
Amartha sudah sampai di rumah sakit. Dia duduk di kursi bersama para pengunjung lainnya yang ingin berobat juga. Padahal ini weekdays, tapi tetap saja ramai, dia sudah datang sepagi mungkin agar tak lama menunggu antrian. Tapi nyatanya banyak yang datang lebih pagi dari dirinya.
Amartha mengusap perutnya saat kembali merasakan gejolak yang terus meronta ingin dikeluarkan. “Tahan, aku belum makan sama sekali, kau jangan menyiksaku seperti ini,” gumamnya lirih seolah memperingatkan pada perutnya agar bisa berkompromi.
Bukan lagi isi di dalam perut yang keluar saat dimuntahkan oleh Amartha, tapi entah cairan apa berwarna kuning dan rasanya sangat pahit. Tubuhnya bahkan sekarang sampai lemas. Masih harus duduk menunggu di kursi, padahal sangat ingin tiduran.
Saking tak memiliki banyak tenaga, Amartha bahkan tak mengendarai mobil sendiri. Namun menaiki taksi.
“Nona Amartha Debora,” panggil seorang perawat yang berdiri di dekat pintu ruangan dokter, seraya memegang sebuah kertas informasi pendaftaran yang tadi diisi oleh Amartha.
“Saya.” Akhirnya waktu yang ditunggu pun datang juga. Amartha segera bangkit dan menghampiri orang yang memanggil nama lengkapnya.
“Silahkan, Nona.” Perawat yang sepertinya bertugas sebagai asisten dokter itu memberikan jalan agar Amartha bisa masuk ke dalam.
Amartha mengulas senyum sebelum kaki jenjangnya mulai mengayun mendekati meja dokter umum yang dia tuju. Dia dipersilahkan untuk duduk di kursi dan berhadapan dengan seorang pria berjas putih.
Dokter langsung menanyakan keluhan yang dialami pasiennya. Dan Amartha menjelaskan kondisinya yang sudah beberapa hari ini sering mual di pagi hari tapi dia tak demam dan suhunya juga masih normal.
“Apakah mungkin aku keracunan makanan, dok?” tanya Amartha setelah selesai menceritakan semua kondisi kesehatannya.
Dokter itu mengulas senyum. “Saya cek terlebih dahulu, Nona. Silahkan untuk tidur di brankar,” titahnya.
Amartha pun mengikuti arahan dokter tersebut dan membiarkan tubuhnya diperiksa oleh pria berjas putih itu.
Setelah memastikan bahwa tak ada gangguan kesehatan pada pasiennya, dokter kembali mengajak Amartha untuk duduk berhadapan dengannya.
“Nona, apakah Anda ke sini sendirian, atau bersama kekasih atau suami?” tanya dokter itu.
“Sendirian, dok.”
Lagi-lagi ulasan senyum diberikan untuk Amartha. “Kesehatan Anda baik-baik saja, Nona. Detak jantung, suhu, dan tekanan darah juga masih dalam batas normal,” jelas dokter itu.
“Lalu, kenapa saya sering mual?”
Amartha membulatkan matanya, dia terkejut dengan jawaban dokter walaupun itu baru kemungkinan. “Hamil, dok?”
Dokter menganggukkan kepala. “Dipastikan saja dengan dokter obgyn, Nona.”
Amartha menghela napas kasar. Dia mengucapkan terima kasih pada dokter umum itu dan keluar untuk mendaftar kembali ke bagian obgyn.
Lagi-lagi Amartha harus menunggu. Namun kali ini lebih banyak wanita dengan perut buncit yang duduk bersamanya.
Resah, bingung, takut, semuanya bercampur aduk dalam hati Amartha. Telapak tangannya sampai keluar keringat dingin.
...........
Sementara itu, Delavar sedari pagi sudah menunggu Amartha di kantor Marvel. Dia bahkan duduk di ruangan sepupunya. Bolak-balik melihat ke arah meja sekretaris tapi tak kunjung melihat orang yang sangat dia nantikan kedatangannya.
“Biasanya Amartha datang sangat pagi, kenapa ini belum ada?” gumam Delavar.
Marvel yang sedari tadi melihat gerak-gerik saudara sepupunya itu pun mulai mengeluarkan suara. “Ini sudah jam masuk kantor, apa kau mau duduk di sana terus dan tak bekerja?” tegurnya.
Delavar menatap ke arah Marvel yang sudah bersiap dengan segudang pekerjaan itu. “Sekretarismu di mana?”
“Di sana, apa kau tak melihat ada orang duduk di meja depan ruanganku?”
Delavar kembali melihat ke arah luar melalui celah kaca. “Sekretarismu baru?”
...*****...
...Sambil nungguin si manis Delavar update, yuk mampir ke cerita temenku. Judulnya Merubah Takdir: Petaka Karena Perjodohan karya PenulisRatCheH...