
Amartha menarik kepalanya ke belakang untuk menyudahi perang lidah yang memabukkan itu. Tentu saja Delavar mengeluarkan napas penuh kekecewaan karena masih ingin.
“Nanti lagi, sekarang kita kirim bingkisan untuk si keparat itu,” tutur Amartha seraya berpindah posisi menjadi berdiri.
“Kenapa harus sekarang? Masih ingin bermesraan denganmu,” balas Delavar yang tetap tiduran di sofa seraya meraih tangan Amartha untuk ditarik lagi.
Namun Amartha yang sudah tahu siasat Delavar pun menarik tangannya, menyembunyikan di balik tubuh agar tak bisa ditarik oleh Delavar. “Yasudah, aku pergi sendiri kalau begitu,” cicitnya hendak melangkahkan kaki menjauhi sang pria.
“No, aku temani.”
Ucapan Delavar itu membuat Amartha berbalik badan lagi dan tersenyum puas. Pria itu memang mudah sekali menuruti permintaan sang wanita. Apa lagi kalau sudah keluar kata akan pergi sendiri, pasti langsung luluh.
“Ayo, bersiap. Memangnya kau mau pergi dengan boxer dan kausmu itu?” ucap Amartha.
Delavar mengangkat kedua tangannya. “Bantu aku bangun,” pintanya. Pria itu benar-benar sudah mulai menunjukkan sisi manja pada wanitanya.
Amartha menaikkan sebelah alis. “Tapi tidak boleh iseng, ya? Jangan menarikku, nanti aku marah kalau kau melakukan itu.”
“Iya, ayo bantu aku bangun.”
Amartha pun mendekati Delavar, dan menarik kedua tangan pria itu. “Jangan membatu, kau berat jika seperti ini. Lemas sedikit,” titahnya yang tak kuat.
“Panggil aku sayang dulu.” Ada saja modusnya itu laki-laki satu.
“Sa—sayang.” Amartha sampai tak lancar mengucapkannya karena rasanya lidah itu kelu. “Sudah, ayo bangun.”
Delavar pun melemaskan tubuhnya, dan berhasil dibantu berdiri oleh Amartha. Lebih tepatnya, kakinya sengaja turun ke lantai dan berdiri sendiri tapi tetap terlihat seperti wanitanya yang membantu.
Amartha menggoyangkan tubuhnya. “Kau membuatku berat, Delavar. Kita berjalan sendiri-sendiri saja.”
“Tidak mau,” tolak Delavar. Dia memang melepaskan pelukannya untuk berpindah ke depan Amartha. Menengok ke belakang untuk meraih kedua tangan wanitanya. “Kalau begitu, kau saja yang berjalan dengan memelukku,” selorohnya dengan menaik turunkan kedua alisnya menggoda Amartha.
“Ya ampun ... Delavar, kau itu seperti bocah,” cicit Amartha yang tak habis pikir dengan tingkah sang pria. Kepalanya bergeleng tapi tetap melingkarkan tangan di perut Delavar. Bersandar di punggung anak ketiga keluarga Dominique tersebut untuk berjalan masuk ke dalam kamarnya.
“Perjuanganku untuk membuka hatimu sangat panjang, Amartha. Jadi, aku ingin merasakan bagaimana indahnya bermesraan denganmu terus,” jelas Delavar agar wanitanya paham kenapa dia seperti itu.
“Iya. Sudah, lepaskan tanganku. Aku mau ganti pakaian dulu,” pinta Amartha seraya mencubit kecil perut Delavar.
Delavar pun melepaskan tangannya dan berbalik badan untuk berhadapan dengan Amartha. “Seratus ciumannya mana? Tadi kan kita sudah deal kalau kau akan menciumku sebanyak seratus kali,” tagihnya.
“Diskon sedikit, lah. Banyak sekali seratus,” tawar Amartha.
“Yasudah, seribu kali.”
“Itu semakin banyak, namanya bukan diskon,” protes Amartha seraya mencari pakaian ganti untuk dirinya dan juga Delavar yang kini sudah diletakkan pada satu almari sama.
“Aku tidak mengenal diskon, tapi tahunya bunga,” kelakar Delavar beralasan.
“Seratus kali saja kalau begitu, tak jadi aku meminta diskon,” tutur Amartha seraya menutup almari dan meletakkan dua pasang pakaian di kasurnya.
“Dicicil ciumnya, aku mau DP sekarang sepuluh dulu,” pinta Delavar seraya menunjuk bibirnya.