
Dokter Beverly masuk ke dalam ruangan di mana Amartha berada. Dia langsung bertanya bagaimana kondisi pasiennya.
“Dia kram, Dok,” ucap Delavar memberi tahu.
“Kram ringan atau sangat kuat?” tanya Dokter Beverly pada Amartha.
“Belum terlalu sakit,” jawab Amartha sembari berdesis.
“Nanti kramnya akan lebih sakit lagi saat dinding rahim dan embrio mulai meluruh. Jangan takut, memang itu adalah prosesnya,” tutur Dokter Beverly.
“Boleh aku minta wadah.” Permintaan Amartha itu membuat Delavar dan Dokter Beverly mengernyitkan dahi. Aneh-aneh saja.
“Untuk apa?”
“Aku ingin menampung bakal janinku sebagai kenang-kenangan,” jawab Amartha. Dia akan memberikan itu pada pria keparat yang menghamilinya.
Dokter Beverly hanya tersenyum. “Nanti akan ada gumpalan yang keluar, itu adalah embrio Anda. Jika memang ingin menjadikan kenang-kenangan, Anda bisa membawa itu saja, tidak perlu menampung darah yang keluar,” jelasnya.
Amartha dan Delavar pun ditinggal berdua lagi.
“Sakit sekali?” tanya Delavar saat melihat Amartha memejamkan mata, berdesis, dan menghembuskan napas kasar secara bersamaan.
Amartha mengangguk. “Seperti yang dikatakan dokter, kram ini semakin kuat.”
Delavar menciumi tangan Amartha yang menancapkan kuku di kulitnya. Sedangkan yang satunya dia gunakan untuk mengelus perut wanitanya. “Jika aku usap, apa masih sakit?”
“Masih.”
Delavar tak tahu lagi harus melakukan apa. Dia hanya bisa mengucapkan sabar karena bukan dirinya yang merasakan sakit itu.
“Aku merasakan ada yang keluar dari pangkal pahaku,” tutur Amartha.
Otomatis membuat Delavar ingin memastikan. Dan benar saja, ada cairan merah yang sudah membasahi kain. “Kau mulai pendarahan.”
“Apakah aku harus berdiri atau mengejan seperti orang melahirkan agar cepat keluar?” tanya Amartha.
“Boleh minta tolong?” pinta Amartha seraya menatap dengan mata sayu.
“Apa?”
“Tolong naikkan sedikit kasurnya, ini terlalu rendah.”
“Apa pun akan aku lakukan untukmu, Sayang.” Delavar mengulas senyumnya, memencet tombol yang menyatu dengan ranjang pasien tersebut.
Sudah enam jam berlalu, tapi Amartha hanya terus pendarahan. Dia tak merasakan ada gumpalan yang keluar. Bahkan sudah terasa lemas. Kain bahkan sudah diganti lagi karena pendarahan tak kunjung reda.
“Wajahmu pucat, Amartha,” tutur Delavar. Dia langsung memencet tombol memanggil dokter lagi.
Dokter Beverly segera mengecek pasiennya secara keseluruhan. “Ambilkan kantung darah golongan A!” titahnya dengan tegas pada perawat yang ikut dengannya.
“Dok, wanitaku kenapa?” tanya Delavar masih mencoba menenangkan diri. Tapi sepertinya ini sangat serius karena sampai membutuhkan kantung darah.
“Nona Amartha terlalu banyak mengeluarkan darah, Tuan. Untuk mencegah kekurangan darah yang bisa membahayakan nyawanya, saya akan melakukan injeksi,” jelas Dokter Beverly.
Delavar mengela napasnya, tak tahu jika akan sampai separah ini pendarahannya. Dia tetap mencoba terlihat tenang agar tak membuat Amartha panik.
Dokter pun memasang infus dan juga cairan darah pada tangan kanan dan kiri pasiennya. “Tolong lepaskan dalaman Nona Amartha agar saat embrio keluar tidak terhalang,” pintanya.
“Iya, Dok. Terima kasih atas bantuannya,” balas Delavar seraya mengulas senyumnya.
Setelah Dokter Beverly keluar, Delavar meminta izin terlebih dahulu. “Aku lepaskan pakaian dalammu, ya? Sesuai perintah dokter, atau kau ingin melakukan sendiri?”
Amartha sepertinya lemas sekali, wajahnya terlihat tak berdaya. “Tolong, kau saja,” jawabnya dengan suara lirih.
Delavar menggeser kursinya, menyibakkan rok berbahan kain selembut sutra yang menutupi paha Amartha. Jika melihat darah musuhnya biasa saja. Tapi lain hal saat melihat cairan merah itu keluar dari tubuh wanitanya, rasanya ngilu.
Tangan Delavar perlahan menarik kain tipis itu ke bawah, dia bisa melihat dengan jelas bagian inti dari Amartha yang sudah berwarna merah karena bercampur dengan darah.