I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 58


Kini Amartha menumpahkan semua masalah yang dia hadapi, dan Mommy Diora terus menguatkan wanita itu. Orang tuanya saja tak pernah memberikan pelukan setulus dan sehangat ini.


“Berdamailah dengan keadaan, Amartha. Pasti akan ada masa depan yang indah kau dapat. Lihatlah sekelilingmu, dunia tak berisi orang jahat saja, tapi ada juga yang baik dan menyayangimu.” Mommy Diora mencoba memberikan nasihat.


“Gunakan hatimu. Kau sudah pernah disakiti, pasti kau bisa merasakan dan membedakan mana yang tulus dan tidak,” imbuh Mommy Diora seraya menempelkan tangan di dada Amartha.


Selama seharian ini Mommy Diora dan Dokter Sophie menemani Amartha. Perlahan Amartha juga bisa menceritakan masalahnya. Nasihat demi nasihat yang mulai sedikit menenangkan Amartha pun terus diberikan.


Mommy Diora dan Dokter Sophie pun pergi dari apartemen tersebut setelah Delavar pulang kerja dan Daddy Davis mulai ribut meminta agar Nyonya Dominique segera pulang.


Suasana di malam ini terasa sunyi. Amartha hanya duduk di sofa dengan pandangan terjatuh pada ujung jemari kakinya.


Delavar membawa air minum hangat dan duduk di samping Amartha. “Bagaimana mommyku, orangnya seru, kan?” Dia mencoba membuka topik pembicaraan agar Amartha tak melamun terus.


“Mommymu baik,” jawab Amartha. Kali ini dia tak mengusir Delavar lagi seperti kemarin atau tadi pagi.


“Kalau aku?” Delavar ingin tahu penilaian Amartha tentang dirinya.


Amartha mengambil alih gelas yang sedari tadi disodorkan padanya. Matanya saling pandang sejenak dan lagi-lagi kedikan bahu dirinya layangkan. Jawaban yang sungguh ambigu. Tapi setidaknya Delavar bisa sedikit lega karena Amartha sudah mulai bisa tenang.


“Kau mau dengar cerita lucu?” Delavar terus mencoba mencairkan suasana agar lebih hangat lagi.


“Apa?” Amartha tak mengalihkan pandangan, tetap merunduk.


“Tadi pagi, saat aku berangkat ke kantor, karena buru-buru sudah ditunggu oleh klienku.” Delavar berhenti sebentar, dia sudah tertawa sendiri mengingat kejadian pagi tadi yang cukup memalukan.


Tawa Delavar terdengar begitu renyah di telinga Amartha. Hingga wanita itu mulai sedikit melirik dan mengintip. Padahal dia sudah siap mendengarkan cerita lucunya di bagian mana, tapi Delavar masih terkekeh sendiri.


Tawa Delavar ternyata menular ke Amartha. Wanita itu tersenyum tanpa suara walaupun Delavar tak bisa melihatnya jelas dari samping.


“Kau cantik jika tersenyum,” puji Delavar.


Amartha justru salah tingkah. Dia langsung berdiri. “Aku tidur dulu,” dalihnya.


Delavar menarik kedua sudut bibirnya puas. Dia memastikan jika Amartha benar-benar tidur. “Selamat istirahat, aku ada di sofa depan jika kau membutuhkan sesuatu.”


Amartha tak menanggapi ucapan Delavar. Dia menutup seluruh tubuh menggunakan selimut hingga ujung kepala.


Delavar pun kembali ke sofa. Memainkan ponsel dan memberikan pesan pada Roxy agar tak lupa menyuntikkan bius, mengganti infus, dan memasung kaki Papa Max. Dia belum sempat melihat kondisi pak tua itu. Dan setelahnya, Delavar tidur meringkuk di sana tanpa selimut.


...........


Selama tiga hari ini Delavar terus melakukan kegiatan yang sama. Di apartemen Amartha, menemani wanitanya dan kalau malam pasti tidur di sana.


Amartha juga memberikan respon yang mulai bagus. Dia sudah mau diajak keluar dan melakukan aktivitas walaupun hanya berbelanja bahan makanan bersama Mommy Diora.


Kini Amartha bisa merasakan lapar dan keinginan untuk makan lagi. Dan ini sudah tengah malam, dia keluar dari kamar hanya ingin mencari hidangan untuk mengganjal perut.


Kaki Amartha terhenti saat melihat Delavar yang meringkuk di atas sofanya. Dia tak jadi menuju dapur, tapi kembali ke kamar dan keluar lagi membawa selimut.


Dengan hati-hati, Amartha menyelimuti Delavar yang setiap hari menemaninya walaupun sudah tahu keadaannya sangat kacau.


Tentu hati nurani Amatha tak tega melihat Delavar kedinginan. Selama ini dia memang tahu jika pria itu selalu tidur meringkuk di sofa. Tapi baru malam ini terketuk untuk mengusir hawa dingin yang menusuk itu menggunakan selimut.