
Delavar dan Amartha diam-diam berpindah kapal tanpa ada satu orang pun yang tahu. Cruise ship yang mereka gunakan untuk bulan madu memang tak sebesar lokasi pesta pernikahan. Toh hanya diisi sepasang pengantin baru dan seluruh awak kapal saja.
Delavar mematikan seluruh ponselnya agar tidak diganggu selama bulan madu. Pria itu membawa sang istri berlayar selama tujuh bulan penuh tanpa pulang ke Finlandia dan melewatkan dua musim.
Honeymoon yang tadinya ingin keliling dunia, berubah rencana menjadi menyusuri lautan hingga ke negara Asia saat wilayah Eropa musim salju. Tentu saja karena Delavar ketagihan bermain setiap hari dengan Amartha, sampai rasanya tak rela jika terlalu lama digunakan untuk jalan-jalan. Sehingga dalam waktu satu bulan, hanya satu minggu singgah ke negara lain.
Jangan ditanya selama tujuh bulan itu sudah melakukan gaya apa saja. Tentu seluruh gaya sudah dipraktekkan oleh Delavar. Dan pria itu menyukai semuanya. Sofa tantra yang dia beli sebagai hadiah pernikahan ternyata bukan hanya satu, tapi banyak. Bahkan ada di kapal pesiar yang saat ini sedang mengapung di atas laut Atlantik Utara pada akhir musim semi.
Dan malam ini pun Delavar sedang menghujam sang istri di atas kasur yang lebih empuk. Bosan jika hanya di sofa tantra terus. Bahkan di atas meja, kursi, dapur, kamar mandi. Hampir semua tempat yang ada di kapal pesiar itu sudah Delavar coba. Hanya satu yang tidak ingin keturunan Dominique tiru, yaitu bermain di dalam kereta kencana seperti orang tuanya.
Delavar menelusupkan jemari di tangan Amartha. Pinggul tetap naik turun meliuk di atas tubuh sang istri tercinta yang sedang membuka kedua paha lebar-lebar. Bibir tentu saja saling berperang lidah. Sensasi yang begitu memabukkan dan candu bagi keduanya sedang dirasakan membakar gairah untuk bercinta.
Alunan suara yang kini menjadi favorit sepasang pengantin baru itu setiap hari didengar, pagi, siang, sore, malam. Tidak ada absen satu hari pun, kecuali saat Amartha sedang datang bulan.
Namun, sudah tiga bulan bulan terakhir ini mereka tak pernah absen. Bahkan gairah Amartha jauh lebih dominan dibandingkan Delavar. Akhir-akhir ini, justru wanita itu yang sering meminta untuk dipuaskan.
“I think so.” Amartha ternyata juga merasakan hal sama. “Pelan-pelan saja, Sayang. Perutku mendadak sakit,” pintanya saat Delavar mulai menaikkan ritme hentakan dengan semangat yang membara, bahkan sampai dua buah di dada yang kencang dan menonjol itu bergoyang naik turun.
“Tentu, katakan saja jika kau tak nyaman. Aku akan melakukan dengan hati-hati.” Delavar bukan suami yang egois memikirkan kenikmatan sendiri, dia menurunkan kecepatan pinggulnya.
“Kita keluarkan sama-sama, Sayang,” ajak Delavar yang sudah ingin menyemburkan bibit premium calon anak-anaknya.
Dan percintaan selama satu jam itu akhirnya sampai juga pada puncak kenikmatan. Delavar sudah tidak memakai pengaman seperti biasanya, dan bibit calon anaknya tidak dibuang secara sia-sia lagi sejak tiga bulan yang lalu.
Delavar tidak langsung mencabut miliknya. Sedikit menaikkan pinggul sang istri untuk untuk memastikan cairan kehidupan itu masuk hingga ke dalam rahim dan siap bertempur menerobos ovum.
Dan setelah dirasa milik Delavar berubah volume menjadi kecil lagi, dia ambruk di atas tubuh Amartha. Memeluk istri tercinta serta menciumi seluruh wajah. Dan keturunan Dominique itu membisikkan sesuatu. “I love you.”
“Love you more,” balas Amartha seraya tangan mengelus punggung Delavar. Dan tiba-tiba dia merasakan perut sedikit terasa tak enak. “Sayang, bisa kau turun dari atas perutku? Posisinya tak nyaman,” pintanya sangat lembut.