
Hari sudah malam, tapi memang langit belum terlalu gelap. Di mansion Dominique, semua sedang bersiap untuk makan bersama. Sudah ada Mommy Diora, Daddy Davis, Delavar, Amartha, Danesh, Felly, Annora, dan Agathias.
“Kurang Dariush, Deavenny, dan Marvel ini. Pasti ramai dan lengkap sudah keluarga kita,” cicit Mommy Diora sebelum makan malam dimulai.
“Aku sudah menghubungi Deavenny tadi, dan dia sedang perjalanan menuju sini,” ungkap Danesh.
Delavar langsung melirik ke arah Amartha yang duduk di sampingnya. Takut saja jika wanita itu keberatan jika bertemu sang mantan, tapi ternyata Amartha terlihat biasa saja.
Amartha yang sadar jika sedang diperhatikan pun balas menatap Delavar. Melemparkan senyum tipis kepada pria itu. “Kenapa?”
Kepala Delavar menggeleng. “Tidak, kau tak apa makan bersama Marvel?” tanyanya dengan nada berbisik.
“Tak masalah.” Amartha mengangguk samar, menandakan bahwa dia tidak keberatan.
Tak berselang lama, si bungsu bersama suaminya pun datang. Deavenny menghampiri meja makan dengan menggandeng Marvel.
“Ck, ck, ck, berkumpul tidak ajak-ajak,” ucap Deavenny dari jarak sepuluh meter.
“Aunty, Dea.” Annora yang melihat tantenya itu buru-buru turun dan berlari ke arah Deavenny. “Tangkap aku,” pintanya seraya merentangkan tangan.
Deavenny melepas tangannya yang melingkar di lengan Marvel. Dia hendak berlari ke arah Annora dan menangkap keponakannya itu.
Marvel pun berjalan di belakang Deavenny dan mengamati istrinya yang jelas sangat menyayangi anak kecil. Namun, memang mereka belum memiliki keturunan, lebih tepatnya Marvel selalu menunda saat Deavenny menginginkan pembuahan.
Deavenny asyik mengobrol dengan Annora sembari berjalan ke arah meja makan. Dia tak memperhatikan jalan. Dan saat wanita itu perutnya hendak terpentok ujung meja, buru-buru Marvel melingkarkan tangan agar sang istri tak tersakiti.
“Perhatikan jalanmu, Dea. Ada bekas jahitan, kau jangan sampai terluka,” tegur Marvel. Dia menyentuh pundak Deavenny dan menuntun sang istri untuk duduk.
Deavenny menunjukkan rentetan gigi putihnya dan memangku Annora. “Maaf, Sayang. Aku terlalu senang jika sudah bertemu keponakanku,” kilahnya.
Seketika semua orang menahan tawa mereka. Delavar memang kalau bicara terkadang suka frontal saat bersama keluarganya. Bahkan ada Amartha pun tak membuat pria itu menjaga image agar terlihat berwibawa atau cool.
“Iri saja kau itu, segera menikah, sebelum jadi perjaka tua,” balas Deavenny dengan bibirnya balas mencibir kembarannya.
“Eh, sembarangan. Aku sudah tak perjaka lagi, ya!” balas Delavar tak mau kalah.
Deavenny memasang wajahnya yang tersenyum. Jarinya menunjuk ke arah Amartha dan Delavar secara bergantian. “Oh ... kalian sudah anu, ya?” godanya. “Daddy ... Delavar sudah berbuat dengan Amartha tapi belum menikahinya,” adunya.
Amartha buru-buru mengklarifikasi, tangannya terangkat dan memberikan isyarat tidak. “Aku belum pernah melakukan apa pun dengan Delavar.”
Delavar menyentuh lengan Amartha agar tenang. Wanita itu sepertinya belum begitu paham dengan kebiasaan keluarganya yang sering mengejek. “Kita tidak sungguh-sungguh, Amartha. Hanya saling ejek saja, jangan diambil hati, oke?” pintanya.
Amartha menarik dua sudut bibirnya. “Aku hanya takut mereka salah paham.”
“Tidak, kau tenang saja,” ucap Delavar seraya mengelus lengan Amartha.
“Jika bukan Amartha yang mengambil perjakamu, lalu siapa?” tanya Deavenny yang tak kalah frontal.
Delavar menaikkan tangannya. Kedua bibirnya pun tersenyum.
Dua anak kembar Tuan Dominique itu memandang ke arah Delavar dengan alis yang mengkerut. “Maksudmu?”
“Perjakaku sudah direnggut oleh tanganku sendiri,” jawab Delavar dengan enteng.
Hal itu mengundang tawa Deavenny dan Danesh. “Dasar bujang lapuk,” ejek mereka.