
Walaupun Delavar tak meminta agar mommynya datang, namun wanita yang sudah melahirkannya itu tetap nekat ke apartemen Amartha bersama seorang wanita yang sudah berumur hampir menginjak lima puluh tahun.
Delavar segera membukakan pintu saat ada suara orang mengetuk dari luar. “Masuk, Mom,” ajaknya. Sudah berasa tempat tinggalnya sendiri saja, main mempersilahkan orang masuk di apartemen milik Amartha yang sedang mengurung diri di dalam kamar.
Dua wanita yang masih cantik di usia tua mereka itu bersamaan ke dalam. Mommy Diora langsung memperkenalkan orang yang datang bersamanya. “Ini dokter Sophie, psikiater yang dulu pernah membantu mommy juga.”
Delavar mengulurkan tangan, keduanya saling berjabatan. “Delavar, senang bertemu denganmu,” ujarnya mengenalkan diri.
“Ya, apakah ada yang bisa aku bantu?” tanya dokter Sophie setelah tangannya leluasa bergerak lagi.
“Duduk dulu.” Delavar mempersilahkan kedua wanita tersebut untuk bersantai di sofa. Dirinya kini duduk di samping sang mommy dan berhadapan dengan dokter Sophie. “Jadi seperti ini—” Dia menceritakan semua yang terjadi pada Amartha. Mulai dari kehamilan wanita itu dan aksi bunuh diri yang digagalkan olehnya. “Apa kau bisa membantuku untuk mengembalikan semangat hidupnya?”
“Aku akan mencoba berusaha,” jawab dokter Sophie. “Boleh aku melihat kondisinya?”
“Tentu.” Delavar berangsur berdiri dan diikuti oleh dokter Sophie juga Mommy Diora. Ketiganya mengintip dari sela-sela pintu.
Terlihat Amartha masih duduk meringkuk dan sedang menangis hingga bahu wanita itu naik turun.
Dan pandangan mereka kembali berpindah untuk menatap satu sama lain.
“Apa dia tinggal sendirian?” Dokter Sophie bertanya lagi pada Delavar.
“Setahuku iya.”
“Ke mana orang tuanya?”
Delavar tak langsung menjawab. Matanya justru kini sedang tertuju pada mommynya, memberikan kode agar menjawab. Mana mungkin dia memberitahukan jika orang tua Amartha sedang disekap olehnya.
Dokter Sophie menganggukkan kepala seolah paham dengan situasi yang dihadapi oleh Amartha. “Mungkin karena merasa kesepian juga bisa jadi penyebab kondisinya depresi. Di saat memiliki masalah berat, tapi tak ada orang yang bisa diandalkan untuk menjadi tempatnya bersandar dan berkeluh kesah, semua beban hidup dia hadapi sendiri. Itu juga bisa memacu adanya tekanan pada mental,” jelasnya mencoba memberikan analisis berdasarkan kondisi sekilas yang dia amati dan dari sedikit informasi yang didengarnya.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku sendiri bingung menghadapinya, kadang dia bisa marah, sedih, melamun. Secara cepat suasana hatinya berubah,” tanya Delavar.
“Saya akan melakukan pendampingan hingga kondisinya membaik. Tapi jangan biarkan dia sendirian, terus temani dan dukung untuk bangkit, jangan menyudutkannya atau membandingkan dengan masalah hidup orang lain,” jelas dokter Sophie. “Karena itu bisa berakhir fatal untuk orang-orang yang sedang mengalami gangguan mental seperti Nona Amartha.”
Mommy Diora dan Delavar kompak menganggukkan kepala. “Baik.”
“Boleh saya masuk ke dalam?” izin dokter Sophie.
“Silahkan.”
Dokter Sophie menatap ke arah Mommy Diora. “Nyonya, Anda mau ikut?”
“Boleh?”
“Tentu, siapa tahu dengan berbicara sesama wanita bisa membuatnya sedikit lega.”
“Aku ikut kalau begitu.”
Delavar mempercayakan kesembuhan Amartha pada dua wanita yang menurutnya hebat. Dia cukup mengintip saja dari luar, daripada membuat kacau jika ikut-ikutan ke dalam.
“Amartha,” panggil Mommy Diora sangat lembut. Tubuhnya yang ramping masih berdiri seraya mengelus rambut yang acak-acakan milik wanita yang ditaksir oleh salah satu putranya.