I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 78


Delavar langsung dilamarkan oleh keluarganya. Tapi sayangnya, mereka hanya mendapatkan jawaban berupa senyuman tanpa ada kata yang keluar dari bibir Amartha. Oh sungguh sangat ambigu sekali.


“Mau atau tidak, Amartha? Jawabannya antara dua itu,” desak Dariush yang gemas karena tak paham dengan wanita pilihan Delavar.


“Sudahlah, jangan ditanyai terus. Aku sudah mengajaknya menikah, jika dia siap, pasti akan menjawabnya.” Delavar membela Amartha agar tak dipojokkan untuk segera menjawab. “Aku masih sabar menunggu, tenang saja. Dan tanganku juga masih kuat untuk bersolo karir,” imbuhnya.


Delavar langsung menatap ke arah Amartha dan segera mengucapkan permintaan maaf.


“Aku yang harusnya minta maaf denganmu karena belum bisa memberikan jawaban,” bisik Amartha dengan wajah sedikit menunduk.


Delavar mengusap puncak kepala wanitanya dengan penuh kasih. “It’s okay, pelan-pelan saja membuka hati untukku.”


Mereka melanjutkan makan malam yang sempat terjeda karena kehebohan sepintas. Karena langit mulai gelap dan sudah lama Delavar tak istirahat di mansion keluarganya, akhirnya dirinya membujuk Amartha agar mau menginap di sana.


“Kita pulang saja, ya?” Amartha menolak permintaan Delavar. Kini hanya tersisa mereka berdua yang sedang terlibat perbincangan kecil di depan kamar si anak ketiga.


“Besok aku antar ke dokter untuk mengeluarkan janinmu, tapi kau harus tidur di sini, oke?”


Amartha terdiam sejenak dan berpikir. Tawaran yang sangat bagus. “Baiklah.”


Akhirnya, mereka pun menghabiskan malam di sana. Tidak dengan pergumulan panas karena sudah pasti Amartha belum siap.


...........


Pagi harinya, setelah semua sarapan bersama, Delavar menepati ucapannya pada Amartha. Namun dia melupakan perkataannya dengan Papa Max yang ingin memberikan udara segar pada pak tua itu.


Hari ini Delavar akan membawa Amartha ke Dokter Beverly setelah semalam mencari tahu di mana lokasi praktiknya. Dan keduanya sudah siap untuk berangkat.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di sebuah bangunan bercat putih dan terparkir banyak mobil di depannya.


Keduanya langsung masuk ke dalam untuk mendaftarkan diri. Tempat itu seperti lokasi untuk praktik Dokter Beverly di luar tugas rumah sakit.


Delavar melihat jam di pergelangan tangannya. Ini baru jam sembilan, tapi penuh? Sepertinya memang dokter itu sangat hebat sampai membuat semua orang rela datang pagi-pagi sekali.


Delavar menatap ke arah Amartha yang berdiri di sampingnya. “Bagaimana? Kau mau menunggu besok?”


“Boleh.”


“Bisa aku membuat janji dari sekarang?” tanya Delavar pada petugas di loket pendaftaran.


“Bisa, Tuan. Tapi untuk pagi sampai siang hari, Dokter Beverly praktik di rumah sakit karena besok sudah masuk weekdays. Beliau baru ada di sini saat sore.”


“Tak masalah.” Delavar pun tetap mengisi pendaftaran untuk besok.


Setelah selesai dengan urusan tersebut, kedua manusia berbeda jenis kelamin itu keluar. Tapi Delavar enggan untuk langsung pulang. “Kita ke coffee shop di depan sana, yuk? Sekaligus refreshing, ini hari minggu,” ajaknya.


“Boleh.”


Delavar menggandeng tangan Amartha saat menyeberang jalan. Dia membiarkan mobilnya terparkir di depan gedung Dokter Beverly.


“Aku ke toilet sebentar, perutku melilit. Kau tunggu di sini, jangan ke mana-mana, oke?” pamit Delavar setelah mereka memesan dan mendapatkan tempat duduk.


“Hm ... pergilah.”


Delavar pun berjalan cepat menuju toilet. Perutnya sedang bermasalah. Padahal sudah empat hari tidak merasakan mulas, dan mendadak perutnya melakukan pemberontakan.


Delavar tak sengaja menyenggol lengan seorang pengunjung yang sedang membawa dua cup kopi.


“Maaf, aku buru-buru,” ucap Delavar yang memang mengaku salah.


“Kalau berjalan pakai mata!” bentak orang tersebut seraya menatap ke arah Delavar. Dia langsung membulatkan mata saat tahu siapa orang yang menyenggolnya dan otomatis korneanya menyusuri seluruh ruangan di sana. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat ada Amartha Debora yang sedang dicari oleh tuannya.