
Sementara itu, di sebuah mansion yang tak terlalu basar dan juga tidak kecil. Seorang pria dengan paras biasa saja, tidak tampan tapi juga jelek pun tak terlalu, rambut ikal berwarna seperti karat pada besi itu turun dari mobil dengan wajah kesal. Dia adalah Christoper. Kakinya mengayun masuk ke dalam bangunan tersebut seraya tangannya memegangi area pangkal paha.
Kedatangan Christoper langsung disambut oleh adik tersayangnya, Jessy. Wanita yang duduk di kursi roda itu melemparkan banyak pertanyaan.
“Bagaimana keadaanmu? Kau lama sekali di rumah sakit, memangnya kenapa sampai bisa kau dihajar oleh Delavar pujaan hatiku?” tanya Jessy tanpa memberikan jeda agar Christoper menjawab.
Christoper mendekati adiknya, mengambil alih kendali kursi roda itu dan mendorong menuju sofa yang ada di dalam. “Aku sudah pulih, jika aku masih sakit pun pastinya tak menginjakkan kaki di sini!” Dia hanya menjawab pertanyaan pertama sang adik.
Jessy menengok ke belekang dengan kepalanya sedikit mendongak. “Delavar, kenapa kau bisa dihajar oleh dia?” Dia mengetahui hal tersebut karena setelah pujaan hatinya pergi, dirinya yang menemukan Christoper sudah tergeletak di lantai dan buru-buru menelepon ambulan.
Chirstoper duduk di sofa saat sampai di ruang keluarga. Berhadapan dengan Jessy. Kedua tangannya mencengkeram pegangan alat bantu jalan sang adik. Tatapan keduanya saling bertemu. “Aku membelamu dan mengusahakan agar dia mau bertanggung jawab untuk menikahimu setelah membuat kau lumpuh seperti ini.”
Wajah Jessy langsung berseri, dia senang saat mendengar kakaknya meminta Delavar untuk menikahi dirinya. “Lalu, apa jawabannya?” Penasaran sudah menyeruak di dalam hatinya, rasanya berdebar ingin tahu kelanjutan cerita dari Christoper.
Christoper mengulas senyumnya. Dia bingung harus menceritakan jujur atau tidak. Pasti adiknya akan sedih jika tahu Delavar tidak bersedia menikahi wanita lumpuh itu. “Aku masih mengusahakan yang terbaik untukmu,” kilahnya seraya mengelus puncak kepala Jessy.
Jessy adalah satu-satunya anggota keluarga Christoper. Kedua orang tua mereka sudah meninggal, dan hal itu membuat pria berambut ikal berwarna seperti karat besi tersebut seperti memiliki tanggung jawab besar terhadap kebahagiaan sang adik.
“Kau memang kakak yang baik, Chris. Paling tau apa yang aku inginkan,” puji Jessy dengan seutas senyumnya.
Christoper berangsur berdiri. Dia kembali mendorong kursi roda Jessy. “Sudah, kau istirahat saja, aku baru pulang dari rumah sakit dan masih harus melakukan banyak pekerjaan.”
“Iya.” Christoper mengusap puncak kepala Jessy setelah sampai di kamar adiknya. “Kau mau ku bantu rebahan di kasur?” tawarnya, dan dijawab anggukan kepala oleh wanita cacat itu.
Setelah membantu adiknya istirahat, Christoper menuju ke ruang kerjanya, tempat di mana Delavar menghabisinya. Sudah ada seorang pria yang tak lain adalah orang suruhannya.
“Bagaimana, apa kau sudah menemukan keberadaan Amartha Debora dan keadaannya saat ini?” tanya Christoper pada salah satu mata-matanya.
“Sudah, Tuan. Nona itu sepertinya sedang hamil,” ucap pria itu.
Christoper menyeringai. “Atur waktu agar aku bisa bertemu dengannya!” titahnya.
“Baik, apakah ada lagi?”
“Tidak!”
Pria itu pun keluar meninggalkan tuannya.
Christoper menatap ke arah luar jendela. “Setelah kau buat burungku tak bisa berdiri, aku akan merebut wanita yang kau cintai itu Delavar!” Tangannya terkepal menyentuh jendela kaca, matanya berkilat penuh amarah dan dendam yang menyatu menjadi satu.