I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 162


Pernikahan Delavar dan Amartha memang tidak terbuka untuk umum, hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan undangan kelas atas tersebut. Tapi, anak ketiga keluarga Dominique itu ingin membagikan moment kebahagiaannya kepada masyarakat. Dia memperbolehkan awak media untuk meliput secara langsung. Tentu saja hal itu tidak jauh-jauh dari strategi marketing seorang otak pebisnis.


Delavar akan melangsungkan pesta pernikahan selama satu malam penuh berlayar di atas lautan. Kapal pesiar yang besar, dengan fasilitas lengkap. Ada kolam renang, helipad, restoran, kamar mewah, supermarket pun ada di dalam sana. Tidak perlu takut kekurangan makanan atau tak nyaman.


Khusus untuk hari ini saja karena sedang tidak dikomersilkan, semua yang datang tidak perlu membayar biaya yang biasanya perorang harus keluarkan untuk menikmati fasilitas kapal pesiar milik keluarga Dominique dengan harga dua puluh lima ribu euro untuk tipe fasilitas terendah, sedangkan yang paling mahal bisa mencapai seratus lima puluh euro.


Sepasang pengantin membaur bersama tamu yang hadir. Delavar menyapa koleganya dan memperkenalkan Amartha.


“Istri Anda sangat cantik, Tuan,” puji Mr. William, kolega Delavar yang sangat mengesalkan.


Delavar melingkarkan tangan di pinggul istrinya. “Tentu saja, pilihanku tidak pernah salah.” Dia membalas dengan menyentakkan alis ke atas dan bibir yang terlukis senyum. Sedang menyombongkan diri.


“Terima kasih atas pujiannya, Tuan.” Amartha dengan kerendahan hati menimpali ucapan Mr. William. “Istri Anda juga sangat cantik.” Dia balas memuji wanita yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.


“Oke, aku permisi dulu untuk menyapa kolegaku yang lain.” Delavar berpamitan karena mata Mr. William sedari tadi menatap istrinya. Dan hal itu harus segera diberhentikan.


Delavar dan Amartha pun berjalan, berpindah menemui setiap tamu di sana.


“Pernikahan macam apa ini, aku juga orang penting di sini.” Mama Lylac menusukkan garpu di atas daging yang sedang dia santap. “Aku juga orang tua pengantin, tapi tak dihargai di sini. Orang kaya macam apa yang sombong semua seperti mereka.” Sudah tua, masih saja menggerutu.


“Bahkan tak dikenalkan pada seluruh dunia kalau aku adalah besan dari keluarga Dominique,” ucap Mama Lylac.


Mata wanita paruh baya itu menyapu ke seluruh penjuru kapal yang sangat luas. Dan dia melihat ada sekumpulan komunitas kaum sosialita yang sering dia lihat di televisi. “Aku harus bisa bergabung dengan mereka juga, ini kesempatan emas untuk menjadi terkenal. Punya besan kaya, harus dimanfaatkan.”


Mama Lylac berdiri dari tempat duduk dan menghampiri lima orang yang saat ini sedang berdiri melingkari meja yang setinggi setengah badan. “Hi, perkenalkan, aku Lylac Debora. Mamanya mempelai wanita,” ucapnya dengan percaya diri.


Kelima wanita itu justru melihat Mama Lylac dengan wajah penuh tanya. Menelisik penampilan dari atas sampai bawah. Jauh berbeda dengan mereka yang memakai barang branded.


“Kalau kau besan keluarga Dominique, pasti sudah dikenalkan sejak tadi oleh mereka,” celetuk salah satu orang itu. Dan dia pun melengos pergi diikuti oleh teman-teman yang lain.


Mama Lylac menghentakkan kakinya di lantai. “Sialan! Mereka tidak percaya denganku? Akan aku buktikan kepada seisi dunia!” tekadnya.


Mama Lylac melihat orang yang sedang memegang kamera berlogo salah satu stasiun televisi yang cukup bergengsi, dan dia mendekati orang itu untuk mengungkap jati dirinya. Jika keluarga Dominique tidak memperkenalkan, maka dia harus berinisiatif sendiri.