
Seorang pria dengan setengah wajah tertutup perban dan tangan sebelah juga sama, terlihat tak bisa memejamkan mata. Dia adalah Christoper si manusia yang sudah tidak bisa memiliki keturunan lagi.
Christoper menyibakkan selimut hingga menampakkan baju tidur bergaya kimono itu menutupi tubuh yang bahkan tak berotot. Menurunkan kaki dan matanya penasaran dengan kotak kecil yang tadi dibawakan oleh pelayan.
“Si bocah tengik Delavar mengirimku apa malam-malam seperti ini?” gumam Christoper seraya mengayunkan kaki mendekati kotak hadiah.
Perlahan, Christoper membuka tutup kotak itu. Mengeluarkan cup kecil dan mengamati isinya. Dahinya mengernyit bingung. “Apa ini? Kenapa dia menaruh kamera pengintai di tempatnya?”
Christoper masih memegangi cup tersebut tanpa melepaskan kamera pengintai yang memang dia sadari ada di sana. Tangan satunya masuk ke dalam kotak lagi untuk mencari apakah ada surat atau tidak. Dan dia mendapatkan secarik ucapan.
“Oh ... si bocah tengik itu sepertinya ingin melihat ekspresiku saat membuka hadiah darinya ini, ya?” gumam Christoper. Dia belum menyadari gumpalan merah apa itu. Dengan percaya dirinya, dia mengarahkan kamera kecil tersebut ke wajahnya yang tak terlalu tampan tapi juga tidak jelek.
“Hei Delavar, lihatlah wajahku ini dengan seksama. Aku tidak akan mengucapkan terima kasih padamu karena sudah memberiku hadiah yang tak berharga ini. Apa ini anak tikus yang mati? Dih, predikat saja kau keluarga kaya di Eropa, tapi memberi hadiah hanya sebuah bangkai. Berlian dong” cibir Christoper pada kamera itu seolah sedang mengirimkan pesan pada Delavar.
Christoper melihat lagi isi di dalam cup kecil itu. “Hah! Kau pikir aku takut dengan anak tikus mati ini? Atau kau kira aku jijik?” Dia masih bisa tertawa terbahak-bahak saat ini. “Aku akan memberimu hadiah juga lain kali. Jika kau memberiku bangkai anak tikus, maka aku akan memberimu bangkai anak kadal,” kelakarnya.
Christoper berdeham sebentar, mengibaskan tangan yang memegang kertas ucapan dari Amartha. “Lihatlah, aku akan membaca dengan lantang! Memangnya kau pikir aku takut denganmu setelah memberiku teror bangkai anak tikus?”
Christoper seolah-olah meludah. “Tidak akan!”
Tangan kiri Christoper memegang cup yang tanpa dia sadari itu adalah anaknya. Sedangkan sebelah kanan mengarahkan goresan berupa tulisan yang rapi ke sorot matanya.
“Hei Christoper si pria keparat! Aku tidak tahu memiliki salah apa denganmu. Bahkan aku tak mengenalmu, tapi beraninya kau menghamiliku! Rasanya aku ingin mencekik lehermu hingga kau tak bisa bernapas lagi. Tapi ternyata ada hal lain yang lebih cocok sebagai balasan dan hukuman untuk manusia tak berguna sepertimu! Setelah aku tahu kau tak bisa memiliki anak lagi dan memaksaku untuk melahirkan anak sialan ini! Maka aku putuskan untuk menuruti perintahmu, aku sudah melahirkan anak untukmu. Ini adalah embrio, satu-satunya keturunanmu yang gagal berkembang. Selamat atas kelahiran anak pertamamu. Ditulis dengan penuh kebencian, dari Amartha Debora.”
“Argh ... pelacur sialan!” raung Christoper melemparkan kartu ucapan tersebut. Dia bersimpuh di lantai dan memegangi cup berisi embrio anaknya dengan kedua tangan.
“Anakku, satu-satunya penerusku.” Dia menangis dengan memeluk cup itu. Harapannya hilang sudah, dan dia tak akan bisa memiliki anak lagi.
Mata Christoper benar-benar merah saat ini. Dia mengarahkan wajah penuh kebencian itu ke kamera. “Beraninya kalian membunuh anakku!” berangnya.
Christoper membawa cup itu ke atas ranjangnya. “Anakku, tidur dengan daddy, Nak.” Hadiah yang tadinya dikira berisi anak tikus yang mati, ternyata adalah embrio anaknya sendiri. Dia peluk hadiah dari Amartha itu dengan menangis sedih.