I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 86


“Lemah sekali jadi orang, baru ku jual pada satu pria saja sudah mau bunuh diri,” cibir Papa Max dengan wajahnya yang terlihat meremehkan putrinya.


Delavar menaikkan sebelah alisnya. “Apa katamu? Coba ulangi sekali lagi!” titahnya seraya mengayunkan kaki mendekati tawanannya.


Papa Max pun mengulangi ucapannya yang mencibir mental Amartha. Dan sedetik kemudian, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.


Plak!


“Jaga bicaramu itu! Apa kau tak merasa bersalah sedikit pun?!” bentak Delavar. Matanya mendelik kesal, ingin mencekik pak tua itu tapi dia tak mau membunuh secara cepat.


“Untuk apa merasa bersalah dengan anak tak jelas seperti dia,” tampik Papa Max.


“Tak jelas katamu?” Delavar menarik sebelah sudut bibirnya sinis. “Amartha sudah melakukan tes DNA, dan hasilnya menunjukkan jika kau adalah ayah kandungnya! Apa kau masih bisa cengengesan seperti ini dan tak menyesali perbuatanmu?”


“Untuk apa menyesal? Semuanya sudah terjadi, memangnya bisa ku ulang kembali? Sekali pun bisa, pasti aku akan tetap menjualnya karena aku membutuhkan uang,” jawab Papa Max.


Delavar menutup mata, menarik napas dalam dan menghembuskan kasar. Tangannya mengepal dan hendak melayangkan tinju di wajah Papa Max.


Tapi, belum sempat dilakukan. Suara seseorang yang terjatuh ke laut pun terdengar di telinga Delavar. Dia membuka kelopak mata dan melihat sudah tak ada Papa Max di hadapannya.


“Ke mana pak tua itu?” tanyanya pada pengawal yang tadi berdiri di samping tawanannya.


Pengawal itu menunjuk ke laut. “Tenggelam, Tuan,” jawabnya santai.


“Kau yang menjatuhkannya?” selidik Delavar.


“Bukan dia, tapi aku,” sahut Dariush yang ternyata sudah berdiri di samping kembarannya.


Delavar memicingkan mata. “Kenapa kau menenggelamkannya?”


“Emosi aku, bisa-bisanya seorang ayah kandung tak merasa bersalah setelah menjual anaknya sendiri. Ku tendang saja dia biar jadi santapan ikan,” jelas Dariush dengan santai.


“Biarkan saja mati, hidup pun untuk apa? Tak berguna.”


“Caraku menghabisi nyawanya tak semudah itu, Dariush! Enak sekali dia tak merasakan siksaan.”


Delavar menatap ke arah pengawal. “Cari pak tua itu sampai dapat! Cepat, sebelum dia karam dan mati! Aku mau dia masih tetap hidup!” titahnya.


“Baik, Tuan.” Pengawal pun langsung mengambil tabung oksigen. Dia tak berani menyelam tanpa alat bantu.


Delavar bergeleng kepala menatap Dariush yang terlihat biasa saja setelah membuat tawanannya tenggelam. “Kau itu membuat rencanaku berubah,” keluhnya seraya menepuk jidat kembarannya.


“Sorry, salah dia sendiri membuatku emosi,” balas Dariush seraya mengikuti Delavar yang kembali duduk.


“Sudahlah, jangan bicara dulu sampai pak tua itu ditemukan,” pinta Delavar.


“Dih, rupanya ada yang membela calon mertua,” cicit Dariush mencibir kembarannya sendiri.


Delavar pun membekap mulut Dariush agar diam. “Aku hanya sayang anaknya, bukan orang tuanya,” tegasnya meluruskan. “Aku masih ingin menyiksanya.”


Kedua pria itu pun berhenti berdebat. Duduk menatap ke arah laut menantikan pengawal menemukan Papa Max.


Tak berselang lama, orang yang dinanti pun muncul juga ke permukaan. Delavar segera berdiri membantu menaikkan pak tua yang sudah tak sadarkan diri.


“Untung belum tenggelam terlalu dalam, Tuan,” ucap pengawal itu. Dan dia mendapatkan ucapan terima kasih dari Delavar.


Delavar mengulurkan tangan, menyentuh leher Papa Max dan memposisikan pada letak nadi di sana. Mencari dan mencoba merasakan detak pertanda kehidupan pada pak tua menyebalkan itu.


“Apa dia mati?” tanya Dariush tanpa merasa bersalah sedikit pun.