
Setelah urusannya selesai, Delavar langsung pergi dari sana. Masih ada yang harus dilakukan lagi yaitu menemui pak tua Max yang masih berada di tengah laut.
Sedangkan Mama Lylac, dia tidak mengindahkan perintah Delavar untuk membaca perjanjian tadi. Dia terlalu senang mendapatkan cek sebesar sepuluh juta euro. Padahal, di sana jelas tertera banyak pasal yang pasti tidak akan membuat wanita paruh baya itu tersenyum lagi.
Perjanjian itu berisi bahwa setelah Amartha resmi menikah dengan Delavar, tidak ada lagi hubungan persaudaraan dengan keluarga Debora, dan tidak boleh mengakui sebagai sanak saudara lagi. Dilarang muncul diberbagai media baik cetak, radio, ataupun televisi. Intinya adalah, semua yang tertera di sana hanya menguntungkan keluarga Dominique, terkhusus Delavar yang membuat semua isinya. Mungkin bisa dikatakan bahwa Delavar membeli Amartha seharga sepuluh juta euro.
Semua itu Delavar lakukan untuk mengantisipasi agar Mama Lylac tidak merusak nama baik keluarga besar Dominique. Serta tak mengambil keuntungan dikemudian hari dengan memeras mereka. Maka lebih baik diperjelas saja dengan memutus hubungan kekerabatan Amartha dengan orang tuanya.
Memang terdengar sedikit tidak manusiawi atau tega tidak mengakui orang tua kandung sendiri. Tapi, jika dikilas balik bagaimana perlakuan Mama Lylac dan Papa Max yang tidak baik dan selalu mengambil keuntungan untuk diri sendiri, Delavar menganggap keputusan itu adalah yang paling bagus. Sebab, jika diamati dari sifat kedua orang itu, sepertinya akan sulit untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Tentu saja hal tersebut sudah Delavar diskusikan bersama Amartha. Untung saja calon istrinya paham apa yang dia inginkan. Sehingga satu hambatan pun terselesaikan.
Mari melihat bagaimana Papa Max mendapatkan balasan atas perbuatan jahat di masa lalunya.
Langit memang sudah gelap sedari tadi. Tapi Delavar tetap mengajak Amartha berlayar menaiki kapal pesiar milik keluarga Dominique, menuju tengah laut.
“Sayang sekali kita pergi di malam hari, jadi kau tidak bisa melihat hamparan air jernih yang indah,” ucap Delavar. Dia memeluk dari belakang tubuh calon istrinya yang sedang menikmati terpaan angin laut. Tak lupa dagu pun bersandar pada pundak Amartha.
Calon menantu keluarga Dominique itu mengelus punggung tangan Delavar yang melingkar di perut. “Lain kali masih ada waktu, Sayang. Sekarang kita selesaikan saja urusan ini.”
“Bagaimana kalau kita honeymoon keliling dunia dengan berlayar menggunakan kapal pesiar? Sepertinya akan seru,” celetuk Delavar memberikan ide cemerlang.
Delavar memutar tubuh wanitanya agar saling berhadapan. “Justru itu yang aku cari. Perjalanan lama, tapi kita bisa menghabiskan waktu untuk terus berduaan.”
Amartha mengelus dada bidang yang terbalut pakaian rapi. “Pasti kau ada maunya, kan?” Dia menebak, tapi sudah yakin seratus persen.
Delavar mengukir senyuman manis seraya menarik pinggul Amartha agar mendempel dengannya. “Tahu saja kau, kalau kita mengarungi lautan dan tak ada yang bisa mengganggu, pasti seru sekali karena bisa bermain berbagai gaya denganmu.”
Nahkan, Amartha sudah duga jika tujuan calon suaminya pasti tak jauh dari urusan peranjangan.
“Deal, ya?” tanya Delavar agar Amartha setuju untuk merubah konsep honeymoon.
“Oke, baiklah jika itu maumu.” Amartha mengalungkan tangan ke leher Delavar setelah menyepakati permintaan pria yang sudah membuatnya nyaman.
Ciuman pun Delavar labuhkan ke bibir Amartha. Menikmati indahnya dunia jika hanya hidup berdua tanpa ada Dariush yang senang sekali mengganggu dia.
Transportasi yang bisa mengapung di atas air itu sampai juga di tengah laut.
“Ayo turun ke bawah, kita naik speedboat saja untuk mendekati yacht di mana Papamu berada,” ajak Delavar mengulurkan tangan mengandeng Amartha.
“Ternyata jauh juga kau mengasingkan Papaku. Susah pula mau datang ke sini,” cicit Amartha seraya mengikuti langkah Delavar yang masuk ke bagian bawah kapal untuk berganti transportasi lain.