
“Seburuk-buruknya orang tuamu, dia sudah berjuang mati-matian untuk melahirkanmu ke dunia ini. Dan jika mereka sudah mengakui kesalahan serta menyesali semua perbuatan jahat padamu, maka maafkanlah. Jangan menaruh dendam terlalu lama karena itu bisa membuatmu memiliki sifat keras hati.” Sebelum calon menantunya menjawab pertanyaan Delavar, Mommy Diora sudah menasehati agar tidak mengedepankan emosi saja.
Amartha terdiam sejenak untuk berpikir. Memang sudah lama dia tak bertemu orang tuanya, bahkan tidak ada perasaan rindu layaknya seorang anak dengan keluarga yang hidup normal. Dia justru senang karena tak perlu merasakan muak saat menghadapi tingkah Mama dan Papanya. Tapi, apa yang dikatakan oleh calon mertuanya itu ada benarnya juga.
“Aku mau mengundang mereka,” jawab Amartha. Dia ingin melihat apakah kedua orang tuanya sudah berbubah atau belum.
“Oke, minggu depan kita temui mereka. Undangan sudah habis dan sedang dalam proses pembuatan lagi.” Delavar pun menyepakati keputusan Amartha.
Ketiga orang itu lalu makan bersama di sebuah restoran khas negara Italia.
...*****...
Sesuai janjinya, Delavar mengajak Amartha untuk bertemu calon mertuanya. Dia membawa sang wanita ke sebuah lokasi rumah yang dikelilingi oleh tempat casino. Lokasi yang sering dijadikan tempat kriminalitas, dan warga di sana memang terkenal sering keluar masuk penjara.
Walaupun Finlandia termasuk ke dalam daftar negara paling bahagia di dunia, di mana warganya menikmati standar hidup tinggi dan damai, tidak memungkiri jika tetap ada orang-orang yang berbuat kejahatan serta tidak bahagia. Namun, dalam proporsi yang lebih kecil dibandingkan negara lain di dunia. Karena tidak semua manusia itu baik dan bisa hidup mengikuti kebiasaan di lingkungan sekitar.
Delavar menggenggam tangan Amartha saat berjalan menyusuri jalanan yang dipenuhi oleh penjudi. “Apa kau sedari kecil tinggal di lingkungan ini?”
“Iya,” jawab Amartha seraya melihat reaksi Delavar. “Kenapa kau terkejut?” Pertanyaan itu dilontarkan karena pria yang berjalan di sampingnya sedang membulatkan mata.
“Bagaimana caramu bisa tak terpengaruh dengan lingkungan yang toxic?” Dari sudut pandang Delavar, Amartha jauh berbeda dari orang-orang yang ada di sekitar wilayah itu. Tidak penjudi, pemabuk, menjual diri, dan hal-hal lain yang melekat dengan daerah tersebut.
“Lalu, di mana gurumu itu? Kita undang dia juga karena sudah berjasa dalam kehidupanmu.”
Amartha mengulas senyum, namun ada sedikit kesedihan. “Sudah meninggal.”
Delavar berpindah merangkul pundak sang wanita, mengelus lengan Amartha. “Setidaknya dia bangga denganmu.”
Amartha pun berhenti di depan sebuah casino, tentu saja Delavar ikut tak bergerak.
“Ada apa?” tanya Delavar.
Amartha menunjuk tempat casino yang terlihat seperti bangunan lama. “Mamaku sering menghabiskan waktu di situ.”
“Yasudah, kita ke sana,” ajak Delavar.
Kedua orang itu pun berjalan memasuki tempat casino. Pertama kali menginjakkan kaki di sana, bau alkohol dan asap rokok langsung tercium begitu tajam. Bahkan suara orang terbahak-bahak yang baru saja memenangkan judi pun menggema sangat keras.
Dan benar, orang yang dicari pun ada di dalam casino tersebut. Wanita yang kulit sudah keriput, rambut bercat ungu tua seperti warna wine.