
Jemari kekar Delavar mengusap bibir calon istrinya yang masih basah. Mengelus pipi mulus di hadapannya dan menatap penuh kelegaan serta rasa sayang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.
Amartha juga masih melingkarkan tangan di leher calon suami. Bibir terus mengulas senyum sangat manis.
“Jadi, kau tidak marah padaku?” tanya Delavar memastikan sekali lagi. Siapa tahu yang terjadi baru saja hanya mimpi.
Amartha menggeleng pelan. “Tidak, untuk apa aku marah padamu? Aku sudah mendengar semua penjelasan dari bibirmu,” ucapnya seraya menunjuk bagian wajah Delavar yang baru saja dia cium.
Delavar menarik tubuh Amartha ke dalam pelukan. “Terima kasih, aku sangat menyayangimu. Aku sudah takut jika kau terhasut oleh bualan Christoper.” Kecupan bertubi-tubi pun mendarat di kening calon istrinya.
“Mana mungkin aku lebih mempercayai orang lain daripada calon suamiku sendiri,” pungkas Amartha seraya jemari lentik dari tangan sebelah kanan itu mengusap rambut lebat berwarna hitam.
Amartha bisa melihat mata calon suaminya yang sayu. “Kapan terakhir kali kau tidur?” tanyanya. Dia mengusap kantung mata Delavar yang nampak cokelat.
“Kemarin, aku mengantuk sekali. Kita tidur sebentar sebelum fitting, ya?” pinta Delavar. Dia mengangkat tubuh Amartha untuk digendong dan dibawa ke atas ranjang.
Delavar merebahkan tubuh calon istrinya. Begitu pula dengan dia yang langsung memeluk Amartha.
“Ganti dulu pakaianmu, Delavar. Kau masih memakai setelan kerja,” pinta Amartha seraya mencoba membuka jas yang masih membalut pria itu.
Delavar justru kian mengeratkan tangan. “Nanti saja, aku malas mencari baju dan berganti. Lagi pula hanya tidur sebentar, sebelum jam sembilan kita berangkat ke butik.” Dia beralasan, padahal memang sudah rindu bermesraan dengan calon istrinya saja.
“Biar aku yang carikan dan menggantikan bajumu.” Amartha mencoba mengurai pelukan Delavar.
“Baiklah jika itu maumu.” Delavar melepaskan calon istrinya dan merubah posisi menjadi rebahan ke arah langit kamar. Namun mata tetap terpejam.
“Aku lepas sepatunya, ya?” izin Amartha.
“Jangan, Sayang. Aku bisa sendiri, kau carikan saja baju untuk ganti,” tolak Delavar. Dia menarik kakinya agar tak disentuh oleh Amartha.
“Loh, kenapa? Kakimu bau, ya? Tak masalah, nanti aku bersihkan,” cicit Amartha. Dia menepuk paha Delavar agar meluruskan kaki lagi.
“Enak saja bau, kaus kakiku saja mahal,” elak Delavar.
“Yasudah, sini aku buktikan dulu kalau kaus kaki mahal tak akan membuat bau.” Amartha menarik celana Delavar.
“Oke, tapi kau harus mencium aku lagi jika kakiku tak bau,” tantang Delavar yang selalu tak mau rugi.
“Iya, nanti aku cium sampai kau puas.”
Delavar pun meluruskan kaki dan membiarkan Amartha melepaskan sepatu.
“Euh ... bau, kaus kaki apa ini, mahal tapi tetap saja tak membuatmu wangi,” ejek Amartha yang berpura-pura mencium sebuah kain tebal berwarna hitam yang baru saja dia lepas.
“What?” Delavar segera merubah posisi menjadi duduk. “Tidak mungkin bau, memangnya kau menghirup aromanya?” Dia yang tak percaya pun meminta kaus kakinya. Dan menempelkan ke hidung.
Mata Delavar memicing menatap Amartha. “Kau mengerjaiku? Wangi sekali, sudah aku semprot menggunakan parfum.”