
Amartha tak langsung menyantap hidangan yang dipersembahkan oleh pria termanis semanis madu melebihi mantan kekasihnya dahulu. Dia tak akan memungkiri fakta itu, memang Delavar orang yang cukup mengesankan dan pantang menyerah walaupun penolakan demi penolakan sudah dia layangkan ratusan kali.
“Ada apa? Kenapa kau memandangiku terus? Apa pizzanya terlihat kurang lezat?” Pertanyaan Delavar membuat Amartha langsung menundukkan kepala dan bergeleng.
Tangan Amartha segera meraih makanannya dan memasukkan perlahan ke dalam mulut. Memutuskan pandangan agar tak disangka mengagumi Delavar.
Delavar menarik kedua sudut bibir seraya mengambilkan hidangan lain. “Tambah lagi, sedih juga butuh tenaga untuk menangis,” kelakarnya.
Dan Dokter Sophie yang duduk di samping Delavar langsung menepuk paha pria itu untuk memberikan kode agar tak sembarangan berbicara.
Delavar menyengir kuda dan mengucapkan kata maaf tanpa suara, hanya bibirnya saja komat kamit.
Anak ketiga keluarga Dominique itu ikut menyantap makanan, tapi tak bisa nyaman karena ponselnya terdengar berdering. “Maaf, aku angkat telepon sebentar. Kalian lanjutkan saja makannya,” izinnya seraya memundurkan kursi dan beranjak pergi.
Delavar berdiri di dekat jendela kaca dan bisa melihat bangunan tinggi di luar sana. “Ya, ada apa?”
“Anda tidak berangkat ke kantor, Tuan?” Ternyata sekretaris Delavar yang menghubungi.
“Tidak.”
“Lalu, bagaimana dengan pertemuan bersama Mr. Whitney, Mrs. Moon, dan Mr. Cauly? Salah satu dari mereka sudah menunggu untuk membahas tentang tender yang dipercayakan kepada perusahaan Anda.”
“Undur saja pertemuannya,” pinta Delavar seraya melirik ke arah meja makan.
“Tidak bisa, Tuan. Anda tahu sendiri jika mereka orang yang sulit untuk diajak kerjasama lagi kalau kita sudah terlihat tak kompeten.”
Delavar menghela napasnya dan menyugar rambut. “Aku akan ke sana,” finalnya.
Delavar mengantongi lagi ponselnya. Kali ini tak bisa meminta bantuan pada kembarannya karena mereka semua sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
“Sepertinya aku harus berangkat ke kantor,” ucap Delavar setelah sampai ke meja makan lagi.
“Berangkatlah, aku yang akan menemani Amartha,” sahut Mommy Diora seraya mulutnya mengunyah makanan.
Delavar tentu saja tersenyum lega. Mommynya benar-benar pengertian kalau saat ini dia sedang tak bisa meninggalkan Amartha sendirian.
Delavar beralih mendekati wanita yang sudah melahirkannya. Memberikan kecupan di pipi pada wanita itu dengan penuh kasih.
Semua yang dilakukan oleh Delavar itu tak terlepas dari pengamatan Amartha. Namun saat Delavar selesai menciumi Mommy Diora dan pandangan keduanya saling bertemu, buru-buru Amartha menunduk.
Delavar beralih mengayunkan kaki, posisinya kini ada di samping Amartha. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu sampai sedari tadi memandangi dirinya tapi saat sudah terpergok langsung mengalihkan pandangan.
Tangan Delavar terulur untuk mengelus puncak kepala Amartha dengan lembut. “Aku berangkat kerja dulu. Kau ditemani mommyku dulu, oke? Jika kau butuh sesuatu atau merindukan aku, langsung hubungi saja nomorku,” izinnya sangat lembut.
Delavar tak menunggu respon apa pun dari Amartha. Dia langsung berjalan keluar walaupun wanitanya masih terus menundukkan kepala.
Sementara itu, seutas senyum tipis mengias di balik wajah yang tertutup oleh rambut kusut.
“Heran aku, perasaan aku dan suamiku tak ada yang semanis dia. Kenapa Delavar bisa seperti itu?” gumam Mommy Diora diiringi kekehan kecil.
Mommy Diora pun melihat ke arah Amartha yang kini sedang duduk sedikit memutar tubuh untuk melihat ke arah pintu keluar. “Kau mulai menyukainya?”