I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 43


Marvel membenarkan jika sekretarisnya baru. “Memangnya kenapa? Wajahmu terlihat kurang suka,” tanyanya.


“Lalu Amartha, di mana dia?” Delavar justru balik bertanya. Sial! Ini adalah pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulutnya.


Padahal Delavar tak ingin terlihat gagal mendekati mantan kekasih Marvel itu di hadapan sepupunya yang sudah pernah membuat hati wanitanya patah. Tapi apa boleh buat, jika dia tak bertanya maka jiwa keingintahuannya akan meronta-meronta. Harga dirinya seperti dikalahkan oleh sepupunya itu jika seperti ini, walaupun Marvel tak pernah mengungkit apa pun tentang dirinya yang mendekati Amartha.


“Tiga hari yang lalu dia resign,” ungkap Marvel.


“Apa alasannya? Kenapa kau menyetujui dia mengundurkan diri?” Delavar semakin menginterogasi sepupunya lebih detail lagi.


“Katanya dia sudah mendapatkan pekerjaan baru, dan tentu saja aku menyetujui surat pengunduran dirinya. Mungkin dia kurang nyaman bekerja dengan orang seperti aku yang sudah pernah mempermainkannya.”


“Di mana tempat kerja barunya?”


Marvel terlihat mengedikkan bahu. “Aku tak tahu.”


Delavar mengepalkan tangan, namun Marvel tak akan bisa melihat itu karena tertutup oleh pinggiran sofa. “Kenapa kau tak bertanya sedetail mungkin padanya?”


“Dia buru-buru ke toilet saat aku ingin bertanya, akhir-akhir ini sepertinya Amartha kurang sehat karena dia pernah muntah di lantai depan ruanganku,” jawab Marvel seraya menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu.


Delavar langsung berdiri meninggalkan sofa yang sudah tak terasa nyaman setelah mendengar kondisi Amartha yang baru saja dia ketahui. “Aku permisi,” pamitnya.


“Kau mau ke kantor?” Marvel mengajukan pertanyaan lagi sebelum tubuh Delavar menghilang dari pandangannya.


“Mencari Amartha!” jawab Delavar tanpa membalikkan tubuh.


Delavar pun meninggalkan ruangan Marvel. Dia mengesampingkan prinsip kerjanya yang tidak boleh terlambat hanya ingin memastikan keadaan wanitanya baik-baik saja.


Anak ketiga keluarga Dominique itu merasa bersalah karena hidup Amartha menjadi hancur dan sedingin kutub akibat dirinya. Kalau saja tak ada wanita segila Jessy dan Christoper dalam hidupnya, pasti Amartha tak akan menjadi wanita yang dingin dan menutup diri.


Delavar mencoba ke apartemen Amartha. Berkali-kali mengetuk pintu dan memencet bel agar wanita yang dia tunggu keluar.


Sudah berteriak seperti itu pun tetap saja Delavar tak dibukakan. Justru pintu di samping tempatnya berdiri saat ini yang menyembul keluar dan menatap sebal ke arahnya.


“Jangan berisik! Kau pikir ini bagunan apartemen milikmu!” tegur seorang wanita bertubuh gemuk yang merupakan tetangga Amartha.


Sorot mata Delavar menatap ke arah orang yang baru saja marah-marah dengannya. “Kau tahu ke mana pemilik apartemen ini?”


“Amartha?”


“Ya.”


“Dia sudah pindah dua hari yang lalu!”


“Kau tahu di mana tempat tinggalnya yang baru?”


“Mana ku tahu, aku bukan orang tuanya!” Setelah manjawab itu, dia masuk kembali.


Dan Delavar mengusap rambutnya kasar. Dia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Roxy.


“Ya, Tuan?” sapa Roxy yang sedang berada di markas Cosa Nostra.


“Tolong kau cari keberadaan Amartha Debora sampai dapat!” titah Delavar.


“Baik, Tuan. Anda ingin mendapatkan hasilnya kapan?”


“Malam ini juga!”


“Segera laksanakan!”


Panggilan keduanya pun terputus. Karena tak menemukan Amartha, Delavar pun memutuskan untuk berangkat ke kantor dengan hati yang tak tenang.