
Delavar dan Amartha duduk di hadapan seorang wanita yang umurnya terlihat sudah memasuki pertengahan antara empat puluh dan lima puluh tahun.
Dokter itu menyapa pasiennya dengan tersenyum ramah. “Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?”
“Begini, Dok. Pasangan saya ingin melakukan aborsi, apakah di sini bisa?” Delavar mengutarakan maksudnya mewakili Amartha.
Dokter Beverly terlihat santai menghadapi pasiennya. Ini adalah orang ke tiga pada hari ini yang meminta untuk aborsi.
“Boleh saya tahu kenapa Anda tidak menginginkan bayi itu?” Beliau tak ingin gegabah dalam memutuskan, sebab banyak risiko yang mungkin bisa terjadi setelah janin berhasil dikeluarkan.
“Anak ini adalah hasil pelecehan seksual dari pria yang aku sendiri tak kenal!” jelas Amartha dengan tegas dan lantang. Terlihat jelas jika dirinya emosi saat mengatakan hal itu.
Dokter Beverly mengulas senyumnya seolah paham kenapa wanita muda di hadapannya menginginkan hal tersebut. Aborsi pada korban pemerkosaan yang menyebabkan trauma pada korban memang diperbolehkan. “Apakah Anda memiliki riwayat penyakit?”
Sebelum memutuskan boleh atau tidak pasiennya melakukan aborsi, Dokter Beverly harus memastikan kondisi pasiennya terlebih dahulu.
“Tidak ada,” jawab Amartha dengan yakin.
Dokter Beverly terlihat menulis sesuatu pada kertas yang berisi informasi pasien. “Apakah selama kehamilan Anda memiliki keluhan?”
“Tidak ada, hanya mual setiap pagi dan malas beraktivitas.”
“Apakah Anda mengkonsumsi obat-obatan?”
“Tidak.”
“Baik, boleh saya meminta sampel darah dan urinenya untuk melakukan cek kesehatan Anda?”
“Tentu.” Amartha mengulurkan tangannya. Dengan senang hati mempersilahkan Dokter Beverly mengambil sedikit cairan berwarna merah dari dalam tubuhnya.
“Aku antar,” ucap Delavar seraya mengikuti Amartha yang sudah berdiri.
“Aku bisa sendiri,” tolak Amartha.
“Sudah, jalan saja.” Delavar menggandeng tangan Amartha dan mengajak wanita itu untuk mengayunkan kaki agar tak memperdebatkan hal kecil.
“Kalau ada apa-apa di dalam, langsung teriak saja. Pintunya jangan dikunci, aku sudah menjaga dari luar,” perintah Delavar. Dia pun menutup pintu setelah Amartha menjawab dengan anggukan kepala.
Tak berselang lama, Amartha keluar lagi dengan menunjukkan cup yang sudah berisi cairan berwarna sedikit kekuningan.
“Biar aku yang bawa, kau cuci tanganmu.” Delavar menengadahkan tangannya untuk mengambil alih cup tersebut.
“Nanti kau kotor,” tolak Amartha seraya menggelengkan kepala.
“Tak apa, lebih baik aku yang kotor dari pada wanitaku,” jawab Delavar dengan tangannya menoel hidung Amartha dan tak lupa senyuman manis khasnya menghiasi wajah tampan itu.
“Baiklah.” Amartha pun memberikan tempat berisi urinenya. Dan membersihkan tangan di wastafel yang ada di samping pintu toilet.
Keduanya pun kembali lagi duduk di hadapan Dokter Beverly. “Ini, Dok.” Delavar menyerahkan sampel urine yang diminta oleh petugas medis tersebut.
“Terima kasih.” Dokter Beverly tersenyum, lalu meraih pegangan telepon nirkabel. Dia menghubungi seseorang untuk datang ke ruangannya.
Tak berselang lama, pintu ruangan itu terdengar diketuk dari luar. Dan sesosok wanita muda yang sepertinya salah satu petugas dibagian laboratorium di sana pun muncul dari balik pintu.
“Tolong selesaikan ini segera,” titah Dokter Beverly.
“Baik.” Petugas laboratorium itu pun keluar lagi membawa sampel darah dan juga urine milik Nona Amartha Debora, sesuai tulisan pada stiker informasi yang ada di wadah tersebut.