
Ada kesempatan emas, mana mungkin disia-siakan oleh Delavar. Pria itu segera berpindah posisi menjadi tidur di ranjangnya, walaupun tidak terlalu menempel dengan Amartha. Masih ada jarak yang lumayan panjang antar keduanya.
Tak apa, untuk saat ini berjauhan satu meter. Pasti akan ada saatnya tak ada jarak bahkan setipis kain pun tak akan memisahkan Delavar dan Amartha. Suatu hari nanti jika waktu sudah tepat dan tiba.
“Mau ku matikan lampunya lagi seperti tadi?” tawar Delavar yang kini sedang merubah posisi tidurnya menjadi miring ke arah Amartha agar bisa menatap wanitanya.
“Boleh, aku juga terbiasa tidur gelap,” jawab Amartha. Dia masih dalam posisi menatap ke arah langit-langit kamar.
Delavar menepukkan tangan sebanyak dua kali. Itu adalah kode perintah untuk mematikan lampu. Mansion keluarganya dilengkapi dengan teknologi yang sudah canggih, tapi tetap tak meninggalkan yang konvensional. Di sana tetap ada sakelar.
Lampu utama kamar Delavar pun telah padam. Cahaya remang-remang dihasilkan dari lampu kecil yang ada di atas nakas. Dalam kondisi minim cahaya seperti itu, Delavar masih bisa melihat Amartha. “Jika kau membutuhkan sesuatu, langsung bangunkan saja aku, oke?”
“Oke.” Amartha pun menutup kelopak matanya. Delavar juga melakukan hal yang sama.
Tak ada lagi suara di sana, hingga beberapa saat kemudian bunyi yang dihasilkan dari Amartha yang tak bisa tidur dan membolak balikkan tubuh mencari posisi nyenyak pun bisa terdengar jelas.
Delavar memang belum tidur, dia hanya berpura-pura memejamkan mata saja. Sesekali mengintip apa yang tengah dilakukan oleh Amartha. Baru saat wanita itu berpindah posisi menjadi miring ke arahnya, kelopaknya kembali menutup. Dia tak ingin bertanya kepada wanita itu karena mau menunggu Amartha memanggil dan meminta sesuatu padanya. Tapi dia tak mendengar suara apa pun lagi. Bahkan bunyi dari gesekan tubuh dengan kain spreinya pun sudah tak ada. Berarti Amartha sudah menemukan posisi yang nyaman.
Delavar mengintip sedikit untuk memastikan Amartha sudah memejamkan mata atau belum. Ternyata wanita itu sedang memandanginya. Sehingga dia memilih untuk pura-pura tidur saja.
Saat menatap wajah Delavar Yang terlelap, Amartha baru merasa nyaman. Dia bisa melihat bagaimana pria itu saat tidur. Dan selalu membuatnya tersenyum karena Delavar tetap tampan walaupun mata hazel green yang indah tak nampak.
“Delavar,” panggil Amartha mencoba memastikan pria itu sudah terlelap atau belum.
Orang yang dipanggil tak menyahut. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan atau diminta Amartha jika dirinya tidur.
Karena tak mendapatkan jawaban, Amartha pun bergeser semakin mendekat ke arah Delavar. Ingin menatap lebih dekat lagi wajah tampan itu karena cahaya yang remang-remang membuatnya tak bisa menangkap dengan jelas.
Perlahan kelopak mata Amartha semakin menutup setelah puas menatap rakus sosok Delavar. Dan akhirnya, dia bisa terbang ke alam mimpi.
Satu jam sudah Delavar menantikan pergerakan Amartha, sampai sengaja tak segera tidur. Ternyata dengkuran halus sudah keluar dari bibir wanita yang kini posisinya tak terlalu jauh dengannya.
Delavar menyingkirkan rambut yang sedikit menutupi wajah Amartha. “Jika hari ini kita jadi mengeluarkan janinmu, berarti sebentar lagi kita akan menikah,” gumamnya sangat lirih agar tak mengganggu wanitanya.
Delavar terkejut saat tiba-tiba tangan Amartha melingkar di tubuhnya. Beserta kaki yang menindih di atasnya. Sepertinya wanita itu tak sadar jika memeluknya.