
“Kau sudah sarapan?” tanya Danesh mengalihkan pembicaraan. Adik kembarnya benar-benar frontal saat menebak pembicaraannya dengan Daddy Davis.
“Belum.” Delavar menggelengkan kepala.
“Lebih baik kau makan saja dulu dari pada banyak melantur,” usir Danesh seraya mengibaskan tangan agar kembarannya pergi.
Namun Delavar tetap berdiam diri di sana. “Jawab dulu, tebakanku banar atau tidak?” Masih saja terus menggoda si anak pertama.
“Iya, benar. Sudah puas?” jawab Danesh dengan mendorong tubuh Delavar. Pasti kembarannya akan menggodanya terus.
Tapi Delavar tetap membatu dengan bibirnya yang terkekeh. Dia beralih menatap sang daddy. “Memangnya Danesh cerita apa, Dad?” tanyanya.
“Dia pernah membelikan istrinya dalaman di pasar malam saat di Indonesia,” ucap Daddy Davis menceritakan kelakuan putranya sendiri.
“Dad ...,” tegur Danesh. Orang tuanya itu benar-benar tak bisa menjaga rahasia. Pasti dirinya akan diejek dan digoda terus oleh kembarannya.
Delavar berdesis agar Danesh diam. “Terus, Dad?”
“Dia datang sendiri tak bersama Felly, dan Danesh membeli bra dengan mengira-ngira menggunakan tangannya saat memegang milik menantuku itu.” Daddy Davis saja sampai tertawa saat kembali menceritakan hal itu.
Danesh tetap memasang wajah cool. “Puas kalian menertawakan aku?” cicitnya.
Delavar mengangguk dan masih tertawa lucu. “Memangnya berapa ukuran milik Felly?”
Danesh langsung melayangkan tatapan menusuknya. “Masuk, Delavar!” serunya. Kembarannya menggodanya terus. Ini baru satu, belum kalau ada Dariush dan Deavenny. Sudah pasti dia jadi bahan bulan-bulanan.
“Oke, Tuan Galak.” Delavar pun terus terkekeh saat tubuhnya mulai berdiri. Dia berjalan mundur, masih menggoda Danesh dengan membuat cup di dada menirukan gerakan kembarannya yang tadi sempat dia lihat.
Danesh yang gemas pun melepas sandalnya dan melemparkan ke arah Delavar. Tapi sudah dihindari oleh si anak ketiga.
“Tidak kena.” Delavar menjulurkan lidah mengejek, dan tubuhnya pun masuk ke dalam bangunan utama.
“Uncle, apa yang lucu? Annora mau lihat,” celoteh anak pertama Danesh dengan nada bicara masih cedal.
“Aku juga.” Agathias pun demikian.
Kedua bocah yang usianya mau menginjak dua tahun itu berlarian menuju Delavar. “Ceritakan pada kami, Uncle,” pinta mereka.
Delavar merendahkan tubuhnya. “Tanya pada daddy kalian saja, oke? Uncle juga mendengarkan cerita lucu dari dia,” ucapnya masih sedikit terkekeh. Tangannya mengusap ujung kepala keponakan lucunya.
“Mau cerita lucu ...,” teriak Annora seraya berlari keluar mencari daddynya.
“Annora, tunggu aku,” ucap Agathias yang menyusul kembarannya keluar.
Ketiga wanita yang tadi bermain dengan Annora dan Agathias pun menatap ke arah Delavar.
“Kenapa? Ingin tahu cerita lucunya juga?” tanya Delavar.
“Tidak, pasti kau menyuruh kami untuk bertanya pada Danesh,” balas Mommy Diora.
Dan Delavar menyengir. “Tahu saja.” Dia beralih mendekati Amartha, mengulurkan tangan pada wanitanya untuk dibantu berdiri. “Ayo kita sarapan dulu, kau belum makan,” ajaknya.
Amartha tak langsung mengiyakan ajakan Delavar. Dia menatap Felly dan Mommy Diora terlebih dahulu.
“Makan saja dulu, masih ada banyak makanan buatan chef,” tutur Mommy Diora mempersilahkan.
Amartha pun mengulas senyumnya dan menerima uluran tangan Delavar. Dengan bergandengan tangan, keduanya berjalan menuju meja makan. Mereka sarapan hidangan yang ada saja, karena Amartha juga tak terlalu pemilih masalah makanan.
Setelah selesai mengisi perut, Delavar mengantarkan Amartha kembali ke ruang keluarga. “Kau di sini dulu bersama Felly, oke? Aku ada urusan sebentar dengan mommyku,” pintanya setelah sang wanita duduk di samping Felly. Dia ingin menanyakan tentang aborsi pada orang tuanya.