sudah ku katakan, berurusan dengan keluargaku pasti akan membuatmu lebih baik memilih mati dari pada hidup tersiksa. Tapi sayangnya, tak semudah itu keluar dari jerat keluarga Dominique,” sinisnya seraya bibir itu menyeringai.


Delavar pun memberikan perintah agar rambut Papa Max kembali ditarik ke belakang dan lidah tetap dipegangi agar tak menutupi mulut.