
Selama semalam penuh Delavar tak bisa memejamkan mata. Rasanya tak rela dirinya tidur. Pikirannya dihantui oleh kondisi Amartha yang mungkin bisa saja melakukan aksi bunuh diri lagi saat sudah siuman, jika dia lengah dalam memantau wanita itu. Sehingga, dia pun memutuskan untuk meminum kopi sepanjang malam, dan menyibukkan diri dengan segudang pekerjaan dari MacBook yang dibawakan oleh sekretarisnya.
Pandangan Delavar terus berganti mengamati layar dan Amartha secara bergantian. Beberapa kali dia juga mengangkat telepon penting. Memastikan ke apartemen Amartha sudah selesai dibersihkan dan diganti pintu atau belum.
“Kau sudah memasang CCTV yang ku minta?” tanya Delavar pada Roxy. Dia ingin memantau Amartha karena tak ingin kecolongan.
“Sudah, Tuan,” jawab Roxy. Dia memperlihatkan sebuah kamera tersembunyi yang tak akan terlihat mencolok karena sangat kecil dan diletakkan pada sudut-sudut tertentu.
“Bagus.” Delavar menepuk pundak Roxy. Mereka juga sama saja tak istirahat karena Delavar menginginkan diselesaikan sebelum matahari terbit, dan sebentar lagi mentari akan menyingsing menyinari seluruh Kota Helsinki.
Setelah memastikan tempat tinggal Amartha siap huni lagi, Delavar kembali untuk memindahkan Amartha ke dalam apartemen wanita itu sendiri agar tak kebingungan saat terbangun di tempat asing.
“Sudah dua belas jam lebih dia tidur, tapi tak kunjung bangun,” gumam Delavar seraya melihat jam dipergelangan tangannya. “Apa dia tak lapar atau haus?” pikirnya.
Delavar sendiri sebenarnya sudah meronta-ronta perutnya meminta diisi. Dia biasa makan banyak dan mudah lapar. Tapi ingin menunggu Amartha bangun agar bisa menemani wanita itu menambah gizi dalam tubuh.
Delavar pun memilih mengayunkan kaki menuju sofa dalam kamar. Saat tubuhnya perlahan merendah dan ingin duduk, dia kaget bukan main melihat Amartha sudah bangun dengan posisi duduk dan menatap ke arahnya dengan mata sedikit melotot.
“Kau mengejutkanku, Amartha,” ucap Delavar seraya mengelus dadanya.
Amartha terlihat seperti seseorang yang kehilangan setengah jiwanya. Pandangannya memang menatap ke arah Delavar tapi seolah kosong. “Kenapa kau bisa di sini, Tuan?”
Delavar tak jadi menyatukan pantat di sofa. Dia beralih berdiri tegak memandang wanitanya. “Apa kau lupa? Aku memang di sini sejak kemarin.”
“Bukan, tapi aku membayar orang untuk melakukan itu,” jelas Delavar.
“Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Kenapa kau tak membiarkan aku mati saja?”
“Sudah jelas alasannya, aku memiliki rasa denganmu, dan tentu saja tak akan ku biarkan kau mati tanpa membalas perbuatan jahat semua orang yang membuatmu seperti ini!”
Amartha menatap tak suka pada Delavar. “Mulai sekarang, menjauhlah dari kehidupanku, Tuan Delavar!” perintahnya sangat tegas.
“Kenapa aku harus melakukan itu?”
“Aku sedang hamil dan ini bukan anakmu!”
Deg!
Delavar seketika mematung, tak bisa bergerak dan berucap. Ternyata Christoper tak main-main saat mengatakan sudah membuahi Amartha. Entah dia harus percaya atau tidak dengan yang diucapkan oleh wanitanya. Tapi Amartha tak akan membual hanya untuk menghindari dan menolaknya.
“Apa ini yang membuatmu sangat kacau?” tanya Delavar. Dia ingin mendekati wanita itu dan duduk di samping Amartha. Tapi tak cukup berani karena takut akan membuat Amartha kembali histeris seperti kemarin lagi.
“Kau tak akan tahu yang aku alami, Tuan! Sehina-hinanya manusia adalah aku! Hamil tapi tak tahu anak siapa!” Amartha menangis lagi, air matanya seolah tak ada habisnya. “Maka menjauhlah dari hidupku! Ku mohon,” pintanya seraya memukuli perutnya sendiri.
Delavar tak bisa diam saja. Dia mendekati Amartha dan mencekal tangan wanita itu agar berhenti menyakiti diri sendiri. “Mari bercinta denganku, aku akan menyumbangkan bibit-bibit kehidupanku, dan ku anggap anak yang ada di dalam rahimmu itu adalah anakku,” ajaknya.