I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 150


Kedatangan Delavar dan Amartha di tempat casino itu menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana. Pasalnya, Delavar memang dari kalangan keluarga pebisnis terkenal. Ditambah pakaian yang nampak mahal pun membuat penasaran.


Delavar dan Amartha berhenti di meja yang mana Mama Lylac sedang duduk berdampingan dengan seorang pria yang entah siapa lagi itu.


“Ma,” panggil Amartha.


“Apa?” Mama Lylac menjawab. Namun pandangan mata terjatuh pada Delavar yang sedang menggenggam tangan putrinya.


“Bisa kita bicara sebentar di rumah? Ada hal penting yang harus aku sampaikan,” pinta Amartha.


Mama Lylac tentu saja langsung menyanggupi karena melihat pasangan Amartha adalah seorang pria yang merupakan keturunan Dominique, keluarga yang merajai hampir seluruh lini usaha di Eropa.


“Lanjut nanti, aku ada urusan.” Mama Lylac berdiri meninggalkan seorang pria yang sedari awal bergelayutan di tubuhnya.


“Hei, kau mau ke mana?” tanya pria tersebut yang sudah setengah mabuk.


“Pulang,” jawab Mama Lylac sebelum mengayunkan kaki.


“Urusan kita belum selesai, kau sudah ku bayar untuk bermain di dalam kamar.” Pria mabuk itu meraih tangan Mama Lylac lagi. “Kau jangan kabur dengan uangku dan tidak melakukan tugasmu sebagai pelacur!”


Delavar hanya diam saja sedari tadi mengamati betapa menjijikkan calon mertuanya itu. ‘Oh, God. Andai saja aku tidak terlahir dari seorang Mommy yang terlalu baik hati, pasti tak akan mau mengundang wanita ini ke pesta pernikahanku,’ monolognya dalam hati.


“Berapa uang yang kau terima dari pria itu?” Delavar pun akhirnya bertanya karena Mama Lylac tak kunjung menyelesaikan urusan dengan si pemabuk dan memiliki orientasi seksual yang sepertinya gila, menjijikkan, bahkan dia saja sampai tak akan mau menginjakkan kaki di sana lagi. Bagaimana tak gila jika pria itu masih terlihat muda, sedangkan yang dibayar untuk menuntaskan hasrat adalah seorang wanita dengan kulit yang sudah keriput dan berumur sekitar lima puluh tahunan.


‘Menjijikkan!’ Hanya satu kalimat itu yang terus saja berputar di dalam hati Delavar.


Delavar segera mengeluarkan dompet, mengambil empat lembar uang seratus euro. Dia melemparkan itu ke atas meja tepat di depan pria penyewa tubuh calon mertuanya.


“Itu uangmu, ku kembalikan dua kali lipat. Sekarang, lepaskan tanganmu itu!” titah Delavar dengan wajahnya yang dingin, datar, dan tak ada senyum seperti biasanya saat bersama keluarga serta Amartha.


Mama Lylac pun akhirnya dilepaskan juga, karena uang yang diberikan Delavar jauh lebih banyak dibandingkan yang dia keluarkan.


“Sering-seringlah kau ke sini,” ucap pria itu.


“Jangan mimpi!” sinis Delavar. Dia pun mengajak Amartha untuk berbalik badan. “Ayo kita keluar dari sini,” ajaknya seraya mengayunkan kaki keluar.


Ketiga orang itu pun akhirnya sampai juga di sebuah rumah kecil yang dalamnya sangat berantakan. Seperti tak pernah dibersihkan.


“Maaf, beginilah rumahku. Jauh berbeda dari mansionmu,” tutur Amartha yang mendengar jika Delavar baru saja menghela napas kasar.


Delavar mengulas senyum dan mengusap puncak kepala wanitanya. “It’s okay.”


“Silahkan duduk. Rumahku jelek, Amartha ini tidak pernah memberiku uang untuk membeli tempat tinggal baru yang lebih layak,” ucap Mama Lylac seraya menunjuk sofa yang baru saja dia bersihkan dari baju-baju berserakan.


Delavar jadi ilfeel dengan orang tua calon istrinya. Memangnya dikira dia tak tahu jika selama ini Amartha selalu memberikan setengah dari penghasilan untuk wanita itu dan pak tua Max. Bisa-bisanya menjelekkan wanitanya.


Untuk apa seperti itu? Pasti ingin mambuat Delavar iba dan akan berakhir memberikan tempat tinggal baru. Mimpi! Delavar tak akan pernah mau melakukan itu. Bahkan, dia sangat terpaksa saat menuruti Mommy serta Amartha yang menginginkan tetap mengundang Mama Lylac dan pak tua Max. Entahlah, pemikiran pria dan wanita memang bertolak belakang.