
“Sebenarnya, setelah kita bertemu di hotel waktu itu dan kau sedang dijebak oleh orang tuamu, aku langsung menyekap Papamu dan menghukumnya.” Delavar mengungkapkan sebuah rahasia yang sudah ditutupi dari Amartha selama ini. Sedikit demi sedikit dirinya akan mengungkapkan setiap kejadian yang berhubungan dengan wanita itu. Mungkin tentang Christoper juga, tapi nanti setelah mereka menikah agar sudah terikat dan pastinya akan sulit untuk dipisahkan.
Amartha nampak ingin tahu lebih banyak. “Hukuman apa yang kau berikan pada Papaku?”
“Tapi kau tak akan marah jika aku berkata dengan jujur?”
“Tidak, Delavar. Untuk apa aku marah dan membela orang serakah seperti dia? Lebih baik aku mendukungmu karena memang aku menginginkan Papaku mendapatkan hukuman,” balas Amartha seraya mengelus alis tebal Delavar.
“Aku asingkan Papamu ke tengah laut, tanpa ku beri minuman, makanan, dan kapalnya tak ada bahan bakar untuk menjalankan mesin,” tutur Delavar seraya mengusap pipi Amartha dengan jemari kekarnya.
Amartha justru terkekeh. “Ternyata priaku sadis juga, ya?” selorohnya dengan menggesekkan hidung pada indera penciuman Delavar.
“Aku sadis hanya untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi,” jelas Delavar. Dia memeluk Amartha hingga kepala wanita itu menempel pada dadanya.
“Kau manis sekali, Delavar. Aku jadi takut kehilanganmu,” tutur Amartha membalas pelukan Delavar dan menghirup aroma yang pasti akan menempel pada bajunya juga karena terlalu mahal parfume yang digunakan yaitu Clive Christian Imperial Majesty. Harganya saja bisa mencapai sepuluh tahun lebih dari gajinya saat menjadi sekretaris.
“Kau tidak akan pernah kehilangan aku, kecuali aku mati. Tapi percayalah, cinta ini akan tetap abadi.” Delavar mengecup puncak kepala Amartha. “Kau sudah memutuskan tanggal untuk kita menikah?” tanyanya kemudian.
Amartha mengangguk hingga kepalanya bergesekan dengan kaus Delavar. “Sudah.”
“Oke, besok kita bicarakan langsung dengan keluargaku. Pasti mereka senang mendengar berita baik ini,” ajak Delavar.
“Sudah, maaf harus menunggu lama karena pria itu harus mendapatkan perawatan setelah aku kuliti,” jawab Delavar beralasan. Padahal memang sengaja agar tak terlihat mengetahui seluk beluk Christoper. Bahkan dia tak menyebutkan nama si keparat itu.
Amartha langsung mengulas senyum. “Ayo kita kirimkan hadiah untuknya, pasti dia akan sangat senang bertemu anaknya,” ajaknya.
“Besok saja, ini sudah malam,” tolak Delavar yang enggan melepaskan pelukan hangat tersebut.
Amartha memanyunkan bibirnya, pura-pura merajuk. “Yasudah, besok saja,” cicitnya dengan suara lirih. Kembali lagi pada posisi awalnya, menatap ke layar televisi yang sedari tadi menyala.
Di balik punggung Amartha, Delavar diam-diam mengulas senyum. “Ayo, jika kau mau memberikan hadiah itu sekarang.” Akhirnya, dia pun menuruti permintaan Amartha. “Tapi dengan satu syarat.”
Amartha berpindah posisi menjadi duduk dan menatap Delavar. “Apa?”
“Biasa.” Hanya dengan satu kata dan alis yang naik turun pun Amartha otomatis paham dengan yang diminta oleh Delavar.
Tak perlu banyak bicara, Amartha langsung menyatukan bibirnya dengan Delavar. Tangan pria itu menarik pinggul sang wanita untuk kembali tidur di sisinya.
Delavar enggan menyudahi ciuman yang membuatnya ketagihan karena rasanya begitu manis. Sebab, dilakukan bersama orang yang dia cintai.