I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 49


Delavar ingin memindahkan Amartha ke dalam kamar agar tidur wanita itu lebih nyaman. Tapi dia justru mematung saat melihat kondisi ruangan yang ada di depan matanya sudah tak keruan. Dia pun memutuskan untuk kembali menemui Roxy.


“Tolong kau sewakan satu apartemen untuk sementara waktu!” titah Delavar.


“Ingin di lantai berapa, Tuan?” Roxy mengajukan pertanyaan agar permintaan majikannya itu lebih detail.


“Di samping milik Amartha,” jelas Delavar.


“Baik.” Roxy pun keluar untuk mengetuk pintu dua kamar yang ada di samping dan satu di depan tempat tinggal Amartha. Dia meminta pemilik tersebut untuk menyewakan hunian mereka, tapi ditolak. Tak ada yang mau.


Roxy pun kembali menemui Delavar untuk menyampaikan ketidak berhasilannya. “Semua apartemen ini sudah penuh, Tuan. Dan pemilik di dekat tempat tinggal Nona Amartha tidak mau menyewakan,” ungkapnya.


“Gunakan kekuatan uang, Roxy! Tak masalah aku bayar dengan harga berapa pun sampai apartemen Amartha dibetulkan,” tegas Delavar.


“Baik.” Roxy pun menemui lagi pemilik unit di samping. Dia menawarkan untuk menyewa dengan harga lima ratus euro permalam atau setara dengan lebih dari delapan juta rupiah. Tentu saja pemiliknya langsung sepakat dengan penawaran tersebut.


“Hidup sangat mudah untuk orang-orang yang memiliki uang banyak,” gumam Roxy seraya memberikan lima lembar seratus euro kepada wanita yang berdiri di hadapannya. “Ini untuk sewa hari ini, selanjutnya aku akan mentransfer. Berikan nomor rekeningmu padaku,” jelasnya.


“Oke.” Wanita tersebut mengambil uang dan masuk ke dalam, meninggalkan Roxy tetap menunggu di depan pintu seorang diri. Dia kembali lagi membawa selembar kertas bertuliskan nomor rekeningnya. “Ini, aku ingin pembayaran dilakukan setiap hari!” pintanya.


“Bisa diatur, dan mulai detik ini, keluarlah dari sini karena apartemen ini sudah ku sewa!” usir Roxy tampa memberikan tenggang waktu.


“Kerja bagus, Roxy,” puji Delavar. Dia membopong Amartha dan memindahkan wanitanya untuk sementara waktu.


Dengan hati-hati Delavar merebahkan Amartha di ranjang yang lebih nyaman. Berdiri menatap kondisi yang sangat kacau itu dari atas sampai bawah. Lalu mendekati kaki yang nampak ada serpihan kaca masih tertancap di sana.


Delavar bahkan sampai meringis melihat itu. Bagaimana bisa Amartha tak kesakitan dan biasa saja. Dia ingin mengeluarkan kaca tersebut, dan mengobati luka yang sepertinya sangat serius, tapi takut salah dan justru membuat semakin melukai wanitanya.


Mata anak ketiga keluarga Dominique itu menatap ke arah Roxy yang sedari tadi hanya berdiri di luar pintu kamar. “Tolong ambilkan ponselku di apartemen Amartha, dan panggilkan orang untuk membenarkan pintu serta membersihkan tempat tinggalnya!” titahnya.


Roxy mengangguk dan langsung menjalankan perintah. Tak berselang lama, dia kembali membawa barang berharga fantastis milik tuannya.


Delavar segera menelepon Mr. Brave untuk datang ke sana secepat mungkin sebelum terjadi infeksi pada kaki Amartha. Dia menunggu di sofa dalam kamar tersebut. Kalimat Amartha yang mengatakan dirinya melecehkan wanita itu terus terngiang di kepalanya, sehingga untuk sementara waktu memantau dari jarak tak terlalu intens saja.


Orang yang dinanti pun akhirnya datang. Delavar langsung memberikan perintah pada Mr. Brave untuk mengobati luka.


Delavar meringis saat melihat kaca dikeluarkan dari telapak kaki Amartha. “Jika dia sadar, pasti itu sangat sakit,” gumamnya.


“Tuan, sepertinya ini harus dijahit karena lukanya lumayan dalam,” tutur Mr. Brave.


“Lakukan saja yang terbaik untuknya!” Delavar percaya dengan keputusan dokter keluarganya pasti yang terbaik.