I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 80


...Warning: ada adegan kekerasan...


...*****...


Setelah mengetahui siapa ayah dari bayi di dalam kandungannya, dan melihat langsung kekejian pria itu. Amartha semakin kuat berniat untuk mengaborsi janinnya. Padahal dia saja tak kenal dengan orang itu, apa salahnya sampai diperlakukan bak boneka pemuas napsu.


Christoper yang kesal pun ikut berdiri dan mengulurkan tangannya. Menjambak rambut Amartha hingga kepala wanita itu mendongak ke atas. “Lahirkan, atau ku seret paksa kau untuk menikah denganku?!”


“Keparat kau! Lepaskan aku!” Amartha terus memberontak, memukuli wajah pria yang dia sendiri tak kenal.


“Hei, lepaskan wanita itu!” Salah satu pengunjung yang tak tega melihat Amartha seperti kesakitan pun mencoba untuk menolong. Tapi justru dia dihajar oleh Sour.


“Jangan ikut campur!” peringat Sour dengan kepalan tangannya yang mendarat di wajah pengunjung itu.


Kejadian tersebut membuat semua mulut terbungkam dan hanya bisa menyaksikan penyiksaan terhadap Amartha.


Christoper semakin menarik rambut Amartha hingga wajah wanita itu semakin mendongak ke atas. “Pelacur sepertimu jangan berani-beraninya melawan aku!” sentaknya.


“Tak sudi!” Amartha memukuli perutnya sendiri. “Akan ku siksa anak ini sampai mati,” jawabnya seraya tertawa sinis.


Plak!


Sebuah tamparan keras dari telapak tangan Christoper pun mendarat sempurna di pipi mulus Amartha. “Berani kau membantahku!”


Tak sabar, Christoper pun menyeret paksa Amartha dengan menjambak rambut berwarna pirang itu untuk keluar coffee shop.


Ehem!


Tentu saja dehaman dari Delavar membuat Christoper berhenti dan berbalik badan.


“Kau mengganggu kegiatanku dan membuatku gagal menuntaskan untuk mengeluarkan kotoran di perut.” Delavar memfokuskan pandangannya lurus ke Christoper seraya kakinya maju semakin mendekati pria itu. “Yang paling membuatku jengkel adalah ... beraninya kau berbuat kasar dengan wanitaku!” bentaknya kemudian.


“Lepaskan dia!” titah Delavar dengan tegas.


Christoper tak mau kalah begitu saja dengan orang yang sudah membuatnya tidak bisa memiliki keturunan lagi. “Dia sedang hamil anakku, dan wanita itu berarti milikku,” ucapnya dengan nada tinggi.


Delavar tersenyum sinis, pandangannya beralih melihat Amartha yang menatapnya dengan sorot memohon. Dan dia juga bisa melihat ada bekas kemerahan di pipi wanita itu.


“Satu ....” Delavar mulai menghitung. “Jika sampai tiga kau tak melepaskannya, ku kuliti wajahmu itu!” ancamnya dengan sungguh-sungguh.


“Dua ....” Delavar melanjutkan lagi. “Apa kau lupa jika setiap ucapanku tak pernah main-main? Kalau kau mau berurusan denganku, maka lanjutkan saja menjambak Amartha. Tapi jangan harap wajahmu utuh!”


“Tiga!”


Tepat dihitungan ketiga, Christoper baru melepaskan Amartha. Tapi Delavar sudah berlari dan menendang tepat di dada pria itu hingga langsung terjatuh di lantai karena Delavar menggunakan kekuatan penuh.


“Keparat, kau sudah menyakiti wanitaku.” Kaki Delavar menginjak wajah Christoper tanpa ampun. Tak peduli jika terdengar seperti tulang hidung yang patah.


“Aku sudah melepaskan dia, berhenti menghajarku!” pinta Christoper.


“Kau sudah terlambat, tak ada ampun lagi!” Delavar semakin emosi menginjak wajah, beralih ke dada, dan terakhir menekan bagian tangan sangat lama. “Ini yang kau gunakan untuk menyakiti Amartha? Mau ku apakan enaknya? Potong? Atau ku kuliti? Kau tinggal pilih saja,” tawarnya memberikan opsi.


“Sour ...!” panggil Christoper. Orang kepercayaannya itu sedari tadi tak kunjung membantu.