
Amartha merasakan ada tangan yang membelai rambutnya dengan lembut dan juga mendengar suara seorang wanita memanggil namanya. Dia mendongakkan kepala untuk memastikan siapa lagi yang datang menemuinya.
Amartha tak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya menatap secara bergantian pada sosok Mommy Diora dan juga seorang wanita yang tidak dia kenal. Tangannya mengusap pipi yang basah. “Ya?” Dia ingin bertanya kenapa mereka bisa datang ke tempatnya, tapi bibirnya terasa kelu dan tak bisa mengucapkan kata-kata itu.
“Ada yang ingin berkenalan dengamu,” tutur Mommy Diora seraya menunjuk psikiater di sampingnya.
Amartha mengalihkan pandangan ke arah orang yang ditunjuk. Dan dokter Sophie pun mulai memperkenalkan diri.
“Halo,” sapa dokter Sophie dengan ulasan senyum sangat ramah. “Aku Sophie.” Dia mengulurkan tangan, melihat bagaimana respon Amartha dengan orang yang baru pertama kali ditemui.
Amartha tak langsung membalas jabatan tersebut. Tapi cukup lama menatap kosong ke arah tangan yang menggantung di hadapannya. Dan setelah beberapa saat, barulah tangannya terulur untuk memperkenalkan diri. “Amartha.”
“Boleh aku duduk di sini?” izin dokter Sophie seraya menepuk sisi ranjang di hadapan Amartha. Dan dijawab anggukan oleh orang yang ditanya.
Dokter Sophie pun memposisikan dirinya senyaman mungkin dan menatap Amartha yang terus menunduk. Sedangkan Mommy Diora duduk di samping Amartha dan setia mengelus wanita itu.
“Boleh aku bertanya sesuatu denganmu?” ujar dokter Sophie. Dia ingin melakukan proses penyembuhan Amartha secara perlahan dengan menggali lebih dalam penyebab wanita itu menjadi seperti saat ini.
Amartha menjawab dengan anggukan saja.
“Kenapa kau menangis?”
“Karena aku sedih.”
“Apa yang membuatmu sedih?”
Amartha diam, dia memilih tak berkomentar dengan pertanyaan tersebut.
Dokter Sophie bisa mengerti, tidak semua orang mudah menceritakan penyebab kesedihan kepada orang lain. Sehingga dia bertanya hal lain. “Apa kau sedang memiliki masalah?”
Namun Amartha tetap diam.
“Kita makan, yuk?” ajak Mommy Diora.
Lagi-lagi kepala Amartha menggeleng. “Aku tidak lapar,” tolaknya.
“Aku suapi, mau?” tawar Mommy Diora. Dan lagi-lagi Amartha menggeleng.
Mommy Diora menghela napas pelan. Pantas saja Delavar mencari bantuan yang lebih ahli, ternyata memang sesulit ini menghadapi Amartha.
“Kita makan bersama, mau?” Dokter Sophie pun turut membujuk.
“Aku tidak lapar.” Terus saja Amartha menolak.
“Makan itu bagus untuk menambah stamina tubuh dan juga gizi. Jika kau tak makan, nanti bisa lemas,” tutur dokter Sophie.
“Tak apa, memang itu yang aku inginkan. Lemas dan berakhir mati,” timpal Amartha.
“Kalau kau tiada, bagaimana perasaan orang-orang yang menyayangimu? Pasti mereka sedih.” Dokter Sophie tak berhenti membujuk dengan berbagai cara.
“Tidak ada yang menyayangiku, semua orang hanya memanfaatkan aku,” jawab Amartha dengan lirih dan penuh kesedihan.
Tangan Mommy Diora otomatis memeluk tubuh yang begitu lemah di matanya. Padahal biasanya terlihat sangat kuat. “Ada aku, apa kau tak merasakan jika aku menyayangimu?”
“Anda hanya orang asing, Nyonya,” balas Amartha tanpa mengangkat kepalanya.
“Tapi aku tak menganggapmu orang asing, kau sudah seperti anggota keluargaku,” jelas Mommy Diora. Dan nada penuh ketulusan itu berhasil memancing Amartha untuk menatap ke arahnya.
“Benarkah?”
Mommy Diora mengulas senyum sangat ikhlas dan mengangguk. “Tentu saja, cantik. Kau itu orang penting bagi Delavar, putraku. Siapa saja yang berhubungan dengan anggota keluargaku, pasti aku anggap sebagai bagian dalam hidupku juga.”