
...Bab ini bukan konsumsi anak dibawah umur ya bestie, ini soalnya anu. Itulah pokoknya, tau sendiri kalo ada warningnya gini artinya apa....
...*****...
Delavar membisikkan sesuatu di telinga istrinya. “Kau senang foreplay lama atau cepat?” Setelah bertanya hal tersebut, dia menyingkirkan rambut Amartha agar tidak menghalangi bagian leher. Dan belum sempat dijawab, lidahnya sudah menyentuh kulit mulus tersebut. Bahkan tak lupa meninggalkan jejak berwarna merah yang pasti semakin lama akan menjadi keunguan.
“Kenapa tidak dijawab? Aku bisa melakukan pemanasan cepat atau lama, sesuai keinginanmu.”
Bagaimana bisa mengeluarkan suara, kalau Amartha saja sudah dibangkitkan gairahnya hingga fokus pada kenikmatan yang sedang disalurkan oleh sang suami.
“Masih tidak mau menjawab, ya? Atau bingung?” Lagi-lagi Delavar mengajukan pertanyaan. Dia mengusap bibir Amartha yang masih menggunakan lipstik.
“Mungkin bibirmu keberatan karena memakai lipstik, aku akan bersihkan.” Delavar mencium penuh kelembutan, dan dibalas hal sama oleh Amartha.
Namun, yang bekerja bukan hanya bibir. Tangan Delavar mencoba menjalar ke bawah, memasuki area di balik satu-satunya kain yang masih membungkus sang istri. Bermain nakal dengan mengusap daerah sensitif tersebut hingga tubuh Amartha menggelinjang merasakan sensasi geli keenakan.
Amartha melingkarkan tangan di leher suaminya. Semakin memperdalam pagutan bibir yang begitu candu karena dilakukan dengan orang tercinta.
Delavar tak puas jika pemanasan dengan menyatukan bibir saja. Dia menyudahi itu, menjulurkan lidahnya untuk menyentuh kulit Amartha, dan berhenti pada dua buah yang kencang, tak terlalu besar, tapi pas untuk digenggam serta menonjol seolah menantang.
Pria itu menyesapi area sensitif kedua, dengan tangan kanan masih nakal di bawah sana. Jangan ditanya lagi suara apa yang memenuhi kamar luas tersebut. Tentu saja keduanya mengeluarkan suara erotis, mendesah nikmat akibat gairah yang membara. Namun, Delavar tidak segera mempertemukan kedua alat yang bisa menghasilkan bunyi penuh kenikmatan.
Salah satu keturunan Dominique yang baru saja menikah itu ingin pemanasan lama agar saat mulai bercinta akan semakin melambung tinggi ke angkasa.
Tangan kekar Delavar sebelah kiri sengaja mengusap paha Amartha dengan lembut. Sementara yang satunya, perlahan menurunkan kain terakhir pada tubuh sang istri.
Delavar masih duduk di area cekungan, sedangkan posisi Amartha sudah sedikit naik. Sehingga sorot pria itu kini tertuju pada daerah inti yang baru saja dicukur.
“Touch me, please,” pinta Amartha yang sudah mulai ketagihan dengan sentuhan suaminya. Namun Delavar justru mendiamkan dia beberapa saat hanya untuk menatap tubuh molek miliknya.
“With my pleasure.” Dengan senang hati Delavar mendekatkan wajah pada area utama. Menyapu kelembutan itu menggunakan lidahnya.
Jangan ditanya bagaimana reaksi Amartha saat ini. Dia bahkan sampai merem melek merasakan sensasu geli tersebut. Tubuhnya menggelinjang karena itu sangat memacu gairah untuk bercinta.
Tangan Amartha memegang kepala Delavar agar prianya tidak menyudahi ritual itu.
Delavar menyudahi kenakalan lidahnya setelah dua menit berlalu. Berganti mengusap menggunakan jari. “Do you want to play with my finger?” Pemanasan itu ternyata mengasyikkan untuk dia.
“Sure.” Amartha menganggukkan kepala. Membiarkan suaminya memasukkan jemari ke daerah inti. Dan dia mendesah saat merasakan ritme tangan Delavar kian cepat.
“Aku seperti ingin buang air kecil,” cicit Amartha disela kenikmatannya.
“Istriku sudah ingin mencapai puncak ternyata,” balas Delavar denhan suara serak. Dia bukan menghentikan jemari nakal, tapi justru semakin mempercepat. “Keluarkan saja, Sayang,” titahnya.