
Delavar kian mengikis jarak dengan Amartha, tapi tetap memberikan ruang untuk udara mengitari keduanya. “Ini pakaianmu.” Tangannya menyodorkan kain milik Amartha. “Saat aku membawamu ke mari, bajumu sudah sobek, bukan aku yang melakukannya.” Dia mencoba untuk menjelaskan terlebih dahulu sebelum wanitanya berpikiran buruk tentangnya.
Amartha menerima dua potong kain berwarna senada itu. Melihat ujung kemejanya di bagian badan yang robek dan beberapa kancing baju sudah terlepas. “Ya, saya tahu. Ini karena saya memberontak ketika akan dibius,” pungkasnya. Matanya menengok ke kanan dan kiri mencari sesuatu. “Apakah Anda tahu di mana tas saya?” tanyanya. Ini sudah pagi dan dia harus bersiap untuk berangkat kerja.
“Di mobilku, aku lupa mengeluarkannya,” jawab Delavar.
Amartha berangsur berdiri dan memberanikan untuk menatap Delavar yang ada satu langkah di hadapannya. “Bisakah antarkan saya untuk mengambilnya? Saya harus bersiap untuk ke kantor,” pintanya.
“Bisakah aku meminta satu syarat sebelum menyetujui permintaanmu itu?” Delavar balik mengajukan permohonan. Ini sangat penting baginya.
“Maaf, saya tidak bisa,” tolak Amartha. Permintaan orang kaya terlalu merugikannya, sehingga dia memilih untuk tak menerima daripada dimanfaatkan lagi seperti saat menjalin kasih dengan Marvel.
Amartha menganggukkan kepalanya sekilas, memberikan hormat pada Delavar. “Saya permisi, Tuan. Maaf jika sudah merepotkan Anda dan terima kasih atas bantuan yang diberikan,” ucapnya. Dia lebih baik tak mengambil tas daripada menyanggupi permintaan Delavar yang bahkan belum diucapkan.
Kaki Amartha sudah mengayun menuju pintu. Sejujurnya dia sangat butuh tasnya karena ada kunci apartemen dan beberapa uang yang bisa digunakan untuk ongkos pulang. Tapi tak apalah, dia bisa meminta kunci cadangan pada pihak apartemen tempatnya tinggal.
“Tunggu, Amartha.” Delavar mencegah wanitanya sebelum berhasil sampai ke pintu dan memutar tubuh sebanyak seratus delapan puluh derajat hingga matanya bisa menangkap punggung Amartha. Kakinya mengayun dan berdiri tegak di hadapan wanita yang tetap cantik walaupun baru saja bangun tidur itu.
“Ada apa lagi, Tuan? Apakah Anda ingin meminta balas budi atas kebaikan Anda?” Amartha langsung menebak begitu saja.
Amartha menghela napasnya lemah, ternyata Delavar sama saja dengan kebanyakan manusia yang menganggap kebaikan harus dibayar dengan balas budi. “Katakan, Tuan. Apa yang Anda inginkan?” Dia ingin segera tak memiliki ikatan dan hutang budi dengan pria kaya manapun lagi. Ingin sekali menjalani hidup dengan tenang menurut versinya sendiri.
Delavar bisa menilai ketegangan dalam diri Amartha, mungkin luka di masa lalu membuat wanitanya memiliki pikiran yang buruk tentangnya. “Aku hanya ingin kau berhenti berbicara formal denganku. Apakah bisa?” pintanya.
“Apakah hanya itu saja?”
“Ya. Cukup itu, dan aku tak menginginkan apa pun lagi.”
“Baik, saya akan lakukan.” Amartha menyetujui permintaan Delavar. Toh itu bukan sesuatu yang merugikannya.
Delavar menarik dua sudut bibirnya dan tersenyum sangat manis. Ini adalah permulaan untuk memutus kekakuan diantara keduanya. Bisa saja dia meminta balas budi yang lebih dari hal tersebut, tapi wanita yang sedang dia kejar adalah seseorang yang memiliki masa lalu dan latar belakang keluarga yang buruk. Maka dia ingin menjadi bunga di tengah hati yang gersang secara perlahan.
“Apa kau bersedia memulainya dari sekarang?” tanya Delavar dan dijawab anggukan kepala kaku oleh Amartha.
“Jika tak ada lagi yang ingin disampaikan, aku permisi.” Amartha kembali berpamitan. Canggung rasanya saat berbicara tak formal lagi pada Delavar.