
...Warning: adegan tak bermoral, jangan ditiru. Skip kalau ga suka part yang rada ga berperikemanusiaan. Authornya rada punya jiwa psycho soalnya wkwkwk....
...*****...
Seafood paella atau makanan yang berasal dari negara Spanyol, di mana nasi dimasak bersamaan dengan seafood dan bumbu lainnya. Hidangan itu sudah berada di genggaman Delavar. Sangat banyak. “Masih untung kau diberi makan enak walaupun sisa makanan semalam.”
Delavar memasukkan dengan paksa satu genggam hidangan tersebut hingga memenuhi mulut sang tawanan. Bahkan sampai tak ada rongga yang tersisa karena pipi pak tua itu sampai mengembang.
“Pegang bibirnya, jangan sampai dia membuka dan membuang lagi makanan itu! Paksa untuk mengunyah!” titah Delavar pada pelayan.
Delavar menyaksikan dan memastikan jika Papa Max benar-benar sudah menelan makanannya. Bibirnya menyeringai sinis dan tangan kanannya bersiap untuk mengambil segenggam lagi.
Saat Delavar hendak menjejalkan ke dalam mulut sang tawanan, pak tua itu mengeluarkan suara. “Aku akan makan sendiri.” Dia merasa kesulitan dipaksa mengunyah dengan porsi yang sangat banyak di dalam mulutnya yang tak seberapa besar itu.
“Oke, jika itu maumu.” Delavar pun mengambil alih piring dan meletakkan di lantai. Dia memberikan perintah agar salah satu pelayan memindahkan posisi Papa Max menjadi duduk di lantai tanpa mengurai ikatan.
Delavar berjongkok di hadapan piring dan menyodorkan ke Papa Max. “Makanlah!”
“Lepaskan talinya, bagaimana cara aku memegang sendok jika masih dalam kondisi terikat?”
Delavar mengedikkan bahu. “Pakai saja mulutmu! Kau yang meminta ingin makan sendiri, jangan harap aku akan melunak dan melepaskanmu sekarang,” ucapnya dengan sadis.
“Semakin lama kau gila! Keluarga Dominique tak ada yang waras!” umpat Papa Max dengan otot lehernya sampai timbul.
Delavar menatap sang tawanan dengan bibirnya menyeringai. “Masih banyak yang harus aku kerjakan, Pak Tua! Jangan menyusahkan aku!”
Tangan Delavar yang terbalut gloves bekas menggenggam makanan pun menjambak rambut berminyak Papa Max. Sedangkan tangan sebelah kirinya memegang piring. Delavar tanpa berperasaan mendorong kepala sang tawanan hingga menyentuh hidangan tersebut.
“Makan dan habiskan! Nanti malam aku akan membebaskanmu dari tali yang menjerat tubuh tuamu itu!” titah Delavar dengan paksaan.
“Kau sungguh akan membebaskan aku?” tanya Papa Max memastikan.
Delavar mengangguk yakin. “Dari tali itu, aku tak akan mengikatmu lagi nanti malam dan ku pastikan kau bisa menghirup udara segar juga.”
“Awas saja jika kau berdusta,” ancam Papa Max.
“Pantang bagi seorang Dominique untuk berdusta!” balas Delavar. Dia semakin mendorong kepala tawanannya ke arah piring. “Maka dari itu, cepat habiskan!”
Bagaikan hewan, Papa Max memakan hidangan itu menggunakan mulutnya. Delavar terlihat tak berperasaan memperlakukan orang tua seperti itu menurut pemikiran tiga pelayan yang melihat sisi kejam seorang anak ketiga keluarga Dominique.
Tapi tidak bagi Delavar. Menurutnya, tak semua orang tua harus dihargai jika orang tersebut tak bisa memanusiakan yang lainnya. Terlebih perbuatan Papa Max sudah keterlaluan. Toh dirinya juga sudah mencoba melakukan secara baik-baik, salah pak tua itu sendiri yang membangkang sampai membuat Delavar hilang kesabaran.
Delavar memberikan piring yang sudah kosong ke pelayan. Tangannya menepuk kepala Papa Max dengan kasar. “Bagus, kau itu justru menyiksa diri sendiri karena membuat aku harus turun tangan hanya sekedar memastikan kau tak mati cepat akibat kelaparan.”