
Delavar mempersilahkan Roxy untuk masuk ke dalam. Dan kini seorang pria berbadan tinggi sudah berdiri di depan Dariush dan Delavar.
Roxy menganggukkan kepala memberikan hormat. “Ada apa Anda mencari saya, Tuan?” tanyanya. Semalam dia mendapatkan pesan dari Delavar. Dia adalah salah satu orang kepercayaan keluarga Dominique.
“Tolong cari tahu siapa saja orang yang sering berhubungan dengan Maxim Debora. Aku butuh satu orang nama yang sering dia temui untuk memberikan hutang pada pak tua itu saat berjudi. Cari pria yang berani memakai tubuh Amartha Debora!” titah Delavar tanpa basa-basi terlebih dahulu.
“Baik, secepatnya akan saya laporkan kepada Anda.”
“Maksimal dua hari, aku tak ingin menunggu terlalu lama!”
“Jika tak sabaran seperti itu, untuk apa kau beri waktu dua hari. Lebih baik satu hari sekalian, kau itu tanggung sekali memberinya waktu,” celetuk Dariush. Bibirnya terasa gatal jika tak ikut menimbrung.
“Dariush! Kau itu bisa tidak jika tak menyela? Dasar mulutmu itu benar-benar kompor!” tegur Delavar. Dia masih belum bisa melupakan kejadian tadi pagi saat kembarannya tak bisa mengontrol ucapan. Apa lagi di depan Amartha.
Entah apa yang dipikirkan oleh Amartha sampai menghindari Delavar lagi. Mungkin dia terlihat tak gentleman? Atau kenyataan tersebut seolah seperti bualan? Tak ada yang bisa menebak, hanya Amartha yang tahu kondisi perasaan dia sendiri.
“Sorry, aku hanya gemas dengan caramu mendapatkan Amartha. Terlalu lambat dan halus,” ungkap Dariush beralasan.
Delavar mengeluarkan ponselnya dan menghidupkan kamera depan. Layar berukuran enam koma tujuh inch itu sengaja diarahkan ke wajah Dariush. “Kau harus berkaca dengan dirimu sendiri. Mendekati wanita dengan licik, nyatanya sampai sekarang Alceena juga belum berhasil kau dapatkan,” balasnya.
Delavar meletakkan kembali ponsel ke atas meja. “Kita itu sama-sama memiliki nasib cinta yang tak seberuntung Danesh dan Deavenny,” keluhnya.
“Hidup mereka terlalu mudah untuk mendapatkan jodoh,” timpal Dariush.
Roxy yang merasa terabaikan itu berdeham dan membuat kedua majikannya menatap ke arahnya lagi. “Jadi bagaimana, Tuan? Anda memberikan saya waktu satu hari atau dua hari?”
“Baik, jika sudah tak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya permisi.” Roxy pun pamit undur diri.
Begitu pula dengan Dariush yang harus bekerja di gedung perkantoran yang terletak satu kilometer dari tempatnya berada saat ini.
...........
Setelah lelah bekerja seharian, Delavar segera menuju kantor di mana Amartha bekerja. Walaupun wanitanya menolak untuk dijemput, tapi dia akan berusaha untuk tetap melakukan hal tersebut.
“Sial! Aku terlambat,” decak Delavar saat dia melihat Amartha sudah masuk ke dalam sebuah taxi.
Anak ketiga di keluarga Dominique itu akhirnya mengikuti ke mana perginya Amartha. Ternyata wanita itu kembali ke hotel yang semalam.
Delavar segera turun saat mobilnya sudah terparkir di samping kendaraan pribadi Amartha.
“Amartha,” panggil Delavar.
Keduanya saling bertemu tatap, namun tubuh mereka tersekat oleh kendaraan milik seseorang yang dipanggil tersebut. Amartha hanya memandang Delavar dengan datar dan tanpa ekspresi sedikit pun. Bahkan tak ada suara yang terlontar dari bibirnya yang indah.
“Apakah kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu keluar.”
“Maaf, tidak ada.” Amartha langsung masuk ke dalam mobilnya sendiri dan meninggalkan Delavar. Namun matanya melihat ke spion, tampak jelas sosok pria yang masih berdiri menatap kepergiannya. “Maaf.” Dia berucap dengan lirih dan matanya sedikit berkaca-kaca. Entah apa yang membuatnya seperti itu.