I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 92


Ucapan Dariush yang tak ada filternya itu membuat semua orang menatap ke arah wajah Delavar dan memperhatikan dengan seksama. Mereka justru tersenyum menatap kedua manusia berbeda jenis yang duduk bersebelahan itu.


“Aku tak melakukan apa pun dengan Delavar, hanya tidur satu kamar saja,” ucap Amartha meluruskan agar tak ada kesalah pahaman di sana.


“Dan satu ranjang,” tambah Delavar dengan senyum senang dia tunjukkan pada anggota keluarganya.


“Segera tentukan tanggalnya jika memang saling cocok satu sama lain,” tutur Daddy Davis secara tiba-tiba.


“Iya, Dad. Tak lama lagi,” jawab Delavar dengan santai.


“What? Kalian sungguh akan menikah?” pekik Dariush yang tak menyangka jika kembarannya akan ada yang menemukan pasangan lagi. “Curang sekali, aku jomblo sendiri,” keluhnya.


“Nasibmu,” ejek Delavar, Danesh, dan Deavenny bersamaan.


Dariush mengacungkan dua jari tengahnya pada anggota keluarganya. “Tega sekali,” gumamnya.


Mereka pun balik menertawakan Dariush yang terlihat menyedihkan karena tak kunjung mendapatkan orang yang disuka. Dan sarapan di pagi itu berlangsung dengan bahagia.


“Aku berangkat dulu, Mom. Titip Amartha di sini, ya,” pamit Delavar seraya mencium pipi kanan dan kiri wanita yang sudah melahirkannya.


“Calon istrimu aman di tanganku,” balas Mommy Diora seraya mengelus punggung putranya.


Delavar beralih berdiri di hadapan Amartha yang masih duduk. Mengulurkan tangan untuk mengelus puncak kepala wanita itu. “Aku kerja dulu, oke? Kau di mansion tak apa, kan? Jika bosan, kau bisa meminta pada Mommyku untuk menemani jalan-jalan atau meminta supir untuk mengantar ke kantorku.”


Amartha mengangguk paham, dia berdiri dan menggandeng tangan Delavar. “Aku antar ke depan.”


Tentu saja tak akan ditolak oleh Delavar. Keduanya pun berjalan menuju pintu utama.


“Apa benar jika kau semalam tak bisa tidur?” tanya Amartha disela langkah kakinya yang terus mengayun.


“Iya.”


“Tidak, memang sedang banyak pikiran saja,” kilah Delavar. Dia tak mau membuat Amartha merasa bersalah.


Keduanya berhenti tepat di samping mobil pribadi milik Delavar. Mercedes Benz berwarna hitam doff. Amartha dan salah satu pewaris kerajaan bisnis Dominique itu saling berhadapan. “Nanti sore kita ada janji dengan Dokter Beverly,” tuturnya mengingatkan. “Kau benar sudah yakin ingin melakukan aborsi?” Ini adalah pertanyaan yang dilontarkan lebih dari satu kali, seolah Delavar antara setuju dan tidak dengan keputusan Amartha.


Amartha tetap mengangguk. Wanita itu benar-benar tak goyah.


“Yasudah, nanti aku jemput sepulang kerja. Aku berangkat dulu.” Dia sudah pamit, tapi tak kunjung masuk ke dalam mobil.


“Apa ada yang tertinggal?” tanya Amartha.


“Boleh aku mencium keningmu?” izin Delavar seraya menunjuk bagian tubuhnya yang dimaksud.


“Boleh.”


Dalam hati Delavar bersorak gembira. Dia melabuhkan kecupan sekilas di kening Amartha yang mulus itu. “Pasti kerjaku hari ini akan sangat semangat,” ujarnya dengan mengerlingkan mata genit diiringi bibir yang terus mengulas senyum.


Amartha pun melepas kepergian Delavar dengan tangannya melambai ke arah mobil yang sudah melaju meninggalkan bangunan utama mansion. “Pria yang manis,” pujinya.


...........


Sore harinya, Delavar sungguh menepati ucapannya untuk membawa Amartha ke Dokter Beverly. Kini kedua orang itu sedang menunggu giliran dipanggil.


Delavar terus menggenggam tangan Amartha. Justru dirinya yang gelisah. “Kau masih ada waktu untuk berubah pikiran, Amartha.” Entah kenapa hatinya merasa tak enak.


“Ti—” Amartha yang hendak menanggapi Delavar pun tak jadi karena sudah ada perawat yang memanggil namanya.


“Nona Amartha Debora.”