I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 178


Dengan berat hati, Delavar berangkat bekerja. Selama di kantor, pria itu tak fokus. Pikiran terus saja berhenti pada sang istri yang sejak tadi belum menjawab pesan darinya. Padahal, baru juga lima jam berpisah.


“Atau aku telepon saja?” gumam Delavar yang sudah tak sabar ingin mengetahui kabar dari Amartha. Anak ketiga keluarga Dominique itu sudah meraih ponsel hendak menelepon istri tercinta. Tapi, pintu mendadak diketuk dari luar dan menyembulkan sekretaris baru pilihan Daddy Davis.


“Tuan, rapat segera dimulai.”


Informasi itu membuat Delavar mendesah kecewa karena harus mengurungkan niat untuk menelepon Amartha. “Oke.” Dia pun memasukkan ponsel ke dalam saku jas dan keluar menuju ruang rapat.


Sepanjang waktu pembahasan proyek yang akan dijalankan oleh perusahaan Delavar, pria itu fokusnya terus terbagi. Entah kenapa tak seperti biasa. Hari ini dia merasa berat meninggalkan Amartha dan selalu kepikiran dengan istri tercinta.


Mata Delavar bergantian melihat ke arah layar ponsel dan proyektor. Jemari sedari tadi tak bisa berhenti bergerak. “Kenapa istriku tak ada kabar sampai sore?” Lagi-lagi dia bergumam seorang diri. Biasanya, Amartha setiap jam sudah mengirim pesan.


“Tuan, mohon untuk fokus pada rapat terlebih dahulu,” tegur sekretaris baru Delavar dengan berbisik dari arah belakang.


“Iya.” Delavar pun membalikkan layar agar mata tak mencuri pandang ke arah ponsel pintar itu. Dia mendengarkan dan meneliti dengan seksama.


Namun, saat Delavar sudah mulai bisa fokus pada rapat, justru merasakan getaran dari ponsel. Segera tangan pun meraih benda tersebut untuk melihat penelepon. Hembusan napas kecewa keluar dari bibir. “Ku kira istriku, ternyata Mommy.”


Delavar menaikkan tangan untuk memberikan isyarat agar rapat dijeda terlebih dahulu. “Aku keluar sebentar,” pamitnya, lalu meninggalkan ruangan tersebut.


Delavar segera mengangkat telepon sebelum terputus. “Ya, Mom? Ada apa?”


“Ke rumah sakit segera! Istrimu mau melahirkan!” Suara Mommy Diora terdengar tergesa-gesa saat memberikan perintah.


“Jangan banyak bertanya! Datang ke sini segera! Istrimu sudah merasakan kontraksi!”


“Rumah sakit mana?”


“Hakanimen Grand Luxury!”


Mommy Diora pun langsung mematikan panggilan tersebut. Delavar segera masuk kembali ke dalam ruang meeting.


“Kita tunda rapatnya, istriku akan melahirkan!” Setelah mengucapkan hal tersebut, Delavar berlari menuju ruangannya untuk mengambil kunci dan bergegas ke rumah sakit.


Delavar berusaha agar cepat sampai sebelum Amartha melahirkan. Dia sudah berjanji akan menemani proses persalinan sang istri. Kecepatannya bahkan sampai melebihi batas.


“Kenapa waktunya maju banyak sekali? Bukankah prediksi dokter bulan depan baru melahirkan?” gumam Delavar berpikir sendiri. Dia sudah takut kalau terjadi sesuatu dengan Amartha.


Pria itu segera turun dari mobil saat sampai di rumah sakit. Dia sampai berlari. Dadanya saat ini sedang berdebar. Namun ada satu hal yang terlupakan. “Di mana kamar istriku?” Tangan pun mengacak-acak rambutnya sendiri karena terlalu panik mendapatkan kabar dadakan tersebut.


Delavar menelepon Mommy Diora lagi untuk bertanya, tanpa memelankan jalannya. “Aku sudah sampai, Amartha di mana?”


“Masih di kamar VIP satu, dia belum mau masuk ke dalam ruang operasi sebelum kau datang.”


“Oke, thanks.” Setelah memasukkan ponsel ke dalam saku, Delavar menuju ke lift. Tapi cukup banyak antrian. “Kenapa banyak sekali orang sakit hari ini,” decaknya kesal sendiri.