
“Apa kau tak ingin mandi dulu di sini, atau mensisir rambutmu?” tawar Delavar. Dia baru teringat jika belum memiliki sampel Amartha untuk dilakukan tes DNA dan saat ini ia sedang mencoba untuk mendapatkan setidaknya secuil rambut wanitanya.
Namun Amartha menjawab dengan gelengan kepala. “Tidak, aku langsung pulang saja,” tolaknya secara halus. “Permisi.” Kakinya kembali mengayun menuju pintu. Kamar Delavar benar-benar memperlihatkan bahwa mereka adalah keturunan keluarga kaya, terlalu luas untuknya yang tinggal di apartemen biasa. Buktinya, sudah melangkah sebanyak sepuluh kali pun belum sampai ke pintu.
“Kalau begitu, biarkan aku antar kau pulang.” Delavar ikut berjalan di samping Amartha.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” tolak Amartha lagi. Dia tak ingin bergantung atau bisa saja dianggap hutang budi lagi jika menerima bantuan Delavar.
Delavar berinisiatif membukakan pintu untuk Amartha keluar. “Baiklah, tapi izinkan aku untuk mengantarmu sampai depan. Tasmu ada di dalam mobilku, dan kau pasti membutuhkan itu.” Dia tak ingin terlalu memaksakan kehendak jika wanitanya memang tak ingin diantar.
Sebisa mungkin Delavar membuat Amartha nyaman saat bersamanya, walaupun itu sangat sulit. Mengingat Amartha yang terlalu menutup diri dan seolah tak mengizinkannya masuk ke dalam kehidupan pribadi wanita berparas anggun tersebut.
Amartha mengangguk memberikan izin. Yang dia inginkan hanyalah tasnya, bukan diantarkan oleh Delavar. Tanpa berbicara sepatah kata pun, keduanya bersamaan berjalan menuju tangga. Namun langkah keduanya berhenti saat berpapasan dengan seorang wanita paruh baya yang masih cantik walaupun sudah berumur.
“Oh, hi, Amartha,” sapa Mommy Diora.
“Selamat pagi, Nyonya.” Amartha menganggukkan kepalanya memberikan hormat.
“Kau mau ke mana?” tanya Mommy Diora.
“Untuk apa pulang? Aku sudah membawakanmu pakaian kerja baru, kau bisa bersiap dari sini dan berangkat bersama Delavar,” pungkas Mommy Diora. Dia memperlihatkan setelan kerja yang masih berada di hanger dan tertutup plastik.
Amartha menggeleng seraya mengulas sedikit senyum samarnya. “Tidak perlu, Nyonya. Saya bersiap di apartemen saja.”
Mommy Diora mendekati Amartha dan menepuk pundak wanita yang ditaksir oleh putranya. “Tak baik menolak kebaikan dari orang lain, itu namanya tak sopan,” tegurnya.
“Maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud untuk menolak kebaikan keluarga Anda. Tapi saya merasa tak enak jika tak bisa membalas semua yang sudah keluarga Anda lakukan pada saya.”
“Kau tak perlu membalas kebaikan kami, keluargaku tak menginginkan apa pun darimu. Cukup tak menolak kebaikan yang keluargaku berikan.” Mommy Diora menggandeng lengan Amartha dan mengajak wanita itu untuk kembali ke kamar Delavar.
Amartha tak bisa mengelak apa pun. Yang dia hadapi adalah orang tua, sehingga hanya bisa menurut saat tubuhnya dibawa masuk ke dalam walk in closet yang ada di kamar Delavar.
“Nyonya, saya bisa mandi di kamar mandi khusus pelayan. Sepertinya kurang pantas jika menggunakan di ruangan milik Tuan Delavar.” Amartha mencoba untuk menolak saat Mommy Diora mendesak untuk memakai ruangan milik anak ketiga keluarga Dominique.
“Delavar, tanpa tuan. Aku bukan majikanmu.” Dia meluruskan panggilan yang dilontarkan oleh Amartha. “Pakai saja kamar mandiku, aku tak masalah berbagi tempat denganmu,” imbuhnya memberikan izin.
Mommy Diora meletakkan pakaian kerja untuk Amartha ke atas sofa yang ada di dalam walk in closet. Lalu melemparkan senyuman layaknya seorang ibu yang penuh kasih sayang tulus. “Tak perlu merasa berkecil diri dengan kami. Kau adalah tamu di mansion ini, maka sudah sepantasnya tuan rumah memperlakukanmu dengan baik,” tuturnya memberikan pengertian kepada Amartha yang sedari tadi terlihat kaku.