
Sebelum tubuhnya benar-benar menghilang dari pandangan sosok cantik di sana, dia berteriak sekeras mungkin. “I love you, Amartha, calon istriku. Jaga dirimu baik-baik dan tunggu kepulanganku dengan suka cita.”
Amartha hanya membalas dengan lambaian tangan dan kiss jauh menggunakan tangan.
“Nona, mari kita pulang, sebentar lagi pesawat akan lepas landas,” ajak Roxy seraya menunjuk arah kembali.
“Aku ingin melihat Delavar pergi,” balas Amartha masih bergeming.
“Bisa di sana, Nona. Nanti Anda terkena tekanan udara yang keluar dari pesawat jika terlalu dekat.” Roxy tidak berani menyentuh salah satu aset berharga milik tuannya, sehingga dia hanya bisa memaksa menggunakan suara saja.
“Baiklah.” Amartha mengikuti Roxy untuk menepi. Berdiri dengan jarak yang sangat jauh dan lagi-lagi tangan melambai saat pesawat yang ditumpangi calon suaminya mulai bergerak.
“Mari, saya antar pulang, Nona.” Roxy mengajak Amartha untuk meninggalkan area bandara.
Tidak ada lagi alasan wanita itu untuk tetap berada di sana. Sehingga, dia menuruti ajakan Roxy.
Delavar menempatkan salah satu orang kepercayaannya yang diambil dari Cosa Nostra untuk mengawasi calon istrinya. Bukan berarti dia tidak percaya dengan Amartha, tapi ada sesuatu yang dirasa mengganjal dalam hatinya saat ingin pergi. Putra ketiga di keluarga Dominique itu tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk pada wanitanya, sehingga lebih baik mengantisipasi saja.
Setelah menempuh perjalanan udara selama hampir dua jam, Delavar sampai juga di Belanda. Dia segera pergi ke hotel dan ingin menghubungi Amartha untuk memberikan kabar.
Delavar melakukan panggilan video dengan Amartha. Tapi tak kunjung diangkat. “Sudah tidur mungkin.”
Karena tak mendapatkan jawaban, Delavar pun memutuskan untuk mengirimkan pesan bahwa dirinya sudah sampai di tempat tujuan. “Baru berapa jam berpisah, aku sudah merindukanmu.” Pria itu berbicara dengan wallpaper yang ada di layar sebesar enam koma satu inch.
Delavar tersenyum terus setiap kali menatap fotonya bersama Amartha. “Ku harap kebahagiaan ini tak akan pernah usai. Dan nanti setelah kita menikah, aku akan memberi tahu rahasia yang pasti akan membuatmu terkejut karena dibalik peristiwa kelammu, ada aku yang juga turut bersalah. Semoga saat ku ungkapkan hal itu, kau tidak marah.”
Tidak bisa mengecup orangnya secara langsung, Delavar menempelkan bibir ke layar ponsel yang menunjukkan wajah Amartha sangat jelas.
Malam ini Delavar harus istrirahat sebelum besok akan disibukkan dengan berbagai agenda. Sekretarisnya baru akan menyusul besok pagi-pagi sekali, karena sudah pasti wanita yang baru bekerja dengannya selama satu tahun itu mendapatkan omelan dari Daddynya akibat lalai dalam membuat jadwal pertemuan dengan orang-orang penting.
Saat mata Delavar hendak terpejam, ponselnya justru berbunyi. Segera melihat siapa peneleponnya. Dan benar, wanita yang ditunggu-tunggu pun menghubungi.
Delavar langsung menghidupkan lampu agar ruangannya menjadi terang karena saat ini sedang melakukan panggilan video.
“Kau tadi meneleponku? Maaf, baru saja selesai dari kamar mandi.” Amartha yang saat ini sedang menyandarkan tubuh di head board itu langsung menyapa dengan senyuman.
“Iya, aku sudah merindukanmu. Seharusnya kau mau ku ajak pergi.” Delavar memasang wajahnya seperti bersedih.