I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 37


Tak berselang lama, Roxy pun datang kembali dengan membawa bius yang dia beli secara ilegal tanpa rekomendasi dari dokter. “Ini, Tuan.” Dia memberikan suntikan baru dan juga sebuah cairan untuk menghilangkan kesadaran seseorang.


Delavar tak menerima barang pemberian Roxy. “Kau saja yang menyuntikkan pada pak tua itu!” titahnya.


“Baik.” Roxy pun mulai membuka suntikan dari kemasan dan memasukkan cairan ke dalamnya. Karena dia sendiri tak tahu bagaimana cara menyuntikkan bius yang baik dan benar, maka asal saja menancapkan jarum kecil ke lengan Maxim. Tapi sebelumnya sudah dia usap dan bersihkan kulit yang akan disuntik menggunakan alkohol.


“Sudah selesai, Tuan.” Roxy menghampiri lagi Delavar yang tetap berdiri tegak di tengah-tengah ruangan.


“Oke, ayo kita segera pergi,” ajak Delavar.


Kedua pria itu pun meninggalkan Maxim Debora seorang diri. Tak lupa pintu juga dikunci agar sulit untuk orang keluar masuk. Delavar dan Roxy langsung menuju mansion seseorang yang ingin mereka temui.


Kendaraan roda empat yang dikendarai oleh Roxy itu berhenti di depan gerbang sebuah mansion yang megah, namun masih lebih mewah milik keluarga Dominique. Mobil yang mereka pakai diberhentikan oleh penjaga.


Roxy menurunkan kaca saat salah satu petugas keamanan itu mengetuk jendela mobilnya.


“Ada yang bisa dibantu, Tuan?” tanya petugas itu.


“Aku ingin bertemu majikanmu,” jawab Roxy dengan tegas dan wajahnya yang berwibawa.


“Ada keperluan apa?” Petugas itu harus memastikan terlebih dahulu jika kedua tamu tersebut tak bermaksud membahayakan majikannya.


“Kau hubungi saja majikanmu, katakan jika ada Delavar Doris Dominique datang!” tegas Roxy.


“Ikuti saja jalan utama di dalam, kalian ditunggu pada bangunan yang ada di tengah dan paling besar,” ungkap penjaga keamanan tersebut.


Roxy menutup kembali jendela kaca tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada orang tadi. Dia langsung menginjak pedal gas agar kendaraannya melaju.


“Kau tak berterima kasih padanya?” tanya Delavar menatap Roxy dari samping.


“Tidak, untuk apa? Itu tidak penting,” jawab Roxy dengan santai dan berwajah datar.


Delavar bergeleng kepala dengan kelakuan salah satu pekerjanya itu. Dia pun menurunkan kaca jendela sebelum mobil semakin menjauh. Tubuhnya sedikit keluar dan berteriak pada pria yang masih menatap ke arah kendaraan yang dia tumpangi. “Hei! Terima kasih!”


Setelah mengucapkan tiga kata tersebut, Delavar masuk lagi ke dalam mobil. “Apa sudahnya mengucapkan kata itu pada orang yang sudah membantu kita? Kau itu kaku sekali. Maaf, tolong, dan terima kasih! Jangan sampai kau melupakan itu,” omelnya pada Roxy.


Namun Roxy diam saja dan tak ingin menanggapi. Hingga mobilnya pun berhenti tepat di depan gedung yang sangat besar dan megah dengan desain Eropa klasik.


“Kita sudah sampai, Tuan,” tutur Roxy seraya mematikan mesin mobil dan membuka seatbelt.


“Oke.” Delavar pun ikut keluar dari kendaraan roda empat berwarna hitam mengkilat itu.


Ini adalah kali pertama Delavar menginjakkan kaki ke tempat tinggal pengusaha lain kecuali anggota keluarganya. Jika bukan karena ingin menuntaskan rasa penasarannya, dia tak akan mau datang ke sana.