I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 23


“Berapa orang yang sudah memakai tubuh wanitaku?” Delavar terus menginterogasi Papa Max. Rasanya tak puas jika belum mendapatkan semua informasi yang diinginkan.


“Satu.”


“Jadi, selama lima kali itu kau menjualnya pada orang yang sama?”


“Ya!”


“Siapa orang itu?”


“Rahasia, aku tak bisa memberikan identitasnya karena itu kesepakatan kami.”


“Sekarang kesepakatanmu dengan aku, bukan dengan orang itu lagi! Maka katakan siapa orangnya dan kenapa dia menginginkan Amartha?!” sentak Delavar yang mulai emosi menghadapi Papa Max. Wajah pak tua itu benar-benar tak memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun.


“Kau cari tahu sendiri jika sangat penasaran akan hal itu, aku sudah memiliki kesepakatan hitam di atas putih dengannya agar tak mengungkap identitas dia.” Papa Max terus menolak dan membungkam mulutnya. Entah perjanjian macam apa yang dia buat dengan pengusaha muda pemakai tubuh Amartha.


Delavar meremas pegangan tas yang ada di genggamannya. Mata berwarna hazel green itu nyalang menghunus Papa Max. “Oke, aku akan mencari tahu sendiri siapa orang itu.”


“Berikan uang itu padaku!” pinta Papa Max.


“No, masih ada pertanyaan terakhirku.”


“Ck! Cepat katakan!” titah Papa Max tak sabaran. Dia sudah ingin memiliki uang sepuluh juta euro yang ada di dalam tas Delavar.


“Apa kau orang tua kandung Amartha?”


“Apa maksudmu?” Delavar justru bingung dengan jawaban pak tua itu.


“Kau tanya saja dengan mamanya yang murahan itu, dia hamil tak jelas dengan siapa. Bahkan aku sendiri tak yakin jika Amartha adalah anakku.”


Plak!


Dariush benar-benar tak sabar sedari tadi hanya berdiam diri dan mendengar ocehan pak tua yang membuatnya naik darah. Tangan berototnya pun melayang dan akhirnya meninggalkan geplakan di kepala Papa Max. “Kalau bicara jangan terlalu rumit, langsung pada intinya!” berangnya.


Papa Max mengaduh kesakitan. Rasanya ingin membalas, tapi dia benar-benar tak bisa bergerak. “Aku dan istriku sama-sama menyukai hubungan intim dengan banyak orang. Jadi wajar saja jika aku ragu jika Amartha adalah anakku,” jelasnya dengan nada kesal.


Delavar menghembuskan napasnya kasar. Pantas saja pak tua itu memperlakukan Amartha seperti barang yang dijadikan sebagai alat tukar. “Hidupmu terlalu rumit, tapi tak perlu juga membuat wanitaku menderita seumur hidupnya. Dia sudah berusaha untuk keluar dari lingkaran setan keluargamu itu, tapi kau menjeratnya. Walaupun kau tak yakin dia anakmu, tapi tak semestinya memperjual belikan tubuh Amartha tanpa persetujuannya!”


“Hidupku bukan urusanmu!” balas Papa Max dengan matanya yang terlihat tak suka karena Delavar terlalu ikut campur.


“Mulai sekarang, apa pun yang bersangkutan dengan Amartha adalah urusanku!” Delavar menyeringai seraya mengayunkan kaki mendekati pak tua itu.


Delavar menarik rambut yang sudah tak sepenuhnya hitam. Dia mencabut satu helai untuk dijadikan tes DNA sebagai pembuktian apakah Amartha adalah anak pak tua yang sangat menyebalkan itu atau bukan. “Kau harus menyesali perbuatanmu selama seumur hidup jika Amartha adalah anak kandungmu,” ucapnya seraya memperlihatkan sehelai rambut di tangannya.


“Dia tak mungkin anakku! Wanita murahan itu sudah tidur dengan banyak pria!” elak Papa Max.


“Kita tunggu sampai hasil tes DNA keluar!” Kaki Delavar mundur tiga langkah untuk menjauh dari Papa Max.