
Jika tak mengingat mereka saat ini berada di tempat terbuka, pasti Delavar sudah menyeruduk Amartha dan menumbuk wanita itu saat sedang polos. Tapi ya tetap saja hanya akan berada di angan-angannya, karena calon istrinya menginginkan setelah pernikahan untuk melakukan hal tersebut agar lebih terasa keintiman atas hubungan keduanya.
“Sekarang kau sudah pandai membuatku terbang, Amartha,” cicit Delavar. Tangannya mencubit gemas dagu runcing di depannya.
“Aku hanya tak mau kau posesif padaku setelah menikah,” jelas Amartha, menggandeng kembali lengan calon suaminya dan berjalan menyusuri lantai tiga Stockmann Helsinki Department Store.
“Posesif tandanya aku sayang padamu, dan tidak mau terjadi hal buruk denganmu,” kilah Delavar beralasan.
“Kalau sesekali posesif tak masalah. Tapi, jika setiap hari baru tidak boleh. Sama saja kau mengekangku.”
“Baiklah, kau boleh menerima pengikut pria jika ingin menjadi beauty vlogger, tapi jangan membalas jika ada dari mereka mengirim pesan padamu.” Belum juga rencana Amartha terealisasi, sudah mendapatkan peringatan saja dari Delavar.
“Iya, Sayang.” Amartha mengelus lengan Delavar.
“Ayo kita ke sana,” ajak Delavar. Telunjuknya mengarah pada sebuah store yang sepertinya menjual mainan.
Amartha mengernyit heran dengan tujuan Delavar. Tapi tetap mengikuti pria itu untuk masuk ke dalam dan langsung mendapatkan sapaan dari pegawai di sana.
“Kenapa kau mengajakku ke toko yang menjual peralatan dewasa?” tanya Amartha setelah melihat isi seluruh tempat tersebut yang menyediakan berbagai barang-barang kebutuhan untuk menuntaskan hasrat.
“Tentu saja untuk membeli ini.” Delavar menunjukkan sebuah kotak kecil bertuliskan durex. “Pilihlah mau yang rasa apa.” Alisnya naik turun menggoda calon istrinya itu.
Amartha mencubit gemas Delavar yang memang kelakuannya semakin hari menunjukkan sisi kemesuman duniawi yang membuatnya di awal sangat terkejut dengan sisi lain calon suaminya itu. Tapi, seiring berjalannya waktu, kini sudah terbiasa.
Delavar merengkuh pinggul Amartha, sedikit menundukkan kepala agar sejajar dengan sorot wanita itu. “Wah ... ternyata kau menyukai semuanya, berarti juga suka semua gaya bermain?” godanya diakhiri kerlingan genit dan senyuman manis penuh arti.
Telunjuk dan jempol kanan Amartha mencubit bibir Delavar. “Apa tak bisa sehari saja jangan membahas itu?”
Muah
Delavar melabuhkan kecupan di kening Amartha. “Tidak bisa,” kilahnya.
Amartha bergeleng kepala, melepaskan tangan Delavar dan mengayunkan kaki melihat mainan dewasa di sana. Dia mengangkat sebuah bentuk yang berlubang dan menyerupai sumber kenikmatan milik wanita. “Delavar,” panggil Amartha.
Delavar yang masih sibuk dengan urusan perdurexan itu menengok ke arah Amartha. “Apa?”
“Kau mempunyai ini?” tanyanya seraya menunjukkan mainan yang biasa membantu seorang pria mengeluarkan bibit kenikmatan.
Delavar sampai bergeleng melihat Amartha yang sudah mulai tertular kegilaannya. “Tentu saja punya,” jawabnya seraya kaki mengayun mendekati calon istrinya itu.
Delavar mengambil alih mainan untuk orang dewasa tersebut dan meletakkan pada tempat yang kosong. “Tapi setelah menikah, tak akan berguna lagi, karena sudah ada yang asli,” bisiknya bermaksud menggoda.
Anak ketiga keluarga Dominique itu berganti mengambil alat panjang menyerupai pabrik pembuatan bibit premiumnya. Sebut saja alat itu adalah dildo. Kedua tangan kekar membawa mainan dimana satunya adalah benda yang tadi dipegang oleh Amartha.
Delavar memasukkan mainan panjang tumpul pada yang berlubang. “Nanti setelah kita menikah akan melakukan seperti ini.” Dia memaju mundurkan alat itu.