
“Tuan, orang ini mengalami dehidrasi.” Mr. Brave memberitahukan kondisi Maxim setelah selesai diperiksa.
“Obati saja dia, kau yang lebih tahu tentang kesehatan,” balas Delavar. Dia belum ingin melihat pak tua itu mati cepat, karena rasanya tak adil jika Amartha selalu dibuat sengsara tapi orang yang membuat wanitanya kesulitan akan mati dengan cara yang sangat mudah bahkan tanpa penderitaan sedikit pun.
“Saya harus melonggarkan talinya, Tuan. Saya akan memberikan infus untuk menambah cairan tubuhnya, tapi jika dia diikat sekencang ini akan membuat aliran ke dalam tubuhnya tak lancar,” ungkap Mr. brave agar tuannya memberikan izin.
Delavar terdiam sejenak untuk berpikir. “Oke, longgarkan saja. Tapi pastikan dia tak akan terbangun sampai besok. Aku tak ingin dia sampai berhasil kabur dari sini.”
“Baik.” Mr. Brave pun mencoba mengurai tali yang diikat dengan simpul sembarangan itu. Dia nampak kesulitan saat membukanya.
“Roxy, tolong kau bantu dia!” titah Delavar pada pria yang berdiri tegak di sampingnya.
“Baik, Tuan.” Roxy pun turun tangan juga. Dia bukan hanya mengerjakan perihal mata-mata saja, tapi apa pun yang diinginkan majikannya pasti akan dilakukan jika dia bisa.
Papa Max pun kini sudah tak terikat lagi. Namun Delavar meminta agar pak tua itu dibius agar tak terbangun selama diobati. Delavar ingin menghindari agar tawanannya tak kabur.
Mr. Brave memasang infus dan menyalurkan obat suntik dari selang itu juga atas permintaan majikannya. “Tuan, kemungkinan dia akan sembuh sekitar dua atau tiga hari lagi,” ucapnya memberi tahu setelah selesai mengobati tawanan Delavar.
“Berarti selama itu juga kau harus datang ke sini untuk membiusnya!” titah Delavar.
“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa membiusnya karena itu melanggar kode etik saya sebagai seorang dokter,” ungkap Mr. Brave. Dia hanya memberikan obat sesuai yang diperlukan saja.
“Sebagai seorang dokter, tugas saya adalah mengobati, Tuan. Sebelum diangkat menjadi petugas medis, saya sudah melakukan sumpah atau janji yang mana salah satunya berisikan bahwa dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.” Mr. Brave mencoba menjelaskan kenapa dia tak berani asal membius Maxim sesuai perintah Delavar. “Karena menurut saya orang ini tak perlu dibius akan sembuh, maka mohon dipahami juga posisi saya sebagai tenaga medis,” imbuhnya.
Delavar menghela napasnya. “Berikan saja padaku obat bius, aku yang akan menyuntikkan padanya,” pintanya seraya menengadahkan tangan.
“Maaf, saya tidak membawa.”
Delavar meniup udara ke atas hingga rambutnya berhamburan. “Baiklah, terima kasih atas bantuanmu. Tinggalkan infus dan obat suntik untuknya saja, aku yang akan mengobatinya sendiri,” tuturnya.
“Saya resepkan saja, karena saat ini hanya membawa satu.”
“Oke, terserah kau saja.” Delavar tak mau merusak profesi orang lain, sehingga dia tak akan memaksakan kehendak jika memang itu bertentangan dengan kode etik Mr. Brave selaku dokter. Namun karena dia tak memiliki janji atau sumpah pada siapapun, maka dia sendiri yang akan mencari dan membius tawanannya tanpa melibatkan dokter keluarganya.
Anak ketiga keluarga Dominique itu pun mempersilahkan Mr. Brave untuk pulang. “Roxy, antarkan dia sampai depan mansion dan tolong kau cari obat bius secepat mungkin!” titahnya sebelum Roxy keluar menyusul dokter keluarganya.
...*****...
...Aku cuma searching aja sih itu kode etik dokternya hehehe, jadi mohon maaf kalau dari kalian ada yang tenaga medis dan kebetulan ada yang salah dari yang aku sampein...