
“Tidak, untuk apa juga menyalahkanmu. Justru aku bersyukur, karena Papaku mendapatkan balasan atas kesalahannya,” ungkap Amartha seraya mengelus lengan dan menyandarkan kepala di lengan Delavar.
“Siapa tahu kalau kau tak terima saat orang tuamu tidak diperlakukan baik olehku,” timpal Delavar.
Tentu saja ucapan Delavar membuat Amartha terkekeh sendiri. “Kalau kedua orang tuaku menyayangi anak layaknya keluarga pada umumnya, tentu saja aku akan marah dan membatalkan pernikahan kita. Tapi, mereka memang tidak pantas untuk dihormati,” jelasnya.
“Jadi, karena kondisi Papamu seperti ini, aku memutuskan untuk tidak mengundang dia ke pesta pernikahan. Pasti akan kacau jika dia datang,” ungkap Delavar yang saat ini sedang memegang pantat calon istrinya. “Tak masalah, kan?”
Amartha mengangguk sepakat. “Mungkin dia lebih cocok dimasukkan ke rumah sakit jiwa.”
“Ya, nanti aku tugaskan orang untuk membawa Papamu agar diisolasi ke rumah sakit jiwa.”
Delavar mengajak Amartha untuk ke kapal pesiarnya dan kembali ke daratan setelah selesai melihat kondisi Papa Max yang terbilang mengenaskan. Banyak luka sayatan di tubuh pria itu akibat benda tajam yang digunakan untuk berusaha menghilangkan nyawa sendiri. Bahkan kondisi pak tua itu pun bau karena sering mengompol.
Sesampainya di pelabuhan, sepasang calon suami istri itu pun memasuki mobil.
“Kita pulang saja, ya? Sudah terlalu larut,” ajak Delavar yang saat ini sedang duduk manis di kursi belakang dengan menggenggam tangan Amartha.
“Iya.”
Kegiatan hari ini akhirnya selesai juga. Urusan dengan dua kerikil menuju kehidupan bahagia Delavar dan Amartha pun sudah beres.
Tiga hari menjelang pernikahan putra dari keturunan pebisnis sukses itu pun menggemparkan seluruh dunia. Bukan karena salah satu keturunan keluarga Dominique menikahi orang dari golongan ekonomi biasa, tapi undangan yang disebarkan menjadi viral.
Baru pertama kali ini ada seseorang yang membuat undangan untuk perorangnya menggunakan bahan emas murni seberat tiga puluh gram dan tulisan dari berlian yang sudah dihancurkan hingga menjadi serpihan kecil. Tamu yang diundang pun semuanya mendapatkan sama. Tentu saja hal tersebut tidak biasa.
Berita itu sudah tersebar melalui saluran televisi, koran, maupun media sosial. Dan hal tersebut bagus untuk bisnis keluarga Dominique, karena membuat harga saham perusahaan mereka melonjak.
Selain ingin menunjukkan pada seluruh dunia bahwa Delavar rela mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk menikahi wanitanya, walaupun bukan seseorang yang masih gadis. Dia juga menargetkan akan menaikkan nama perusahaan keluarga Dominique hingga ke seluruh penjuru dunia.
Ini memang bukan pernikahan bisnis, tapi bisa digunakan untuk menguntungkan bisnis. Eksposur yang didapatkan adalah, orang-orang menjadi penasaran dengan produk yang dibuat oleh perusahaan keluarga Dominique. Mereka pasti ingin membeli atau menggunakan produk maupun jasa dari berbagai bisnis Triple D Corp. Walaupun hanya untuk sekedar mencoba, atau bahkan hingga berulang kali membeli.
Selain itu, orang-orang yang pernah dan puas dengan dengan produk dan jasa dari lini usaha Triple D Corp, pasti akan ada saja yang memberikan ulasan agar mereka ikut viral.
Delavar sudah memperhitungkan jika tahun ini pendapatan perusahaannya akan mencapai tiga kali lipat dan bisa menutupi modal pernikahannya.
Strategi marketing yang cukup bagus. Tapi, uang yang digelontorkan juga tidak sedikit.
Jessy, si wanita yang hanya bisa duduk di kursi roda itu pun membanting remot saat melihat seluruh saluran televisi berisi berita yang sama. “Christoper ...!” Dia berteriak sekencang mungkin hingga otot di leher pun terlihat.