
Amartha sendiri juga tak tahu kenapa bisa hamil. Padahal dia sudah mengantisipasi walaupun tak tahu orang yang menidurinya membuang cairan di dalam atau di luar. Mungkin dia terlambat mengkonsumsi itu atau karena dia tak teratur meminumnya. Dia takut ketergantungan dengan obat itu dan mungkin bisa juga menimbulkan efek samping jika terlalu banyak menggunakan pil untuk mencegah kehamilan.
Tubuh Amartha beringsut ke bawah, bersimpuh di lantai dengan cucuran air mata yang enggan untuk berhenti. “Kenapa hidupku harus berakhir seperti ini?” lirihnya diikuti isakan hingga terdengar jelas suara sesegukan.
“Kenapa?” Amartha masih bergumam merutuki hidupnya. “Kenapa!” Dia mulai meninggikan suara dan memukuli perutnya sendiri. “Semua orang tega membuatku menderita!” Lagi-lagi dia meraung.
Rasanya, darah yang seharusnya mengalir menuju otak itu seakan terhenti. Dia benar-benar tak bisa berpikiran jernih saat ini. Hidupnya sudah sangat kacau.
Amartha berangsur berdiri. Dia membanting semua benda yang ada di sekelilingnya. “Argh ...!” Sampai tak tahu lagi dia harus berkata apa, hanya bisa meraung dan meraung saja.
Sudah tak ada lagi benda yang bisa dibanting di dalam kamar, kaki Amartha pun mengayun keluar. Dia menumpahkan semua kekesalannya pada botol minuman beralkohol yang berserakan di lantai.
Ini benar-benar titik terendah seorang Amartha Debora. Dia masih bisa berpikir jernih saat dipermainkan oleh Marvel. Tapi dijual dan sampai hamil dengan anak orang yang dia sendiri tak tahu siapa ayah dari janin yang berada di dalam kandungannya, membuatnya frustasi.
Pyar!
Satu botol Amartha lempar hingga mengenai layar televisi dan keduanya pecah. Menyusul botol lainnya yang juga dibanting olehnya.
Depresi, tentu saja. Siapa yang tak akan gila jika hidup penuh derita seperti Amartha? Masa depannya dihancurkan oleh orang tuanya sendiri. Bahkan Amartha seolah tuli saat ada suara seseorang menggedor pintu apartemennya. Yang ada dalam telinganya hanyalah bisikan-bisikan setan yang menyesatkan.
Kakinya bahkan seperti sudah tak merasakan sakit lagi saat telapak halusnya mengeluarkan banyak darah akibat menginjak serpihan kaca dari botol. Hati dan hidupnya terlalu pedih.
Rasanya sangat lelah, hidup pun terasa berat karena dia harus mengandung anak sialan yang tak diinginkan. Perut sudah dipukuli sekuat tenaga, pikiran yang stres, bahkan sampai mengkonsumsi alkohol pun janinnya tak keluar.
Tangan Amartha meraih pecahan kaca yang berserakan di lantai. Dia sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saja.
Amartha memposisikan pada nadi di lehernya karena paling dekat dengan kerongkongannya yang ada saluran pernapasan juga. Matanya terpejam dengan derai air mata yang tak bisa berhenti mengalir.
“Selamat tinggal duniaku yang kejam,” gumam Amartha. Dia sudah siap menggoreskan serpihan kaca itu, tapi tiba-tiba ada tangan kekar yang menghalanginya.
Pria itu adalah Delavar. Untung saja sebelum waktu yang dia tentukan, Roxy sudah selesai menyelidiki dan melaporkan di mana tempat tinggal Amartha serta menginformasikan jika wanitanya baru saja pulang dari rumah sakit.
Tanpa pikir panjang, Delavar ingin memastikan keadaan Amartha secara langsung. Bahkan sampai rela meninggalkan rapat bersama pemegang saham.
Sesampainya di apartemen Amartha, Delavar mendengar orang berteriak dari dalam dan suara pecahan kaca. Tak perlu menunggu dibukakan, dia pun berinisiatif untuk mendobrak pintu dengan bantuan kapak darurat yang ada di apartemen tersebut.