
“Kram bisa sedang hingga sangat kuat diiringi pendarahan setelah mengkonsumsi obat, infeksi pada rahim atau saluran reproduksi. Selain itu, jika Nona Amartha hamil lagi suatu saat nanti, ada kemungkinan terjadi kehamilan ektopik atau kehamilan di luar kandungan. Bukan hanya itu, masih ada kemungkinan lain, seperti radang panggul, kemandulan. Dan dari risiko tersebut bisa menyebabkan gangguan mental juga,” jelas Dokter Beverly dengan hati-hati agar informasinya mudah dicerna oleh dua orang dewasa di hadapannya.
“Jadi, apakah Anda bersedia melakukan aborsi? Namun, saya tidak bisa menjamin risiko tersebut tidak akan dialami oleh Nona Amartha,” tanya Dokter Beverly memastikan sekali lagi.
“Bukankah itu baru kemungkinan risiko? Artinya tidak semua wanita yang aborsi akan mengalami hal tersebut,” imbuh Amartha tak merasa takut sedikit pun.
Delavar menggela napasnya dan beralih menatap dokter. “Berapa persen orang yang sudah mengalami risiko itu?”
“Dari data pasien saya, kurang lebih sekitar lima persen.”
“Persentasenya kecil, jadi tetap ada kemungkinan tidak akan aku alami,” ucap Amartha meyakinkan Delavar agar tak goyah.
Delavar menarik dua sudut bibirnya seperti tak ikhlas. “Baiklah, lakukan saja jika kau siap.”
Dokter Beverly melakukan panggilan telepon dengan seseorang lagi, dan beberapa saat kemudian ada wanita yang masuk. Sepertinya apoteker di sana.
“Ini adalah mifepristone, gunanya untuk memblokir hormon progesteron sehingga lapisan rahim menipis serta mencegah perkembangan embrio,” ucap Dokter Beverly seraya memperlihatkan sebuah obat di tangannya.
Dokter itu beralih menjelaskan kegunaan obat yang satunya. “Kalau ini misoprostol, gunanya untuk membuat rahim berkontraksi dan mendorong embrio agar keluar.”
Dokter Beverly memberikan kedua obat kepada pasiennya. “Satu sampai empat jam meminum itu, Anda akan mengalami kram dan juga pendarahan,” imbuhnya.
Amartha dan Delavar hanya diam saja sembari mendengarkan Dokter menjelaskan.
“Pantauan dokter saja.” Delavar langsung menjawab dan mengambil keputusan sepihak. Ini berhubungan dengan kesehatan dan lebih baik tak mau main-main melakukan sendiri.
“Baik.” Dokter Beverly memanggil perawat untuk mengantarkan pasien ke kamar inap yang biasa digunakan oleh wanita setelah melahirkan.
Dan Amartha pun sekarang sudah berada di ruangan yang tidak terlalu luas tapi tetap terlihat rapi. “Mana obatnya?” pintanya seraya menengadahkan tangan meminta dua jenis obat yang tadi dibawa oleh Delavar.
“Kau akan kesakitan setelah minum ini, apa kau kuat?” Delavar seperti terus mengulur waktu dan mencoba membuat Amartha berubah pikiran.
“Kuat.” Amartha merebut secara paksa obat di tangan Delavar. Langsung memasukkan ke dalam mulut dan mendorong menggunakan air mineral yang sudah disediakan.
Delavar menghembuskan napasnya, hanya bisa berharap semoga risiko yang disebutkan oleh dokter tak akan dialami oleh Amartha. “Tidurlah,” titahnya seraya membantu wanitanya untuk memposisikan diri senyaman mungkin. “Katakan padaku jika kau mulai merasakan sakit,” pintanya.
Tangan Delavar terus menggenggam Amartha. Sesekali menyeka keringat yang mulai keluar di kening wanita itu.
“Kau sudah merasakan sakit?” Pertanyaan Delavar itu sudah yang ke sepuluh kali. Tapi jawaban Amartha tetap menggeleng.
Barulah setelah dua jam, Amartha merasakan perutnya kram ringan. Dia mencengkeram erat tangan Delavar seraya mengeluarkan desisan. “Sakit.”
Delavar segera memencet tombol untuk memanggil dokter. “Sabar, kita lalui bersama,” ucapnya sembari mengelus perut Amartha. Dia ikut berdesis karena melihat wajah wanitanya yang seperti sangat kesakitan. Membiarkan tangannya menjadi sasaran empuk dari kuku yang panjang itu.