
Setelah keduanya mengucapkan janji, Delavar dan Amartha pun saling berhadapan.
Tangan kekar Delavar mengulur untuk menyeka air mata di pipi Amartha. Namun bibir tetap tersenyum. “Menangislah atas kebahagiaan, istriku. Karena mulai detik ini, aku tak bisa membuatmu hidup dalam kesederhanaan. Suamimu sejak lahir sudah kaya, jadi nikmati saja kehidupan mewah yang akan kau dapatkan,” ucapnya diiringi kerlingan mata.
Amartha terkekeh mendengar ucapan suaminya. Dia pun sama, mengeringkan pipi Delavar menggunakan jemari. “Kalau aku memintamu untuk hidup sederhana saja, apa kau tidak akan menuruti?” tanyanya, namun hanya sekedar ingin tahu jawaban dari pasangannya.
Delavar menggelengkan kepala. “Tidak akan aku biarkan kau dan aku hidup susah, Sayang. Bahkan aku akan berjuang sekeras mungkin untuk memberikan kehidupan yang layak serta tidak kekurangan untukmu dan anak-anak kita kelak.”
“Seandainya semua suami sepertimu, manis, perhatian, bertanggung jawab, tampan, gagah, pekerja keras, dan selalu melindungi orang-orang terkasih, pasti seluruh istri di dunia ini akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti aku saat ini,” ucap Amartha seraya mengelus pipi Delavar penuh kelembutan.
“Mulai sekarang, kebahagiaan dan seluruh hidupmu adalah tanggung jawabku. Pada akhirnya, akulah lampu yang Tuhan siapkan untuk menerangi jalan ke arah tujuan hidupmu,” tutur Delavar. Kepalanya semakin mendekat dengan wajah Amartha.
Riuh tepuk tangan dari orang-orang terdekat pengantin baru itu menggema di dalam Cathedral Helsinki saat menyaksikan dua bibir yang saling menyatu setelah resmi menjadi suami istri.
Setelah mendapatkan surat nikah yang dikeluarkan oleh tempat ibadah mereka, Delavar dan Amartha turun dari altar. Menemui sanak saudara yang menjadi saksi pernikahan.
Seluruh keluarga Dominique dan Giorgio berdiri dari tempat duduk. Menyambut dengan suka cita pasangan pengantin itu. Mereka saling mengucapkan selamat untuk Delavar dan Amartha.
“Mommy senang, akhirnya putraku bertemu jodohnya,” ucap Nyonya Dominique seraya memeluk dan mencium seluruh wajah Delavar. Lalu bergantian kepada menantunya.
“Berikan Daddy cucu lima belas.” Kini giliran Tuan Dominique yang yang memberikan selamat. Dia menepuk pantat Delavar setelah mengucapkan kalimat tersebut.
“Banyak sekali, Dad. Memangnya istriku ini pabrik pembuatan anak? Daddy dan Mommy saja hanya produksi empat,” balas Delavar dengan kepala bergeleng.
“Dua sampai empat sudah cukup, Dad. Nanti masih ditambah anakku, Dariush, dan Deavenny juga,” timpal Danesh.
“Nah, bisa jadi pemain futsal beserta cadangannya saja, sepak bola terlalu banyak. Kasian istri kami yang mengandung,” imbuh Delavar sepakat dengan kembaran tertua. Tangannya merengkuh pinggang Amartha agar tidak berjarak.
Deavenny menatap ke arah Marvel, suaminya. “Sayang, dengar mereka. Daddyku ingin cucu, jangan pakai pengaman lagi jika sedang bercinta denganku,” pintanya.
Marvel hanya bisa mengulas senyum seraya tangan mengelus lengan Deavenny. Dia tidak mungkin mengatakan alasan dibalik dirinya yang sengaja tidak membuahi ovum milik sang istri hingga saat ini.
“Oh, lain. Untuk Deavenny, kau spesial. Tidak perlu memberikan aku cucu,” tutur Daddy Davis.
Dariush yang sedari tadi diam pun berdecak dan menggelengkan kepala. “Kalian ini tidak menghormati presiden jomblo di kerajaan Dominique? Membicarakan anak dan bermesraan di hadapanku. Sungguh terlalu.”
Dan kini sorot seluruh orang tertuju pada Dariush. “Sejak kapan kerajaan memiliki presiden?” tanya mereka bersamaan.
“Sejak kembaranku semuanya menikah, dan aku belum sendiri,” jawab Dariush.
...*****...
...Oh kasian sekali bebeb Dariush. Siapin baju bagus guys buat pesta pernikahan mereka. Jangan lupa amplopannya wkwkwk....