
Amartha membungkam mulutnya, enggan memberikan tanggapan atas pertanyaan Mommy Diora yang menanyakan tentang perasaannya pada Delavar. Hanya kedikan bahu yang bisa dilihat oleh Nyonya Dominique, karena setelah itu Amartha menundukkan kepala, melanjutkan makan.
Mommy Diora tak mau ambil pusing. Kalau memang Amartha belum bisa menerima putranya, maka tak akan dipaksakan.
Setelah selesai menyantap hidangan pagi, Mommy Diora mengajak Amartha untuk membersihkan meja makan dan kini keduanya duduk santai di balkon. Hanya ada gedung pencakar langit di hadapan mata mereka.
Mommy Diora menggenggam tangan Amartha, sedangkan yang satunya mengelus permukaan kulit yang halus. “Jika kau memiliki masalah, ceritakan saja padaku atau Delavar, bisa juga ke Sophie. Kita cari jalan keluar sama-sama.” Dia mulai membuka obrolan lagi setelah sekian lama hanya ada keheningan di sana.
Tak ada respon apa pun dari Amartha, membuat Mommy Diora mengalihkan pandangan ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Pantas saja dia tak mendengar suara dari Amartha, ternyata orang yang diajak bicara sedang melamun.
“Amartha?” panggil Mommy Diora seraya menyentuh lengan orang yang dipanggil.
Amartha terlonjak kaget, dia seperti orang ling-lung untuk sesaat. “Ya?”
“Kau mendengar ucapanku?” Mommy Diora memastikan sekali lagi.
“Yang mana?” Amartha nampak kebingungan. Sebab, dia sedari tadi tak fokus dan melamun terus. Telinganya juga hanya menangkap dengungan tak jelas sampai Mommy Diora menyentuh lengannya hingga membawanya kembali pada dunia nyata.
Mommy Diora menggaruk sebelah alisnya. Ternyata sudah berbicara panjang lebar tapi tak didengarkan sedikit pun. Untung dia dianugerahi kesabaran yang seluas samudera, sehingga mau mengulangi ucapannya lagi. “Aku pasti akan berada di sampingmu untuk mengatasi semua masalahmu. Begitu juga dengan Delavar yang pasti membantumu,” tuturnya.
Air mata yang sudah mengering, kini kembali tumpah. “Apakah Anda akan tetap sebaik ini padaku jika tahu yang aku alami?” tanyanya sangat lirih, karena saat ini tenggorokannya sedang tercekat.
Melihat Amartha seperti bersedih lagi, tangan Mommy Diora otomatis menyentuh punggung dan memberikan usapan sangat lembut. “Tentu.”
Kini isakan mulai lolos dari bibir Amartha. Tetesan bulir bening pun nampak terjatuh dan membasahi pakaiannya. “Aku hamil, apa Anda masih akan memperlakukanku seperti keluargamu?” tanyanya dengan suara terdengar bergetar.
“Kau tetap ku anggap seperti keluargaku, Amartha. Tak masalah jika kau hamil. Menantuku, Felly juga menikah dengan putraku Danesh karena hamil duluan.”
Amartha menggelengkan kepala, seperti belum bisa yakin dan menerima jawaban dari Mommy Diora. “Aku bukan hamil anak keluarga Dominique. Tapi—” Ucapannya terhenti. Rasanya sangat sulit bibir itu mengucapkan jika anak yang dikandungannya tak jelas milik siapa.
“Siapapun ayah dari anak yang kau kandung, itu tak menjadi masalah bagi keluargaku. Dan sepertinya, Delavar pun tak peduli dengan siapa kau hamil. Objek yang menjadi fokusnya adalah kau, Amartha Debora, bukan anakmu.” Dengan lembut dan hati-hati, Mommy Diora memberikan pengertian. “Apa kau sedih dan ingin mengakhiri hidup karena masalah ini?”
Pertanyaan itu dijawab anggukan kepala oleh Amartha yang bahunya mulai terlihat naik turun seirama dengan suara sesegukan yang mulai cepat.
...*****...
...Jangan minta cepat-cepat Sayang, harus ada sebuah alasan kenapa Amartha menerima Delavar. Cinta tak seklasik nengok wajah cakep langsung jatuh cinta. Cinta tak semudah beli gorengan dua ribu tiga. Cinta tak semudah kisah lain yang tinggal ngancem langsung kelar masalah. Cinta butuh diliat keseriusannya, ketulusannya, pengorbanannya. Apa lagi kondisi Amartha yang sering dimanfaatkan. Kalau dia langsung bisa menerima Delavar, malah jadinya terkesan aneh dan maksain....